Senin, 24 Januari 2011

Falsafah Jawa

Trimah mawi pasrah; suwung pamrih; tebih ajrih; langgeng tan ana susah, tan ana seneng; antheng, sugeng jeneng.

Artinya, menerima dengan tawakal; tiada pamrih; jauh dari takut; abadi tiada duka, tiada suka; tenang memusat, bahagia bertakhta. “Trimah mawi Pasrah”, menerima apa saja dengan penuh kepasrahan. Tidak sekedar menerima, tapi perlu ada kepasrahan. Untuk menghilangkan rasa takut, maka seseorang dianjurkan untuk mengosongkan hatinya dari pamrih.

”Langgeng tan ana susah tan ana seneng” dapat diterjemahkan “Keabadian yang tak diselimuti perasaan susah maupun senang”. Derita, kesedihan, dan kesusahan pun tak lagi ada. Begitu pun dengan perasaan senang, dalam hal ini pun dianggap tiada. “Antheng mantheng sugeng jeneng” lebih mengarah pada suasana batin yang selalu tenang, konsen, selamat dari kotoran-kotoran nafsu, dan kuat dari segala bentuk ujian dan cobaan. Ketenangan, kearifan, khusyu’ beribadah, terselamatkan dari godaan nafsu, dan kebahagiaan hidup di akhirat kelak adalah lebih baik dari setiap sesuatu di dunia yang baik.


Ajining dhiri saka kedaling lathi, ajining salira saka busana.


Artinya, nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya, nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya. Harga diri seseorang terletak pada ucapannya. bila kata-kata yang keluar dari mulutnya baik, maka ia pun akan dikatakan sebagai orang baik. Sebaliknya, bila ia menipu, maka ia pun akan dicap sebagai penipu. Setiap orang harus memahami konsep “ajining diri saka lathi”, yang artinya: harga diri seseorang itu dinilai dengan apa yang keluar dari lidahnya. Oleh karena itu, sebelum diucapkan, hendaknya kata-kata yang akan keluar dari mulut dipikirkan dengan masak-masak.
Sedangkan harga diri fisikal seseorang terletak pada busana dan ia berbusana itu. Semakin tinggi kelas sosial seseorang biasanya ia berpakaian yang lebih baik. Setiap orang harus memahami konsep “ajining sarira dumunung ing busana, yang artinya badan jasmani seseorang akan dihargai jika dibungkus dengan busana yang pantas. Cara berpakaian yang luwes akan membuat mudah bergaul dengan segala lapisan sosial.


Pakerti asor numusi anak putu lan mbekta kasengsarane tiyang katah.


Artinya, akhlak hina terwarisi anak cucu dan mendatangkan kesengsaraan orang banyak. Seorang lelaki, sebagai kepala keluarga, dan dalam sekian banyak tempat mempunyai banyak posisi, harus tahu bahwa perbuatan atau akhlak yang buruk dapat terwarisi oleh anak cucunya dan dapat mendatangkan kesengsaraan orang lain.

Oleh karena itu, orang jawa memperingatkan bangsanya untuk selalu menjaga budi pekerti, karena efek negatif dari akhlak tidak baik akan terbawa sampai anak cucunya dan juga akan menyengsarakan kalangan sosialnya.


Ngelmu iku kelakone kanthi laku, sanajan akeh ngelmune lamun ora digunakake, ngelmu iku tanpa guna.

Artinya, Ilmu itu terlaksananya dengan perbuatan, biarpun banyak ilmunya kalau tidak diamalkan dan tidak dipergunakan, ilmu itu tidak berguna. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.


Dadi manungso iku ora kena mentah mateng.


Artinya
, Menjadi manusia tidak boleh mentah matang. Setengah mentah setengah matang; melakukan pekerjaan belum selesai sudah ditinggal, tanggung. Luarnya matang dalamnya mentah. Ini adalah perilaku yang tidak baik, yang dicacat oleh orang jawa.


Melekaké wong picek


Artinya, Membuat orang buta bisa melihat. Memberi tahu orang lain yang tidak tahu; peduli dengan keberadaan orang lain; mengajari orang yang tidak bisa sama sekali.


Marga bener becik.


Artinya, Jalan benar baik. Tindakan yang benar akan membawa kebajikan; suatu kebenaran akan berdampak baik bagi pribadi maupun masyarakat. Kebecikan atau kebaikan disini mempunyai makna yang sangat luas, karena mencakup banyak hal, seperti nasib baik, hasil yang baik, laba yang baik, nilai yang positif, persahabatan yang baik, pengakuan yang baik, dll.


Ngelongana jiwa remana maha, ngimbuhana banyu karahayon.

Artinya, Hindarilah jiwa angkara murka, tambahilah air keselamatan. Manusia hidup didunia sudah seharusnya menghindari sifat angkara murka dan memperbanyak jalan menuju keselamatan dan kehormatan. Itu semua dilakukan guna mendapatkan kemuliaan dan keselamatan hidup.


Ngerti sadurunge winarah.

Artinya, Tahu sebelum diberi tahu. Berusaha untuk menjadi manusia yang tahu sebelum diberi tahu. Berusaha mencari pengetahuan sendiri dan tidak menggantungkan kepada orang lain. ini adalah upaya menciptakan kecerdasan dengan kemampuan sendiri; membudidayakan akal semaksimal mungkin; dan kritis terhadap setiap persoalan yang sedang terjadi.

*****

Jumat, 24 Desember 2010

Banyumas Nominasi 10 Besar Calon Ibu Kota Negara

PURWOKERTO - Kota Purwokerto masuk dalam daftar nominasi 10 besar calon ibu kota negara pengganti DKI Jakarta. Hal tersebut diungkapkan Bupati Mardjoko seusai rapat paripurna, kemarin.

Kepastian tersebut diperoleh Mardjoko disela-sela penerimaan penghargaan pembina karang taruna terbaik di Istana Presiden, beberapa waktu lalu. Mardjoko mengatakan, informasi tersebut disampaikan anggota tim observasi yang mengurusi permasalahan pemindahan ibu kota.

"Saya belum bisa mengatakan setuju jika benar-benar menjadi ibu kota negara, karena harus bicara dulu dengan anggota DPRD dan di dalam forum ini saya menginformasikan. Sebenarnya Purwokerto berada di urutan lima dari 10 nominasi yang diusulkan ke presiden," jelasnya saat mengakhiri pidato dalam rapat paripurna.

Dalam pertimbangan tim tersebut, Mardjoko mengemukakan ada beberapa alasan yang disampaikan kepadanya tentang wacana tersebut. Dia menyebutkan faktor geografis yang berada di tengah Pulau Jawa, jauh dari laut menjadi beberapa pertimbangan yang disebutkan anggota tim tersebut.

"Secara falsafah Jawa Purwokerto memenuhi syarat dilihat dari tata letak, karena letak kotanya berhadapan dengan laut dan membelakangi gunung. Selain itu juga, penyebaran penduduk di Kabupaten Banyumas yang merata di 27 kecamatan, serta sifat patrirotisme masyarakatnya," lanjutnya.
Konsekuensi Besar Mardjoko menambahkan alternatif Purwokerto menjadi ibu kota negara, tentunya masih banyak yang perlu didukung dalam infrastrukturnya. Dia juga menilai tentunya ada konsekuensi besar ketika Purwokerto menjadi ibu kota negara, seperti perpindahan penduduk besar-besaran dan juga permasalahan tata ruang kota yang perlu diperhatikan.

Wacana Purwokerto menjadi alternatif ibu kota negara menggantkan DKI Jakarta, beberapa waktu lalu pernah santer beredar. Pertimbangan untuk menjadikan sebagai ibu kota negara pun pernah dilontarkan saat Presiden RI pertama Soekarno berkuasa di zaman Orde Lama.

Kini, Purwokerto kembali menjadi nominasi calon ibu kota dengan beberapa pertimbangan. Selain itu beberapa kota di luar Pulau Jawa seperti Palangkaraya, Samarinda, dan Pontianak, juga masuk dalam nominasi tersebut.(K10-17)


*****


Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/12/22/133068/Banyumas-Nominasi-10-Besar-Calon-Ibu-Kota-Negara

EPIK BANYUMAS SEBAGAI SEJARAH

Epik Banyumas sebagai Sejarah

Oleh Teguh Trianton

Sejarah pendirian Kabupaten Banyumas dan sekitar (Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara) memiliki pertalian yang begitu erat.

Bahkan tak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Nama-nama tokoh epik di Banyumas memiliki narasi paralel dengan asal-usul dan tokoh epik di wilayah sekitar.

Sebut saja Raden Joko Kahiman, Banyak Catra, atau Kamandaka, Pule Bahas, Dewi Ciptarasa, Pasir Luhur, Kembang Wijaya Kusuma, Arsantaka, Tepus Rumput, Adipati Onje, atau Adipati Merden. Nama-nama itu terdapat dalam khasanah kearifan sejarah lokal Banyumas Raya.

Dalam banyak kisah (babad di Banyumas), nama-nama tersebut saling berkaitan.

Nama-nama itu sesungguhnya begitu lekat dengan narasi historis pendirian kabupaten-kabupaten di wilayah Eks-Karesidenan Banyumas.

Dan tentu saja sangat familiar bagi masyarakat Banyumas. Tapi tunggu dulu, sebab nyatanya nama tokoh epik tersebut ternyata menjadi sangat asing di telinga generasi muda dan pelajar Banyumas.

Mereka justru lebih familiar dengan tokoh-tokoh epik ilusif dari negeri seberang. Mereka lebih paham siapa Batman, Peter Parker, Clark Kent, Rambo, atau Harry Potter, Cinderela, atau Romeo-Juliet.

Yang tadi memang bukan tokoh epik nyata, melainkan tokoh dunia dongeng atau khayalan. Tapi popularitasnya melampaui tokoh-tokoh epik dalam negeri. Apalagi tokoh epik lokal Banyumas.
Kearifan Lokal Narasi sejarah pendirian Banyumas dan kabupaten di sekitar sangat panjang. Di Purbalingga terdapat tiga babad, yaitu Babad Onje, Babad Purbalingga, dan Babad Jambukarang.

Kemudian di Banyumas sendiri terdapat di Babad Pasir-Banyumas. Konse-kuensinya sejarah ini meninggalkan banyak tokoh yang namanya berkelindan dengan kelahiran Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.

Belajar sejarah, sebenarnya bukan sekadar mengingat nama, tempat atau angka tahun belaka. Sebab sejarah tidak hanya menyisakan kisah dan latar. Pada setiap sejarah atau kisah epik selalu meninggalkan ajaran tentang nilai-nilai moral, kearifan, religiusitas, bahkan falsafah hidup.

Yang terpenting dari belajar sejarah adalah bagaimana kita menjadi tahu dan mengenal jati diri. Sehingga kita tidak mudah tercerabut dari akar sejarah, tidak mudah terpengaruh gerusan budaya asing yang tidak sejalur dengan peradaban bangsa kita.

Sesungguhnya, pada sejarah berdirinya Banyumas terdapat banyak nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang layak dipelajari dan diteladani. Beberapa di antaranya adalah narasi epik Raden Joko Kahiman, Pule Bahas, epik Kerajan Pasir Luhur, kembang Wijaya Kusuma dan Nusa Kambangan.

Di Purbalingga terdapat epik Kiai Jambu Karang yang dimakam di petilasan Ardi Lawet Kecamatan Rembang, Raden Narasoma di petilasan Narasoma, Ki Arsantaka di Petilasan Arsantaka Kecamatan Purbalingga. Adipati Onje di Onje Kecamatan Mrebet dan Adipati Dipakusuma dan Tumenggung Dupayuda di Petilasan Giri Cendana, Kecamatan Bojongsari.

Kepahlawanan dan keluhuran budi sederet tokoh epik lokal tersebut, patut disejajarkan dengan tokoh-tokoh epik nasional. Namun selama ini, kearifan lokal yang merupakan warisan budaya tak benda (intangible asset) dari tokoh legenda ini tak pernah dikenalkan pada generasi muda.

Setali tiga uang, keberadaan artefak peninggalan sejarah bendawi (tangible asset) yang tersebar di wilayah Banyumas Raya juga tak dikenal oleh generasi muda.

Beberapa diantaranya berupa bangunan kuno seperti Masjid Kuning di Onje, tempat yang dianggap sakral seperti; Batu Tulis di Desa Cipaku Kecamatan Mrebet, Batu Lingga dan Gua Genteng di desa Candinata Kecamatan Kutasari, Sendang atau Petirtaan di Desa Semingkir, Kecamatan Kutasari.

Di Desa Kedungbenda Kecamatan Kemangkon terdapat Batu Lingga, Yoni dan Palus, di Kecamatan Karangjambu terdapat menhir dan punden berundak. Di Kecamatan Rembang terdapat monumen tempat lahir (MTL) Panglima Besar (Pangsar) Jendral Sudirman.
Kurikulum Di wilayah Banyumas Raya sesungguhnya terdapat banyak potensi potensi wisata edukasi dan budaya. Seperti museum uang, taman reptile dan insekta, taman biota air tawar dan taman buah-botani di Purbalingga. Ini semua dapat dijadikan media edukasi bidang sains.

Kemudian museum Prof Dr Soegarda Poerbakawatja, monumen tempat lahir (MTL) Pangsar Sudirman. Museum Soesilo Soedarman dan Benteng Pendem di Cilacap, belasan Candi dan situs bersejarah di Banjarnegara.

Nah, permasalahannya adalah keberadaan sumber-sumber belajar sejarah dan kearifan lokal tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh dunia pendidikan. Guru, sekolah dan dinas pendidikan belum memiliki iktikad baik untuk mengemas narasi-narasi epik lokal menjadi salah satu mata pelajaran yang penting dipelajari di dunia pendidikan formal.

Ada kegamangan dari stakeholders pendidikan untuk memasukan sejarah lokal menjadi bagian dari kurikulum pendidikan.

Ini terjadi karena KTSP belum dipahami secara holistik. Tafsir linier atas KTSP sebagai turunan KBK membuat guru sejarah dan dinas pendidikan sebagai kepanjangan tangan pemerintah lupa dengan potensi-potensi yang ada di depan mata. (35)

Teguh Trianton, staf edukatif SMK Widya Manggala Purbalingga, Pengurus Agupena Jawa Tengah, Aktif di Beranda Budaya (Banyumas)


*****


Sumber: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/26/77988/Epik.Banyumas.sebagai.Sejarah

Sabtu, 20 November 2010

68 Unit Motor untuk Petugas Lapangan KB Banyumas

PURWOKERTO--Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di Kabupaten Banyumas kembali menerima bantuan fasilitas. Setelah beberapa saat yang lalu mereka menerima bantuan laptop untuk memperlancar tugas-tugas di lapangan, kali ini 68 orang PLKB masing-masing menerima 1 unit sepeda motor. Penyerahan sepeda motor dilakukan secara simbolis kepada 8 orang PLKB, Sabtu (6/11) lalu di Pendopo Sipanji Kabupaten Banyumas, bersamaan dengan kegiatan Pencanangan Kesatuan Gerak PKK KB-Kesehatan Tingkat Kabupaten Banyumas Tahun 2010 oleh Wakil Bupati Banyumas, Ir. Achmad Husein. Hadir dalam acara tersebut antara lain Kepala BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Kepala BP3AKB Provinsi Jawa Tengah, Ketua DPRD Kabupaten Banyumas, Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto, para pejabat di lingkungan Pemkab Banyumas, dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banyumas.

Bersamaan dengan pencanangan tersebut juga dilakukan beberapa kegiatan, antara lain: penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) PIK Mahasiswa antara Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) dengan Kepala BKKBN Provinsi Jawa Tengah; penyerahan bantuan komputer untuk PIK Mahasiswa Youth Center UMP; penyerahan bantuan composter untuk Kelompok Bina Lingkungan Keluarga Desa Kembaran Kecamatan Kembaran; penyerahan bantuan mesin jahit untuk Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) Desa Somagede Kecamatan Somagede; display kegiatan PIK Remaja “Gibita” dan PIK Remaja “Berkibar” dari Kecamatan Baturraden, dan PIK Mahasiswa Youth Center UMP. Disamping itu, di tempat terpisah juga dilaksanakan pelayanan KB tubektomi/MOW kepada 22 akseptor dan KB implant kepada 250 akseptor di Rumah Sakit Wijayakusuma (DKT) Purwokerto, serta pelayanan KB implant kepada 150 akseptor di Rumah Sakit Amanah Wangon, bekerjasama dengan Pengurus Aisyiyah Cabang dan Ranting Banyumas.

Bupati Banyumas dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Wakil Bupati berharap, rangkaian kegiatan ini dapat mendorong peningkatan kinerja para petugas KB dan seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Banyumas dalam mensukseskan program KB. Bupati menjelaskan, pembangunan bidang kependudukan di Kabupaten Banyumas secara umum diarahkan pada pengembangan penduduk sebagai sumber daya manusia agar menjadi kekuatan pembangunan bangsa yang berkualitas dalam rangka mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera, adil dan merata, karena dengan terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya yang bermutu, maka agenda-agenda pembangunan, pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat akan meningkat. Salah satu upaya yang dilakukan Pemkab Banyumas adalah melalui program KB.

Sementara itu, Kepala Bapermas PKB Kabupaten Banyumas, Tjutjun Sunarti R. secara terpisah menjelaskan, pencapaian kinerja program pembangunan kependudukan, khususnya di bidang KB di Kabupaten Banyumas secara signifikan menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini tampak pada pencapaian peserta KB aktif yang sampai dengan akhir Bulan September 2010 telah mencapai 74,99 %, menunjukkan bahwa sebagian besar pasangan usia subur (PUS) di Kabupaten Banyumas sudah ber-KB.

Tentang keberhasilan program KB, Tjutjun juga menginformasikan, Kabupaten Banyumas telah berhasil meraih beberapa prestasi. Untuk tahun 2010 ini saja telah diraih beberapa prestasi dan penghargaan, antara lain : Juara I Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja Tahap Tegak Tingkat Nasional atas nama PIK Remaja “Gibita” Desa Rempoah Kecamatan Baturraden, Juara I Bina Keluarga Balita Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Juara I Akseptor Lestari 20 Tahun Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Juara II PPKBD Terbaik Tingkat Provinsi Jateng, Juara Ketiga Lomba PHB Kategori Desa, serta nominasi ke-4 Lomba Balita Sehat Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

*****


Sumber: http://www.jatengprov.go.id/?document_srl=12517