Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Agustus 2010

Musim Ramadhan "Bakoel Wédang" sajikan menu baru

Bosan dengan lokasi ngabuburit yang biasa-biasa saja atau anda tidak ingin terjebak macet di pusat keramaian, tidak ada salahnya anda menghabiskan waktu menunggu beduk berbuka puasa sembari browsing internet di Bakoel Wedang.

Café yang didirikan sejak 16 Mei 2008 tersebut, lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Purwokerto, tepatnya di Jalan Wiriatmaja atau lebih dikenal dengan sebutan jalan bank, suasana yang tenang dengan lingkungan yang cukup asri memang menjadi salah satu alasan si pemilik mendirikan tempat usaha di sana.

Cafe Bakul Wedang yang nyaman.

Asrul Tsany Mubarokah, pemilik Bakoel Wedang, kepada banyumasnews.com mengungkapkan selama bulan Ramadhan, pengunjung akan mendapatkan paket tajilan menjelang berbuka.

Dia mengungkapkan selama ini pengunjung terbanyak berasal dari kalangan mahasiswa, jikapun ada karyawan yang mampir, biasanya dari kalangan perbankan, karena lokasi café memang dekat dengan sejumlah bank seperti BTPN dan BRI.

“Kami justru belum mempersiapkan agenda kegiatan ramadhan kali ini, tahun lalu sebelum berbuka kami menggelar pertunjukkan musik,” jelas Asrul.

Asrul mengatakan sebelum membuka Bakoel Wedang, dia pernah membuka sebuah restoran makanan Eropa di lokasi yang sama, namun terpaksa ditutup, nama Bakoel Wedang kemudian dipilihnya dengan alasan menyesuaikan konsep usaha yang lebih merakyat.

“Saya rasa nama Bakoel Wedang tidak terlalu aneh, meski harga harga di sini murah namun tetap elegan, konsep awalnya memang meniru café-café yang sudah ada dan kemudian kami modifikasi sedemikian rupa termasuk menu minuman dan makanan,” kata Asrul menambahkan.

Bakoel Wedang menyediakan sejumlah minuman berbahan dasar kopi seperti kopi asli sepseial Sumatra Mandheling, Aceh Gayo, Java Arabica, Espresso Golden Crema serta Florest Arabica. Minuman yang terbilang khas seperti kopi toebroek, kopi susu, jahe, teh susu, teh hijau, teh strawberry, serta teh poci.

“Ada menu spesial di sini yaitu delicious bewe, yaitu potongan daging sapi dengan saos spesial disajikan dengan nasi mentega, selain itu ada menu cemilan yang sangat diminati pengunjung yakni chicken piccata dan Banyoemas Nyoss, isinya berupa mendoan, tahu serta pisang goreng hangat dengan rasa nyoss,” ujar Asrul.

Keunggulan Bakoel Wedang lainnya menurut Asrul adalah pengolahan beef tenderloin steak dan sirloin steak yang tidak asal asalan dan sesuai kaidah pembuatan steak yang benar, rasanya menurut Asrul tidak jauh berbeda dengan steak buatan restoran mahal.

“Kami juga baru saja membuat menu cheese ice cream yaitu es krim hasil perpaduan keju dan cokelat yang disajikan dengan roti, sedangkan menu lainnya, berry berry nice, merupakan es krim dengan irisan buah peach, bagi pengunjung tentu tidak perlu memesan seluruh menu, cukup memesan minuman bisa mengakses internet gratis” kata dia berpromosi.

Pada akhir wawancara Asrul mengatakan Bakoel Wedang akan menggelar sejumlah kegiatan regular serta akan menyajikan sesuatu yang berbeda bagi bagi pengunjung, anda berminat, tunggu apa lagi.

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/08/21/musim-ramadhan-bakoel-wedang-sajikan-menu-baru/

"Bamboe Asrie" menawarkan suasana asri untuk berbuka puasa

Menunggu beduk tanda berbuka puasa, sembari memandang hamparan sawah nan asri atau memandang ikan yang menari lincah di dalam kolam, tentu menjadi sebuah momen langka bagi masyarakat perkotaan.



Namun semua suasana yang begitu romantis tersebut masih bisa Anda dapatkan kala mengunjungi rumah makan Bamboe Asrie yang terletak di Jalan Dr Gumbreg 61 A Purwokerto atau tepat di sebelah timur RSUD Margono.
Kiki Indrawan, manajer operasional Bamboe Asrie, kepada banyumasnews.com mengungkapkan selama Ramadhan, rumah makan yang berdiri sejak 2 Juli 2006 tersebut memberikan setiap pengunjung tajil gratis berupa kolak, es campur, dawet ayu, serta minuman khas Banyumasan lainnya.
Restoran milik Fifin Nuri Endarti SH dan Hastoro Yudo Prayitno tersebut, juga telah menyiapkan sejumlah menu yang harganya terjangkau oleh masyarakat luas, yang diberi nama Pahe Ramadhan.

Keasrian dan kenyamanan juga jadi andalan.

“Ada dua yakni Pahe Ramadhan perorangan dan menu pesanan paket Ramadhan. Jadi bagi siapa saja yang memesan 10 paket akan mendapatkan gratis satu paket, semisal pengunjung kurang puas dengen menu yang kami siapkan, bisa ganti dengan menu harian reguler,” jelasnya.

Salah satu sudut asri Bamboe Asrie.

Saat banyumasnews.com membuka daftar harga yang disodorkan Kiki Indrawan, paketnya benar-benar terbilang hemat dan bagkan masih terjangkau oleh kantung mahasiswa. Pahe A yang berisikan nasi putih, telur balado cap cay serta jeruk (es/hangat) misalnya hanya dipatok Rp 7.000.
Atau Anda ingin menu yang sedikit berbobot bisa memilih paket hemat D yang isinya nasi putih, ayam bakar atau goreng, sayur asam serta teh tarikh yang disajikan hangat atau menggunakan es seharga Rp 9.000.
“Menu spesial andalan kami dan paling banyak dipesan adalah gurame bakar dan gurame goreng bumbu asam manis, serta es Bamboe Asrie yakni serutan buah melon atau bisa juga blewah yang dicampur dengan selasih, sirup, susu serta es,” imbuh Kiki.

Arena pancingan.


Pertemuan

Selain menu-menu yang menggiurkan lidah, restoran tersebut juga bisa digunakan sebagai tempat pertemuan, seminar, acara pernikahan, atau ulang tahun.
Menurut Kiki, pengunjung yang menggunakan ruangan di Bamboe Asrie akan mendapatkan sound system, dekorasi ruangan yang semuanya gratis, ditambah bonus tidak dibatasinya waktu penyelenggaraan kegiatan. Fasilitas lainnya berupa taman bermain dan kolam pemancingan.

Fasilitas bermain Bamboe Asrie.

“Selama Ramadahan, kami akan buka sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Pengunjung juga bisa memancing di sini dengan sewa alat pancing Rp 1.000. Jika ikan tertangkap bisa langsung diolah dengan charge bumbu Rp. 10.000. Ikan tangkapan juga bisa dibawa pulang. Untuk muajir atau nila harga per kilogram Rp 14.000 sementara gurame kami patok Rp 30.000 per kilogram. Kami juga menerima pesanan catering,” jelasnya.

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/08/22/bamboe-asrie-menawarkan-suasana-asri-untuk-berbuka-puasa/

"Waroeng Ndeso" tawarkan suasana pedesaan nan alami

UNIK dengan suasana pedesaan Jawa yang sangat kental, begitulah kesan yang ditangkap tim banyumasnews.com kala melangkahkan kaki memasuki pelataran Waroeng Ndeso yang terletak di jalan Baturaden km 10 Rempoah, Purwokerto.

Bangunan-bangunan berbentuk joglo, pepohonan, ikan yang menari lincah di kolam, menyapa mata ini yang telah penat dengan sketsa ruwetnya pemandangan gedung-gedung di pusat kota.

Warung Ndeso dengan ruangan yang asri (foto:lin/BNC)

Pengelola benar benar memperhatikan harmonisasi alam dengan tiap bangunan yang ada, begitu natural, mengingatkan penulis akan suasana di Kampung Naga yang sangat teratur namun tidak meninggalkan sisi artistic.

Restoran milik Hj.Hartati,Bsc tersebut selain menyajikan pemandangan alam yang eksotis, juga memiliki menu-menu makanan tradisional seperti ayam baker spesial sari kelapa, singkong goreng yang dipadukan dengan bumbu barbeque, ceker kecap lada hitam.

Ada pula menu yang diberi dengan nama unik seperti oseng legit numani, wedang jahe ublek ublek kopyor, meski tradisional, Waroeng Ndeso juga menyediakan sejumlah makanan asal Eropa, seperti steak, beef maupun spaghetti.

Menurut salah seorang staf bernama Titin, nama Waroeng Ndeso sengaja dipilih karena suasananya memang mirip dengan suasana pedesaan, dari jalannya yang naik turun, bangunan-bangunan yang terbuat dan kayu, dan tiga sungai kecil yang membelah lokasi itu.

Warung Ndeso dengan ruangan yang asri (foto:lin/BNC)

“Bahkan suasana desa juga terbawa hingga proses penyajian makanan, nasi kami masak di tungku, piring makan terbuat dari tembikar, alas masakan yang akan disajikan dari anyaman daun pohon aren, bahkan cara memasak sejumlah menu juga menggunakan peralatan tradisional, di sini bahan bahan olahan daging tidak di masak menggunakan oven melainkan alat seperti pemanggang sate,” ujar Titin.

Titin bercerita selama bulan Ramdhan, Waroeng Ndeso juga telah menyiapkan satu program yaitu buka puasa diskon 20 persen, serta menu paket super hemat, dengan uang Rp. 7.150 pengunjung bisa menikmati satu di antara 12 paket yang telah disiapkan.

Saat memesan menu paket satu misalnya, anda sudah bisa menikmati buka puasa dengan nasi putih, ayam goreng tepung, sambal bajak, timun, maupun es seperti es the, es asem atau es jeruk sirup.

Da juga menu paket yang menyajikan menu cukup unik yakni menu paket 10 dan menu paket 11, karena selain mendapat nasi putih anda juga akan mendapat lauk pauk seperti jamur tepung dan urapan maupun sate tahu dan pecel.

“Selama ramadhan kami buka dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 22.00 WIB, kalau menu favorit di sini ada dua yaitu gurameh bakar dan ayam bakar spesial, total menu di sini mencapai 300 dan setiap tiga atau empat bulan sekali ada seleksi menu-menu yang kurang diminati, kemudian kami ganti dengan menu baru,” ungkap Titin menjelaskan.

Ruangan yang ditata penuh artistik (foto:lin/BNC)


Bisa digunakan sebagai tempat pernikahan

Waroeng Ndeso menurutnya juga bisa digunakan sebagai tempat penyelenggaraan pesta pernikahan, dengan biaya Rp 5 juta anda sudah mendapatkan fasilitas berupa sound sistem, prasmanan, foto dan dekorasi.

Setiap malam di lokasi tersebut juga digelar live music, dan gratis bagi siapa saja yang ingin menyaksikan. Di bagian atas bagi yang memiliki hobi bernyanyi bisa berkaraoke, jangan khawatir karena lokasinya terbuka. Jika anda penasaran,datng saja ke Warung Ndeso.

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/08/24/waroeng-ndeso-tawarkan-suasana-pedesaan-nan-alami/

Sate biawak tingkatkan gairah sex dan obat kulit

APAKAH anda termasuk orang yang merasa geli jika melihat hewan biawak. Ternyata reptil mirip Komodo yang sudah sulit ditemui ini memiliki rasa yang enak dan berkhasiat sebagai obat. Di Banyumas Jateng, masakan sate biawak disukai karena bisa meningkatkan vitalitas pria dan menyembuhkan penyakit kulit.


Tampang hewan ini memang menyeramkan. dengan lidah yang kerap menjulur, hewan ini memang sebagian dari spesies purbayang tersisa. Namun, kini keberadaannya selalu diburu untuk dimanfaatkan dagingnya karena berkhasiat. Habitatnya adalah sungai dan di rawa-rawa.


Bagian yang diambil dari biawak adalah dagingnya. Sebelum dikuliti, biawak disembelih. Tapi menyembelih biawak tidakseperti menyembelih hewan ternak pada umumnya. Menyembelih biawak dilakukan dengan dua batang lidi sepanjang sekitar 30 centimeter yang ditusukan ke hidung. Hanya dengan itu, biawak akan mati.

Setelah mati, biawak digantung untuk dikuliti. tidak mudah menguliti biawak karena kulitnya tergolong liat. Dagingnya yang bertekstur lembut kemudian dipotong potong siap disate.

Endah dan Tasim, suami-istri ini sudah lebih dari 7 tahun menjual sate biawak. Endah mengaku memiliki bumbu khusus agar rasa sate biawak tidak terasa amis. sedangkan cara mengolahnya sama seperti mengolah sate ayam atau kambing.

Kiosnya di depan Mapolsek Ajibarang Banyumas tiap hari hampir tak pernah sepi. Mereka bukan saja warga Banyumas, tetapi luar kota yang sengaja mencicipi sate biawak. sebagian besar pembeli adalah kaum lelaki yang ingin
memelihara vitalitas.


Jika sudah berada di atas piring, dicampur bumbu kecap, cabai, bawang dan tomat memang tak terbayang bagaimana wujud asalnya. Selain sate biawak, Endah juga menjual masakan dari daging ular, mulai dari ular sawah hingga king-kobra tersedia. jika anda tertarik untuk mencicipinya? silakan datang saja ke warung sate biawak Ajibarang.(sumber:indosiar/nanang anna noor/BNC)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/09/21/sate-biawak-tingkatkan-gairah-sex-dan-obat-kulit/

Sekilas wajah Mina Wisata , Baturaden - Purwokerto

Balai benih ikan air tawar RM Mina Wisata.


Salah satu gazebo RM Mina Wisata. Tempat rehat yang nyaman.


Lokasi RM di Jl Raya Purwokerto-Baturaden.


Kolam tempat pemeliharaan ikan sebagai supply kebutuhan rumah makan, berada dalam satu lokasi.


Halaman luas untuk kenyamanan parkir kendaraan tamu.


Tempat makan panggung, nyaman asri di permukaan atas air.


Bupati Banyumas Mardjoko Kamis (9/7) sekitar pukul 11.30 meresmikan pembukaan rumah makan Mina Wisata yang ditandai dengan pemukulan gong dan penaburan benih ikan di kolam yang terletak di lokasi yang disebut Kawasan Mina Wisata.

Kawasan yang berlokasi di Jl Raya Purwokerto- Baturaden, Desa Pandak Kecamatan Baturaden Kabupaten Banyumas ini ke depan tidak hanya menyuguhkan kuliner dengan sajian aneka olahan ikan tawar, namun akan dijadikan kawasan terpadu berupa tempat pembenihan ikan, wisata pendidikan perikanan, pasar ikan lokal, pusat oleh-oleh khas Banyumas, arena pemancingan dan arena bermain.
Rumah makan Mina Wisata benar-benar berdiri di atas air, yaitu di bawahnya adalah kolam ikan, dan di atasnya bengunan full bambu baik lantai, dinding, maupun tiang-tiang penyangganya. Atap menggunakan ilalang sehingga kesan menyatu dengan alam sangat terasa.

Di sekeliling bangunan utama rumah makan yang bisa dipakai sebagai convention, tempat meeting dan resepsi pernikahan ini dibiarkan setengah terbuka, sehingga semilir angin dari lereng gunung Slamet sangat terasa. Bahan bangunan dari bambu wulung menambah segar dan sejuk suasana, sekalipun di siang hari.

Menurut Arifin, Manager Mina Wisata, menu andalan rumah makan ini adalah lembutan (ikan tawar kecil-kecil yang digoreng kering sehingga gurih), sup gurame, dan aneka olahan berbasis ikan tawar lainnya. “Komitmen kami adalah memaksimalkan potensi wisata yang sangat besar di Banyumas, dipadukan dengan kuliner ikan tawar yang supply-nya melimpah di sini,” sambung Arifin yang sudah 18 tahun malang melintang di bidang pengembangan kuliner di Banyumas.

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/07/09/sekilas-wajah-mina-wisata/

Purwokerto, dari Sayur Keong hingga Roti Kebo

Bagi petani, keong sering kali menjadi momok karena keberadaannya menjadi hama tanaman padi. Namun di Purwokerto, keong justru bisa dimasak dan dinikmati layaknya masakan biasa. Bahkan banyak orang rela antre untuk mendapakan seporsi keong yang sudah dimasak dengan kuah ini. Jika ke Purwokerto, jangan lupa mampir di kedai sayur keong milik Bapak Chamlany (47).

Suami Kusnani (43) ini khusus berjualan sayur keong sejak 10 tahun lalu. Keong yang diolah Lany adalah keong sawah. Sebelum diolah, cangkang keong dipecahkan untuk membuang kotorannya. Setelah itu keong direndam selama satu malam.


Keesokan harinya, Lany meramu bumbu yang terdiri dari cabai, kunyit, bawang merah, bawang putih, kemiri, dan aneka rempah termasuk jahe. “Mirip seperti bikin bumbu rica-rica,” imbuhnya. Setelah itu, keong yang sudah direndam dicuci bersih dan dimasak bersama bumbu selama 4 jam agar meresap.


Sayur Keong


Dalam satu hari, Lany memasak sekitar 100 kilogram keong yang hanya bertahan selama 2 jam saja. Mulai pukul 10.00 WIB, pembeli sudah antre di rumah makan yang terletak di Jalan Kauman Lama nomor 31 Purwokerto Utara. Tak sampai pukul 12.00 siang, keong biasanya sudah ludes. Harga seporsi keong ini Rp 4.000.

Tak jarang orang membeli dalam jumlah kiloan. Lany menjualnya Rp 15.000 per kilogram. Keong yang langsung dimakan di tempat disajikan bersama tusuk gigi. Fungsinya untuk mencungkil bagian daging keong agar bisa diseruput langsung dari cangkangnya. Keong ini jarang disantap dengan nasi.

Biasanya, pembeli menikmati sebagai camilan atau bukan dijadikan sebagai lauk. Rasa sayur keong ini pedas dan gurih. Lany sendiri tak menyangka respons yang luar biasa terhadap keong buatannya melejitkan usahanya sampai membuat pelanggannya banyak yang rela datang dari Yogyakarta bahkan Jakarta.

“Awalnya saya hanya suka main di sawah dan sering lihat keong,” ujar Lany. Ternyata saat coba-coba memasak keong, kok malah enak, katanya. Keong yang diolah Lany didatangkan langsung dari Demak. Konon, menurut para peneliti keong banyak mengandung protein yang dibutuhkan tubuh.


Sate Ayam Martawi

Sate ayam mungkin rasanya sama saja, di mana pun Anda menikmatinya. Anggapan demikian bisa jadi salah jika sempat singgah di rumah makan Sate Ayam Martawi milik Bapak Suhardi Baedowi. Sate ayam martawi ini bisa jadi sate ayam tertua di Cilacap, tempat asal-muasal rumah makan ini berdiri. Mbah Martawi, sang pendiri, sudah menjual sate bikinannya sejak tahun 1923.

“Kini diteruskan oleh generasi ketiga,” ujar Suhardi. Selain nikmat, sate ayam ini punya keunikan. Yakni pada setiap sate, masing-masing dibuat dengan dua tusukan sehingga saat dibakar sate bisa dilebarkan atau merenggang.

“Tujuannya agar sate matang hingga ke bagian dalamnya,” tutur cucu Haji Martawi (almarhum ) ini panjang lebar. Karena satu ini dibuat dari ayam kampung, makanya proses pembakarannya pun istimewa, lebih lama agar matang sempurna, tandas Suhardi. Itu pula alasan Mbah Martawi membuat satenya dengan dua tusukan.

Meski disajikan dengan bumbu kacang dan kecap manis, sate martawi ini sudah lezat di santap meski tanpa bumbu. karena, saat dibakar, sate sudah direndam di dalam bumbu terlebih dahulu. Jika memesan seporsi sate, akan terhidang irisan lontong, sate, bumbu kacang dan semangkuk kuah opor ayam.

“Sajian lengkapnya, sate dimakan juga dengan kuah opor ayam,” tandas Suhardi. Setiap tusuk sate harganya Rp 1000. Biasnaya per porsi berisi 10 tusuk. Sedangkan lontongnya Rp 2000.

Jika ingin menyantap opor ayamnya, Anda harus merogoh kocek sekitar Rp 8000. Selain daging ayam, ada pula sate kulit yang isinya diselipi ati ayam juga. Harganya sama dengan sate daging. Dalam satu hari, Suhardi bisa menghabiskan sekitar seribu tusuk sate. Rumah makan sate Martawi ini punya 5 cabang di kota Cilacap.

Sementara di Purwokerto, sate martawi bisa ditemu di jalan Kolonel Sugiono Nomor 54B. Datang saja antara pukul 09.00 WIB sampai pukul 21.30 WIB, dijamin Anda bisa menikmati sajian sate ayam kampung yang istimewa ini.


Lesehan Super Sambal

Bagi masyarakat Indonesia meyakini bahwa menikmati makanan tanpa sambal rasanya seperti menyantap makanan yang serba “kurang”. Apalagi bagi penyuka rasa pedas, sambal menjadi satu menu yang wajib hadir saat makan tiba. Di Purwokerto, ada kedai lesehan yang khusus menyediakan menu utamanya sambal, sebagai lauk untuk disantap bersama nasi. Namanya Lesehan Super Sambal.

Pemiliknya, Wawan (25), membuat sambal dalam berbagai jenis pilihan. Sambalnya khusus dibuat Wawan agar bisa langsung disantap dengan nasi tanpa cocolan atau lauk lagi. Ada sambal teri, sambal tongkol, dan sambal rempelo ati.

Untuk sambal teri, yang dipakai adalah jenis teri yang berukuran besar, yang sebelumnya digoreng terlebih dahulu. Lalu teri dicampur dengan sambal di atas cobek dan disajikan dengan lalapan. Jenis sambalnya adalah sambal terasi matang yang pedasnya “hot”. Sementara sambal tongkol, sebelum dicampur dengan sambal, tongkolnya digoreng lalu disuwir-suwir.

Demikian halnya untuk sambal ati ampela, sebelumnya, baik ati maupun ampelanya diiris kecil-kecil. Harga setiap jenis sambal Rp 1500. Biasanya, pembeli langsung membeli ketiga jenis sambal sekaligus. “Ide ini saya dapati karena dulu kuliah di Yogyakarta, ada sebuah kedai yang sajikan menu sambal pedas yang dicampur dengan lauknya sekaligus,” ungkap Wawan.

Jika datang kesini, selain sambal yang bisa langsung dinikmati dengan nasi hangat, ada lumpia super besar yang merupakan sajian khas dari kedai Wawan ini. Lumpia sepanjang 25 sentimeter ini diameternya hampir 5 sentimeter.

Tak heran, karena lumpia ini dilapisi telur, kulit lumpia dan terakhir tepung terigu. Lumpia berisi wortel, irisan daun bawang, daging ayam yang disuwir, dan digulung di dalam telur dadar. Setelah itu, lumpia digulung kembali dengan kulit lumpia.

Setiap pembeli yang memesan lumpia ini, Wawan akan menggoreng kembali lumpia ini setelah dicelupkan ke dalam adonan tepung terigu yang sudah diberi air dan bumbu. Hasilnya?Lumpia tampil krispi dan rasanya gurih. Harga lumpia ini Rp 4000 per buahnya. Tak hanya lumpia, Wawan juga menyediakan ayam, usus, tempe dan tahu yang semuanya sudah diungkep bumbu.

Namun ciri khas sajian ini, adalah semua lauk digoreng kembali di dalam balutan tepung sebelum disajikan, sama persis seperti lumpia tadi. Hasilnya, semua lauk sangat garing dan gurih. Semua harga lauk ini berkisar antara Rp 2500 sampai Rp 5000. Jika ingin datang ke kedai ini, waktu terbaik adalah sore menjelang malam hari.

Sekitar pukul 17.30 WIB, kedai wawan yang terletak di pertigaan Glempang,sudah buka. Wawan yang menghabiskan sekitar 40 kilogram beras dan 200 buah lumpia biasanya sudah menutup kedai pukul 22.00 WIB. Jika kehabisan, bisa mencoba dua cabang lainnya, di depan lapangan Sumampir Jalan Riyanto atau di jalan Kampus, sebelum pertigaan Grendeng, persis di depan warnet Kenanga.


Bebek Bakar Sambal Hijau “UNYIL”

Di Purwokerto, pedagang makanan justru banyak bermunculan kala malam hari. Salah satu tempat makan paling laris di kota ini, adalah kedai Unyil, yang terkenal dengan sajian bebek gorengnya. Pendiri kedai ini adalah Bapak Khairun (almarhum), yang sudah ada sejak tahun 1990.

Bebek goreng buatan bapak dua ini bisa diterima lidah pelanggannya karena bumbunya yang meresap hingga ke bagian tulang. Kedai yang kini dijalankan oleh Ibu Herliawahyuni, sang istri, bisa menghabiskan sekitar 20 ekor bebek dalam semalam. Sebelum digoreng, bebek yang dimasak adalah bebek yang dibeli dalam keadaan hidup.

“Kami potong sendiri,” ujar Herlia, sapaan akrab perempuan ini. Bebek lalu di cuci bersih dan ungkep dalam bumbu super komplit hingga kurang lebih 6 jam, sampai betul-betul empuk. Setiap hari, Herlia mulai meracik bebek ini dari pukul 6.00 WIB pagi sampai pukul 14.00 WIB. “Masak bebek tidak mudah,” paparnya. Harus telaten dan tak boleh bau anyir, tandasnya.

Bebek yang sudah siap digoreng, lalu dibawa ke lokasi berjualan, di Jalan Pramuka, tepat di belakang pasar Situmpur Purwokerto. Keistimewaan bebek di kedai ini adalah sandingan sambal yang luiar biasa lezat. Sampai-sampai, kalangan ekspatriat pun ketagihan dengan sambal ciptaan Khairun ini.

Bebek yang disajikan dalam cobek dari tanah liat ini, disandingkan dengan sambal hijau yang dibuat dari cabai hijau keriting, cabai rawit, bawang putih, tomat dan sedikit terasi. Semua bahan ini digoreng terlebih dahulu sebelum diulek. Sambal inilah yang konon membuat kedai Unyil jadi amat populer di Purwokerto. Bisa dibilang kedai ini merupakan pelopor sambal hijau pertama di Purwokerto.

Di atas meja, deretan lalapan, mulai dari irisan tomat, kol, seladam daun singkong dan daun pepaya rebus, leunca, terung hijau, sampai petai tersedia. Setiap pembeli bebas mengambil nasi hangat sendiri yang sudah disediakan di atas meja. Harga seporsi bebek Rp 9000.

Selain bebek goreng, ada pula bebek bakar yang disajikan dengan bumbu kecap yang lezat. Tak lupa sambal hijau andalan juga ikut disandingkan. Menu lainnya, ada pilihan burung dara, ayam goreng kampung, tempa, tahu, dan lele goreng.

Harganya berkisar antara Rp 1500 sampai Rp 10000. Kedai yang buka mulai pukul 17.00 WIB ini baru tutup saat tengah malam menjelang.


Nasi Tim Jakarta

Pada pagi hari, Anda bisa mencari sarapan lezat di kota ini. Ada bubur ayam atau nasi tim merah dan putih. Penasaran bukan? Satu-satunya penjual nasi tim di kota ini bisa ditemui di jalan Overste Isdiman. Jika datang dari arah pusat kota, kedai bubur ini ada di sebelah kanan jalan, dengan ciri spanduk putih bertuliskan bubur ayam Jakarta.

Kedai yang berdiri sejak tahun 1992 ini cukup terkenal di kalangan menengah atas. Karena selain sajian bubur ayam, justru kedai ini terkenal dengan menu nasi tim. Bisa dibilang, Maria (56), pemilik kedai ini menjual nasi tim pertama di Purwokerto.

“Tidak ada kan nasi tim yang dijual di pinggir jalan begini,” tandas ibu dari 5 anak ini. Nasi tim yang akan disajikan, disimpannya dalam sebuah panci besar. Nasi timnya ia cetak dalam mangkuk dan ditaru telungkup. Pancinya sendiri ditaruh di atas api agar nasi tim selalu hangat.

Ada 2 pilihan nasi tim yang dijual istri Bapak Irawan (53) ini. Setiap cetakan nasi tim, sudah lengkap berisi cincangan daging ayam, pala, merica, bawang goreng, bawang daun, garam dan telur. Jadi kalau pembeli datang, Maria tingal menaruk terbalik mangkuk nasi tim dan mengangkat cetakannya saja. Nasi tim putih, adalah nasi tim yang asin, dimana sajian ayamnya berwarna putih dan dibuat tanpa kecap.

Sedangkan untuk nasi tim merah, Maria membuat ayamnya dengan tambahan kecap. “Jadi seperti mi, ada yamin asin dan manis, nasi tim juga saya buat demikian,” tandasnya. Setiap sajian nasi tim, dilengkapi dengan satu butir telur lo atau telur yang dimasak kecap. Lalu disantap dengan semangkuk kuah kaldu dan kerupuk aci. Nasi tim merah harganya Rp 5000, dan Rp 6000 untuk nasi tim putih.

Nama nasi tim merah dan putih ini, diberikan oleh banyak pelanggan Maria yang saban hari makan di sini. “Biar mudah saja membedakannya, ujar Maria yang tiap pagi berjualan mulai pukul 06.00 WIB ini. Jika datang ke sini, jangan lebih dari pukul 10.00 WIB. Karena biasanya, nasi tim sudah ludes.

Banyaknya pelanggan Maria yang datang dari luar kota, membuat nasi tim ini kerap dibawa hingga dijadikan oleh-oleh atau “teman” sarapan dalam perjalanan. Biasanya, Maria memberi tips bagi semua pelanggannya, untuk menyimpan dan membawa nasi tim ini dalam wadah yang agak terbuka. Agar uap nasi tidak jatuh ke dalam lagi.”Biasanya uap ini yang bisa bikin nasi tim jadi cepat basi,” tandasnya. Nasi tim juga bisa disimpan di kulkas, lalu dikukus kurang lebih 30 menit jika akan disantap.


Ayam ‘ndadak Baturaden

Purwokerto memiliki kawasan wisata yang terkenal, bernama Baturaden. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari pusat kota, menuju arah Gunung Slamet, di sebelah utara Purwokerto. Jika datang ke sini, jangan lupa coba cicipi ayam goreng yang langsung dibuat mendadak kala pesanan datang. Namanya rumah makan ayam “N’dadak”.Maksudnya, ndadak motong, ndadak goreng, dan ndadak bikin sambal,” ujar Ibu Patin (50) pemilik rumah makan ini.

Jika datang kesini, cukup jadikan terminal baturaden sebagai patokan. Sekitar 200 meter ke arah utara, ada sebuah ruma kayu berwarna hijau, yang kerap jadi tempat makan paling digemari di sini. Meski tanpa plang maupun spanduk, bertanya pada warga sekitar bisa jadi pilihan jika tersasar. “Semua orang pasti tahu,” ujar ibu dua anak ini sambil tertawa.

Ide menjual ayam ‘ndadak ini, awalnya di tahun 1981, saat Baturaden mulai banyak dikunjungi wisatawan untuk berlibur. Karena letak kawasan ii di kaki gunung Slamet yang dingin, makan masakan yang pas, pastilah yang fresh dan hangat, terang Ibu Patin. Oleh karena itu, ia pun lantas berpikir untuk menjual masakan yang bisa disantap hangat-hangat pula.

Sebetulnya yang dibuat Patin sederhana saja, hanya ayam goreng dan sambal cobek yang disantap dengan nasi hangat dan lalapan segar. Namun kalau jadi demikian laris, tak lain karena ada Patin demikian ramah pada para pelanggannya. Untuk menyantap sajian ini pun, Patin membiarkan seluruh bagian rumahnya mulai dari ruang tamu hingga ruang tengah menjadi tempat makan.

Di atas bangku dan meja kayu, situasdi pedesaan akan langsung terasa jika datang ke sini. Pertama, Patin tak pernah bertanya apa yang diinginkan pembeli, pasalnya, hanya ada satu menu saja yang dijual ibu berbadan tinggi ini. Kedua, meski dibuat Ndadak, jika pembeli sedang banyak-bvanyaknya, Patin biasanya sudah menyiapkan ayam yang sudah diungkep bumbu ini untuk siap digoreng.

“Soalnya kalau pembeli lagi banyak, saya sudah siapkan ayam yang siap digoreng,” jelasnya. Ayam yang dibuat Patin, hanya ayam kampung. Setelah dicuci bersih, ayam potong dan diungkep dengan kunyit, salam, sereh, jahe, bawang putih, kemiri, ketumbar dan kunyit.

Lalu Patin memasaknya di dalam panci yang dimasak di atas tungku batu. Biasanya masyarakat Jawa Tengah menyebutnya pawon. Setelah empuk, ayam siap digoreng. Sambil menunggu ayam digoreng, biasanya Pati menyiapkan sambal ndadak yang dibuatnya dari cabe merah gula merah, bawang putih, terasi dan sedikti garam. Setelah diulek di atas cobek, Patin akan menyiramkan sedikit minyak jelantah dari penggorengan ayam.

Aromanya?Sangat menggiurkan. Ayam disajikan dalam piring, dan bisa disantap sesuai selera. Setiap potong ayam harganya Rp 4000. Pembeli cukup membayar berdasarkan potongan ayam yang disantap. Sementara nasi, sambal dan lalapannya, dijual per paket, Rp 2000. “Ayamnya saya hitung dari yang tersisa di piring saja,” tandas patin. Jika datang berdua, biasanya Patin memnyajikan sekitar 6 sampai 8 potong ayam. Satu orang, tak terasa bisa menghabiskan sekitar 3 potong ayam sekali makan, terang Patin.


Roti Mendoan

Di Purwokerto, tempe mendoan adalah salah satu jajanan khas yang tak boleh dilewatkan. Namun saking banyaknya penjual kudapan khas ini, membuat sajian ini kini tak terlalu istimewa lagi. Namun apa yang terjadi jika ada roti yang isinya mendoan? Inilah kudapan yang tengah naik daun di Purwokerto.

Yakni menyantap roti mendoan atau roti yang didalamnya bukan berisi cokelat atau keju, tapi tempe mendoan. Unik bukan? Jika mampir ke pusat kota, jangan sampai terlewat untuk singgah di Rita Bakery. Di sini, Anda bisa mencicipi roti mendoan. Letak bakery shop ini di jalan Jenderal Soedirman nomor 296, tepat di depan alun-alun Purwokerto.

“Awalnya karena terinspirasi dari tempe mendoan,” ujar Ibu Maria (39), Manager Rita Bakery. Inovasi terbaru yang dibuat bakery milik pengusaha Buntoro ini memang merupakan inovasi baru. Yakni memadukan rasa tradisional, ke dalam cita rasa barat.

Roti dicampur mendoan kan aneh? Namun siapa sangka peminatnya justru bejibun. Roti ini berbentuk bulat bulat agak lonjong. Didalamnya, diisi tempe mendoan goreng utuh. Lalu adonan roti beserta mendoannya ikut dipanggang di dalam oven. Agar lezat, roti ini juga dilengkapi dengan siraman saus tomat. “Kami buat jenisnya dari roti manis, tapi fillingnya mendoan,” ucap Maria.

Harga roti mendoan ini Rp 1500 per buah. Peminatnya langsung banyak sejak roti ini diluncurkan pertama kali pada April 2006. Yang istimewa dari kehadiran roti ini adlaah sajiannya yang hanya tersedia pada saat weekend tiba.

“Roti ini hanya kami produksi pada Sabtu dan Minggu,” terang Maria. Alasannya, agar orang tidak bosan dan penasaran dengan kehadiran roti ini,” tandas Maria. Selain roti mendoan, bakery shop yang memakai sistem open kitchen ini juga membuat lebih dari 50 jenis aneka roti manis lainnya, termasuk cake, danish, pastry, roti tawar dan donat. Jika penasaran, bisa datang ke tempat ini mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.


Roti Kebo Kedai “Superman”

Mendengar namanya, Anda pasti aneh dan penasaran bukan? Menyusuri jalan HR Bunyamin kala malam hari, ada puluhan pedagang makanan yang layak di coba. Salah satunya, adalah roti kebo buatan Fredy (27) yang tengah naik daun ini. Roti kebo adalah roti bakar yang disantap dengan irisan pisang bakar. Roti tawar yang selesai dibakar ini langsung diiris dadu, sementara pisangnya, juga diiris menyamping.

Setelah itu, pisang dan roti disatukan dalam piring dan beri parutan keju dan taburan meises. Terakhir, pisang disiram dengan susu kental manis. Pisang yang dipakai Fredy adalah jenis pisang kepok yang rasanya manis. Hasilnya roti, bertabur keju ini tersaji dama sepiring penu dan tampak membumbung hingga setinggi 20 sentimeter.

“Inilah kenapa disebut kebo,” ujar Fredy, karena porsinya, banyak sekali, tambahnya. Harga roti kebo ini Rp 4000 untuk rasa keju cokelat dan Rp 3500 untuk cokelat strawbery. Penikmat roti kebo cukup banyak. Porsinya yang besar itu pun membuat menu ini biasanya disantap berdua.Selain roti kebo, Fredy yang sebelumnya berbisnis makanan di Surabaya ini juga membuat menu yang tak kalah unik. Yakni pisang sarang walet. Pisang ini dibakar dan dirisi menyamping, lalu diberi parutan keju yang snagat banyak. Hingga menyerupai sarang burung walet.

“Keju yang sedikit membuat sajian jadi kurang enak,” ujar Fredy. Biasanya pelanggan Fredy menikmati kedua santapan ini sambil menyeruput superman. Nama kedai ini rupanya berasal dari singkatan susu perah manis, yakni susu perah atau susu murni asli yang diaduk bersama gula. Satu gelas superman harganya Rp 2.000 saja. Fredy yang berjualan mulai pukul 18.00 ini biasanya baru tutup menjelang pukul 04.00 dini hari. Tak kurang dari 10 liter susu dan puluhan loaf roti tawar ia habiskan untuk meladeni pelanggannya yang kebanyakan anak muda ini. (kompas.com)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/07/01/purwokerto-dari-sayur-keong-hingga-roti-kebo/

Wisata kuliner Dawet Ayu Banjarnegara

MINUMAN DAWET tentu tak asing bagi warga Banyumas dan sekitarnya. Apalagi bagi warga Banjarnegara. Rasanya yang segar danlegit membuat kita sering kangen untuk kembali meminumnya. Apalagi jika untuk berbuka puasa. Pas rasanya.....


Minumah khas Banjarnegara dawet ayu sejatinya memili prospek bagus untuk dikembangkan menjadi wisata kuliner. Dalam ajang pameran dan promosi di Pusat Rekreasi Promosi dan Pembangunan Jawa Tengah di Semarang belum lama ini bisa omset Rp 1,5 juta hingga Rp 1,8 juta per hari. Jumlah ini terpaut tinggi dengan kuliner khas Banjarnegara lainnya.

Hanya saja, kata Kordinator promosi produk kerajinan dan UMKM Banjarnegara Teguh Wiranto, untuk pengembangan potensi kuliner masih terkendala legalitas merek.”Kita pernah mengusulkan agar dawet ayu memiliki legalitas merek. Namun belum diijinkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Penyebabnya sifat dawet ayu yang tidak tahan lama. Namun melihat minat warga luar daerah yang cukup tinggi terhadap kuliner ini, diharapkan menjadi rujukan untuk pengembangan potensi tersebut dari sisi yang lain,” ungkap Teguh Wiranto.

Teguh Wiranto mengatakan pameran tersebut digelar selama 26 hari. Sepanjang pameran berlangsung produk khas Banjarnegara ini tidak pernah mengalami penurunan omset yang drastis. Rata-rata penjualan di atas 500 gelas per hari. Jika dihitung harga per gelasnya Rp 3.000 maka pemasukan rata-rata sekitar Rp 1,5 juta per hari.

Ia mengatakan tujuan dari pameran ini adalah promosi. Meski demikian melihat antusias pengunjung pameran untuk menikmati makanan khas Banjarnegara ini, kedepan bakal menjadi bahan masukan bagiDisperindagkop untuk pengembangan potensi kuliner tersebut.

Beberapa produk khas Banjarnegara yang turut dipromosikan antara lain, kerajinan Bambu Mandiraja, beberapa makanan ringan dari Bara Snack, batik Gumelem dan keramik Klampok. Untuk kerajinan bambu dan makanan ringan total omset sekitar Rp 4,8 juta. Sedangkan untuk batik gumelem dari enam yang di pamerkan laku tiga. ”Untuk keramik sendiri omset pastinya belum diketahui. Karena di kelola oleh pengrajin. Namun untuk Batik, keramik dan kerajinan bambu tujuan utamanya hanya mempromosikan produk tersebut,” katanya.

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/08/24/wisata-kuliner-dawet-ayu-banjarnegara/

Pasar Tiban Péréng, pusat jajanan khas Ramadhan

RAMADHAN memang bulan penuh berkah, tak terkecuali dengan pedagang tiban di gang Slamet Riyadi, Péréng Purwokerto, mereka berjualan aneka makanan dari mulai lontong, sayur mayur, dawet ayu, es buah hingga jajanan seperti mendoan, tahu goreng bahkan rempeyek.

Komplek Péréng Purwokerto yang selalu padat jelang buka puasa

Seorang pedagang sayur bernama Tarjo kepada banyumasnews.com Minggu (23/8) mengatakan dia meneruskan tradisi kakeknya berjualan sayur mayur siap saji setiap ramadhan tiba.

“Sudah lama sekali, sejak saya masih kecil kakek sudah berjualan sayur matang di gang Pereng ini setiap bulan puasa, kalau tidak salah beliau berjualan tahun 1970-an, ini ibu saya, tetapi sekarang sudah pensiun berjualan,” ungkap Tarjo sembari memperkenalkan sang ibu.

Pria ramah tersebut bercerita keuntungan yang didapatnya tidak pasti, karena tidak semua pembeli memiliki tingkat ekonomi yang sama, ada yang membeli makanan dengan ketengan ataupun dalam jumlah besar.

“Tadi saja ada yang beli sayur Rp 2.000, ada juga yang Rp 3.000, bahkan ada yang membeli ikan seharga Rp 6.000, beberapa pedagang di sini sifatnya musiman meski ada juga yang menetap, selain meramaikan ramadhan tentunya juga mengumpulkan uang untuk lebaran,” jelas Tarjo sembari melayani seorang pelanggan.

Gang sempitpun jadi lokasi dagang

Menanggapi rencana Pemkab Banyumas yang akan merelokasi pedagang ke tempat baru di bekas gedung puskemas, Tarjo mengatakan tidak khawatir, karena itu baru sebatas kabar angin, menurutnya hingga kini belum ada pemberitahuan resmi dari pemerintah.

Sementara Tedy, warga Pereng mengatakan harga-harga yang ditawarkan relatif murah jika dibandingkan dengan lokasi lain, bahkan masih bisa ditawar, dia mencontohkan gorengan hanya dipatok Rp 500 sementara sayur matang dengan porsi lumayan bisa dibeli dengan mengeluarkan Rp 1.500.

“Pokoknya di sini serba murah, lengkap dan kualitasnya terjamin, khususnya warung sayur matang milik Pak Tarjo ini,” kata Tedy sembari menuntun anak perempuannya.

Anda tengah berlibur ke Purwokerto atau sedang pulang ke Banyumas, tidak ada salahnya merasakan suasana menjelang berbuka di pusat jajanan tiban gang Slamet Riyadi, Pereng.

Aneka makanan untuk buka puasa khas banyumasan

Selain berbagai makanan murah, anda juga bisa merasakan keramahan asli orang Banyumas, dengan dialek khas mereka yang natural, tidak dibuat buat, serta sikap legawa yang mungkin sudah hilang di belahan bumi lain.

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/08/23/pasar-tiban-perengpusat-jajanan-khas-ramadhan/

Jenang jaket asal Ajibarang, merambah sampai Amerika

JENANG makanan yang terbuat dari beras ketan dan gula jawa asal Banyumas, Jawa Tengah, boleh dibilang sedang mengalami masa jaya. Selain dengan bahan asli tanpa formalin, jenang ini memiliki rasa yang khas dan cita rasa tinggi.
Terdapat sekitar 35 perajin jenang di Kampung Munggangsari, Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Banyumas. Desa yang dikenal dengan sebutan Kampung Jenang Jaket ini menjadi sentra produksi jenang di Banyumas sejak tahun 1970-an.



Makanan ini disebut jenang jaket kepanjangan dari jenang asli ketan. Karena bahan bakunya asli dari beras ketan serta gula merah. Mereka sama sekali tidak mau mencampur bahan jenang tersebut dengan beras biasa. Bahkan, bahan pemanis gula diambil langsung dari penderes atau perajin gula nira di desa ini.
Tak heran jika jenang jaket ini memiliki rasa yang khas. Selain empuk dan rasa manisnya yang pas, jenang ini berorama wangi manggar atau kembang kelapa. Seperti jenang jaket milik Darsim, warga Munggang Sari, Ajibarang ini.



Sekali produksi menghasilkan tiga ton jenang dan menghabiskan 7 kuintal gula, 4 kuintal beras ketan dan 200 butir kelapa. Tiga hari sekali, Darsim mengirim 3 ton jenang jaket ini ke berbagai daerah termasuk ke Malaysia dan Amerika.
Semula jenang jaket ini hanya beredar di pasaran lokal seperti Brebes – Tegal, Jakarta dan Lampung. Namun kini sudah merambah ke luar negeri seperti Malaysia bahkan Amerika.



Harga jenang ini relatif terjangkau. Untuk satu plastik kecil hanya Rp 7000, sementara satu paket kardus seharga Rp 114 ribu.
“Alhamdulillah jenang kami bisa perlahan lahan merangkak hingga tembus ke Amerika. Ini karena kami menerapkan sistem menjaga kualitas,” ujar Darsiman, salah seorang produsen jenang jaket.


KAMI PRODUKSI JENANG SUPER PRODUK UNGGULAN KAMI JENANG WIJEN.

DIBUAT DARI TEPUNG KETAN, WIJEN, GULA KELAPA, MINYAK KELAPA. TANPA BAHAN PENGAWET.

TELP. 0281 7905001 ; 081327060806

ALAMAT. MUNGGANGSARI RT.03/RW.09
LESMANA - AJIBARANG.


*****


Sumber: banyumasnews.com/nanang anna noor- indosiar

Hmmmm… nikmatnya buka puasa dengan sayur keong

JIKA kita mendengar kata keong,pasti akan terbayang dengan binatang di sawah yang menjijikan. Namun,bagi warga Purwokerto keong menjadi makanan favorit pada bulan Ramadhan. Binatang mirip siput itu diolah menjadi makanan lezat dan pada bulan puasa ini tak afdhol,jika tak makanan ini.

Inilah Warung Sayur Keong Khamlani (foto:n-1/BNC)

Cara memasak keong sendiri terbilang sederhana,kendati demikian,tak semua orang bisa melakukannya, pasalnya,ada cara-cara tertentu hingga keong ini tak memiliki bau amis. Sebelum dimasak,keong-keong ini terlebih dulu dibersihkan selama tiga kali,hal ini untuk menghilangkan lendir dan kotoran seperti lumpur dan lumut . Kemudian keong yang sudah bersih di rendam selama sehari semalam.

Keong ,binatang siput yang terlihat menjijikan (foto:n-1/BNC)

Sementara untuk bumbu,hampir seluruh bumbu masak ia gunakan, mulai dari bawang merah cabe hingga daun salam. Bumbu-bumbu ini dihaluskan sebelum ditumis,sementara,keong yang sudah brsih dicampurkan dengan bumbu dalam wajan besar. Keong telah dibumbui ini,kemudian dimasak hingga selama satu jam,hal ini agar daging keong lebih empuk.

Khamlani, pemilik warung sayur keong, warga Kauman Lama Kecamatan Purwokerto Timur ini setiap hari memasak dibantu istrinya. Setiap sore warungnya selalu diserbu warga. Bagi warga Purwokerto,keong yang mereka sebut dengan kraca, merupakan makanan wajib untuk berbuka puasa,sehingga menjelang sore mereka pun menyerbu warung ini.

Harus antre untuk membeli sayur keong

Keong masakan Khamlani ini terbilang istimewa,sehingga banyak para pelanggan yang ketagihan. Selain memiliki rasa yang khas,keong atau kraca ini juga beraroma menyengat. Apalagi,keong menjadi santapan yang harus tersedia saat berbuka puasa,meski harga yang ditawrkan cukup mahal yakni, Rp20 ribu per kilogram. Namun hal ini tak menyurutkan mereka untuk membelinya.

“Ya alhamdulillah setiap bulan puasa kami pasti kebanjiran pembeli. Karena memang makanan ini menjadi cirri khas untuk berbuka puasa,” ujar pria yang memiliki dua putri kembar tersebut.

Cara memakan keong ini cukup unik yaitu dengan menggunakan lidi. Lidi tersebut dimasukan ke mulut rumah keong untuk mengait dagingnya. Jika sulit, bisa saja dengan cara menyedot langsung lewat pantat keong yang sudah dilubangi. Hemmmm… rasanya nikmat.

Keong ,binatang siput yang terlihat menjijikan (foto:n-1/BNC)

Bagi Khamlani berjualan keong telah dijalani selama sepuluh tahun . Keong-keong ini ia dapatkan dari Demak,Jawa Tengah. Saat bulan puasa ini,ia bisa menghabiskan satu kuintal keong. Sementara para pembeli bukan hanya berasal dari Purwokerto saja, namun juga dari luar daerah seperti Jakarta dan Semarang. Jika anda penasaran, datang saja ke warung milik Khamlani dan nikmati makanan binatang sawah ini (banyumasnews.com /n-1).

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/08/26/hemm-nikmatnya-buka-puasa-dengan-sayur-keong/

Jus Jambu Kaliwungu, Penuh manfaat dan hemat

JAMBU BIJI buah ajaib yang akrab dengan kehidupan kita dan punya multimanfaat bagi kesehatan. Buah ini sangat kaya vitamin C dan beberapa jenis mineral yang mampu menangkal berbagai jenis penyakit degeneratif, serta menjaga kebugaran tubuh.

Jus jambu segar siap diminum (foto:dok/BNC)

Kaliwungu adalah salah satu desa penghasil jus jambu biji di Banjarnegara yang patut mendapatkan perhatian sekaligus pujian. Lewat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kelompok Usaha Agribisnis Terpadu (KUAT) Prima Tani Kaliwungu, produk unggulan ini kini menjadi primadona dan andalan Banjarnegara. Terbukti dengan keikutsertaannya mewakili provinsi Jawa Tengah beserta Kabupaten Kendal dan Purbalingga dalam penilaian Gapoktan Tingkat Nasional. Bahkan dalam skala nasional ada sebuah swalayan di Jakarta memesan sebanyak 3 ton/bulan.

Peminat jambu biji yang tidak pernah surut ini dijelaskan Romsidi selaku Ketua Gapoktan karena manfaat yang terkandung di dalamnya sangat banyak. Bagian dari tanaman ini yang sering digunakan untuk berbagai keperluan manusia adalah kulit batang, daun, dan buahnya.

Kulit batang dan daun jambu memiliki aktivitas antibakteri. Ekstrak dari kedua bagian tanaman ini secara in vitro bersifat toksik terhadap beberapa bakteri penyebab diare, gastroenteritis, dan keluhan-keluhan lain yang berhubungan dengan pencernaan. Sedangkan buahnya dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai macam produk seperti selai, jeli, pasta, dodol, dan jus.

Jambu biji juga mengandung potasium sekitar 14 mg/100 gram buah. Potasium berfungsi meningkatkan keteraturan denyut jantung, mengaktifkan kontraksi otot, mengatur pengiriman zat-zat gizi lainnya ke sel-sel tubuh, mengendalikan keseimbangan cairan pada jaringan sel tubuh, serta menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Selain itu ia juga merupakan sumber serat pangan (dietary fiber) dan vitamin C terbaik. Serat pangan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker usus besar (kanker kolon), divertikulosis, aterosklerosis, gangguan jantung, diabetes melitus, dan penyakit batu ginjal. Sedangkan vitamin C memiliki fungsi menjaga dan memacu kesehatan pembuluh kapiler; mencegah anemia gizi, sariawan, gusi yang bengkak dan berdarah (penyakit skorbut), serta mencegah tanggalnya gigi. Vitamin C dosis tinggi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam melawan berbagai infeksi. Dengan demikian, kita tidak mudah menjadi sakit, seperti flu, batuk, demam, dan lain-lain.

Khusus untuk jambu Kaliwungu, Gapoktan KUAT memberikan harga yang sangat ekonimis, yaitu Rp.1000,-/cup atau Rp.8000,-/botol. Sangat murah jika dibandingkan produk jus yang beredar di pasaran. ”Dengan manfaat yang begitu banyak dan harga yang sangat murah tentu setiap pembeli tidak akan merasa rugi. Jadi, tunggu apa lagi, silakan berkunjung dan beli,” kata Romsidi seraya meyakinkan (banyumasnews.com/yoi)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/10/28/jus-jambu-kaliwungu-primadona-yang-sarat-manfaat-dan-hemat/

Zona kuliner Cia-Cia Cilacap dan keunikan kuliner Barlingmascakeb

Janji Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Yayah Sobriyah menghadirkan zona kuliner di Cilacap benar-benar terwujud. Mengambil moment Gebyar Pedagang Kaki Lima (PKL), masih terkait dengan peringatan hari jadi Kabupaten Cilacap, pada Sabtu (27/03) lalu, sebuah kawasan yang disebut sebagai zona kuliner (culinary zone) meramaikan Cilacap di malam hari.

Zona kuliner ini mengambil lokasi di Jalan Jendral Sudirman, tepatnya antara Jalan Katamso hingga Jalan S Parman depan lapangan eks Batalyon. Sebuah lapangan eks asrama tentara infantry yang menjadi lokasi ‘evakuasi’ pedagang kaki lima yang semula berjualan di alun-alun.

Seperti janjinya, zona kuliner ini hanya digelar pada setiap Sabtu malam dan Minggu malam serta hari libur. Seperti pada Sabtu malam lalu, dibuka sebuah wahana baru untuk masyarakat Cilacap dalam mengisi hari hari liburnya, khususnya di malam hari. Wahana baru itu dinamakan “Cia Cia” (apakah berasal dari bahasa Tionghoa: cia = makan?).

Maka antara pertigaan Jl. Katamso (depan Bank Danamon) sampai pertigaan Jl. S Parman (Pos CPM), mulai pukul lima sore, disediakan gerai-gerai makanan yang dikelola oleh Pemkab Cilacap. Kerja sama dijalin dengan pihak-pihak swasta maupun BUMN. Terlihat mencolok di situ logo-logo bank BUMN (BRI), lalu ada pabrik semen di Cilacap (HOLCIM), dan perusahaan rokok.

Para pedagang tinggal menyiapkan dagangannya, karena lay out dan posisi telah ditentukan panitia. Makanan yang disediakan bisa dikatakan sudah jamak: bakso, soto, mie, nasi rames, seafood, sop, gudeg dan sebagainya. Juga snack, gorengan, kue serta minuman. Tak lupa, sambil makan para pengunjung ditemani dengan iringan musik keroncong.

Keunikan kuliner, adakah?

Dalam pengamatan BanyumasNews.com, penataan pedagang kaki lima khususnya pedagang makanan telah lebih dulu dilakukan oleh Pemkab Purbalingga. Kalau kita melewati alun-alun siang hari, akan sangat berbeda kalau kita lewat sore/malam hari. Selain di alun-alun ada juga sebuah jalan yang kalau malam hari ramai menjadi zona kuliner. Banjarnegara dan Kebumen pun masih menjadikan alun-alun sebagai pusat keramaian kuliner malam hari.

Kabarnya, Purwokerto pun tidak mau kalah. Sumber di Dinas Pariwisata mengungkapkan sedang dirancang sebuah zona kuliner untuk meramaikan Purwokerto di malam hari. Sebenarnya saat ini pun tersedia banyak gerai maupun tenda pedagang makanan yang buka malam hari. Jl. Raga Semangsang adalah salah satu contoh, yang merupakan lokasi pemindahan pedagang eks alun-alun. Kemudian jalur menuju kampus Unsoed adalah pusat makanan yang tidak terbilang jumlahnya.


Namun, lokasi yang khusus di-setting untuk culinary zone oleh Pemkab memang belum ada. Jadi, mari kita tunggu zona kuliner di Purwokerto. Kira-kira dimana ya? Di Jl. S Parman-kah? (antara perempatan Srimaya ke selatan), atau di Taman Kota eks terminal lama?

Berlomba-lomba menunjukkan keunikan ‘malam’ di antara kota-kota di Barlingmascakeb tentu menarik. Namun, adakah yang benar-benar khas dan menjadi ikon kuliner di tiap kota? Atau nyaris seragam: nasi goreng, mie godog, nasi rames, gudeg (ini dari Jogja ‘kan), gorengan, mendoan, bakso, soto? Tentu sah-sah saja menampilkan menu seperti itu, karena memang popular. Namun akan lebih baik kalau masing-masing ada keunikan. (BNC/maskurmambangblog.wordpress.com/puh)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2010/03/29/zona-kuliner-cia-cia-cilacap-dan-keunikan-kuliner-barlingmascakeb/

Permen Davos, Sejak 1931, Rasanya ‘ Semriwing’

Para pekerja yang sedang memproduksi permen davos.

Jangan menyebut dirinya orang Purbalingga (Jateng), jika tidak kenal dengan Permen Davos. Permen kuno dibungkus kertas berwarna ungu itu memang telah telah melegenda, sehingga identik dengan nama Purbalingga. Merek permen buatan tahun 1931 yang diproduksi PT Slamet Langgeng di Jalan A Yani 67 Kelurahan Kandanggampang itu, kini telah merajai pasar di wilayah Jateng, DIY, sebagian Jatim, Jabar dan DKI Jakata. Bahkan, DIY merupakan pasar yang paling bagus.
Permen Davos Roll (warna kemasan ungu), sejak diproduksi tahu 1931 hingga sekarang, kemasan, bentuk dan rasanya tetap sama.

Permen Davos Roll (warna kemasan ungu), sejak diproduksi tahu 1931 hingga sekarang, kemasan, bentuk dan rasanya tetap sama.

Permen Davos Roll (warna kemasan ungu), sejak diproduksi tahu 1931 hingga sekarang, kemasan, bentuk dan rasanya tetap sama.

Rasa permen Davos memang khas, segar dan semriwing.Itulah keistimewaan permen Davos, jika diba dibanding permen-peren lainnya.Meskipun banjir aneka jenis dan merk permen menyerbu pasaran, namun permen Davos hingga kini tetap bertahan, karena rasanya yang khas itu .

Menurut Nicodemus Hardi, managing director PT Slamet Langgeng, permen ini dirintis oleh Siem Kie Djian pada 28 Desember 1931. Dalam perjalanan zaman, perusahaan dilanjutkan anaknya, Siem Tjong An. Enam tahun berikutnya, bisnis diteruskan lagi ke anak dan menantu Tjong An: Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata, yang juga generasi kedua.Selanjutnya diturunkan ke Budi Handojo, sebagai generasi ketiga. Kini, sebagai generasi keempat penerus usaha itu Nicodemus Hardi.

Aneka jenis permen davos produksi PT Slamet Langgeng.

Pada masa penjajahan Jepang, perusahaan sempat tersungkur dan baru bangkit lagi sesudah 1945. Perusahaan berganti nama menjadi PT Slamet Langgeng & Co., yang memproduksi permen mint Davos, Kresna, Alpina, dan Davos Lux. Ada pula produk non permen: limun dan biskuit bermerek Slamet. Karena kesulitan bahan baku, produksi biskuit berhenti pada 1973.

Nama Slamet Langgeng diambil dari nama gunung terbesar di Jawa Tengah yang terletak di Purbalingga: Gunung Slamet. Sedangkan Davos terinspirasi dari nama kota berhawa sejuk di Swiss yang dianggap cocok menggambarkan dinginnya permen mint ini.

Bahan yang digunakan untuk membuat permen Davos, lanjut Nicodemus Hardi, 98 persen gula pasir dan sisanya mentol serta zat pengikat. Tidak ada zat pewarna, pegawet maupun pemanis untuk produk ini. Daya tahan permen ini bisa 1,5 tahun hingga 2 tahun.

Produk pertama Davos yakni Davos Roll dengan kemasan warna ungu, dan hingga kini tak berubah. Satu bungkus berisi 10 butir berdiameter 22 milimeter, dengan harga jual Rp 1000,-. Selain itu, memenuhi tuntutan konsumen dan zaman, juga diproduksi davos lux (warna kemasan hijau) yang di pasaran dijual Rp 500,- – Rp 1000,-. davos klasik (Rp 100,-/biji),davos mild, dan davos mini.

Produk terbaru PT Slamet Langgeng yang baru dilempar ke pasaran awal November 2009, yakni permen Koffie. Permen rasa kopi yang per bungkusnya berisi 50 buah ini, di pasaran dijual Rp 3600,- – Rp 4000,-.

Permen Koffie, produk terbaru PT Slamet Langgeng.

Nicodemus Hardi mengaku, bagi konsumen yang sudah kecanthol rasa permen davos atau permen produksi PT Slamet Langgeng lainnya, akan sulit lepas. Meskipun konsumen itu sudah mencoba rasa permen lainnya, namun akhirnya kembali lagi ke permen davos. (BNC/prs)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2010/06/11/permen-davos-sejak-1931-rasanya-%E2%80%98-semriwing%E2%80%99/

Buntil Kutasari Yang Selalu Membuat Penasaran

Menyebut buntil, barangkali terasa aneh bagi sebagian masyarakat kota. Apalagi mereka yang belum pernah menikmatinya. Sejatinya, buntil sebagai lauk yang biasa dijajakan di pasar tradisional, memiliki rasa yang pas untuk menemani nasi.

Antrian Pembeli Buntil Carangmanggang di Pasar Desa Kutasari Purbalingga.

Sebagian masyarakat kota, ada yang menyebut buntil mirip dengan bothok yang dibungkus dengan daun muda singkong dan diberi sedikit cairan kuah pedas yang terbuat dari santan. Isinya adalah parutan kelapa yang diberi bumbu. Daun pembungkus yang lain yang sering digunakan adalah daun talas atau daun sente. Berbeda dengan bothok, daun pembungkus pada buntil juga dapat turut dikonsumsi. Bothok biasanya dibungkus menggunakan daun pisang.


Buntil Kutasari

Adalah hal yang sangat istimewa ketika banyak orang memburu buntil. Di sebuah pasar tradisional di Kecamatan Kutasari, hampir setiap hari orang mencari buntil khas Kutasari. Sebenarnya, buntil itu dibuat oleh seorang warga Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, kecamatan Bojongsari, bernama Ny Kasmini. Hanya saja, Kasmini yang sudah menjajakan buntil 44 tahun lalu, lebih sering berjualan di Kutasari. Akhirnya, buntil itu cenderung disebut sebagai buntil Kutasari.

Menurut Ny Kasmini (58), dirinya mulai menjajakan buntil setelah menikah muda pada usia 14 tahun. Ketika itu, ia meneruskan dagangan buntil orang tuanya. Kasmini akhirnya memilih salah satu sudut pasar Kutasari sebagai tempat dagangan menetap.

Buntil yang dibuat Kasmini boleh dibilang rasanya sangat istimewa. Meski bahannya tidak jauh berbeda dengan buntil buatan pedagang lainnya, namun ramuan bumbu Ny Kasmini yang membuat buntil itu spesial. Bahkan saking spesialnya, buntil Ny Kasmini sering dipesan oleh Pemkab Purbalingga untuk sajian menu makan tamu pejabat dari kota besar.


Buntil Kasmini dibuat dari parutan kelapa muda yang kemudian diramu dengan berbagai bumbu. Parutan kelapa itu kemudian dibungkus sesuai dengan jenisnya. Jika buntil daun talas (senthe), maka pembungkusnya daun talas. Ada juga buntil daun singkong, atau buntil daun pepaya. Rasanya semakin khas, setelah Ny Kasmini menyiram buntil itu dengan santan.

Rasa buntil Carangmanggang yang khas, membuat banyak orang rela mengantri setiap pagi hari. Bahkan, jika hari Minggu pagi, antrian pembeli buntil Ny Kasmini di Pasar Kutasari boleh dibilang mencapai puluhan. ”Kalau hari Minggu saya menyiapkan lima panci, setiap panci berisi 100 buah buntil,” kata Ny Kamsini.

Untuk hari-hari biasa, Ny Kasmini menyiapkan 2 panci berisi buntil. Satu buah buntil dihargai Rp 3 ribu. Dagangan buntilnya, kata Ny Kasmini, selalu habis sekitar jam 9 pagi.

Kalau Anda penasaran ingin mencoba buntil Kutasari, silahkan datang ke Pasar Kutasari. Tentunya, harus pagi hari. Jangan mengeluh, jika harus mengantri panjang, untuk hanya sekedar membeli makanan yang disebut buntil. (BNC/tgr)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2010/05/28/buntil-kutasari-yang-selalu-membuat-penasaran/

Jumat, 21 Mei 2010

DURIAN BHINEKA BAWOR BANYUMAS

Instingnya terhadap durian begitu kuat. Cukup melihat bijinya, ia tahu jenis durian itu. Pengalaman semasa kecil menemani sang ayah mencari durian hingga ke pelosok desa membuat Sarno Ahmad Darsono terobsesi pada durian. Ia lalu ”menciptakan” pohon durian bhineka bawor, hasil okulasi 20 jenis durian varietas lokal dan luar. ”Begitu banyak jenis durian di negeri ini, kenapa kita kalah dari Thailand?” pikirnya.

Permenungan itu menantang Sarno, petani durian dari Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, untuk mendapatkan kelebihan dan peningkatan produktivitas durian. Tahun 1996 ia berkeyakinan, pohon durian yang sebelumnya baru berbuah setelah berusia delapan tahun dapat dipersingkat menjadi empat tahun dengan okulasi.

Tetapi, ketika itu dia juga tak pernah berhenti berpikir, apakah okulasi adalah cara yang paling tepat? Sementara itu, ingatannya selalu kembali pada masa kecil, saat ia berjalan dari kebun satu ke kebun yang lain untuk mendapatkan buah durian berkualitas baik.

Pada usia tujuh tahun, Sarno sudah mampu membedakan durian berdasarkan jenisnya. Dengan memegang dan menimbangnya, ia tahu durian yang ada di tangannya telah matang atau belum, berkulit tebal atau tipis.

Ketajaman penciuman ikut membantu dia memilah durian yang puket (manis, berlemak, dan beralkohol) atau bukan. Dalam ingatan, dia menyimpan koleksi durian apa saja yang berkualitas baik. Sebut misalnya durian petruk, sunan, dan kuningmas. Kepekaannya itu telah membantu sang ayah mengumpulkan durian, dan menjualnya di pasar-pasar di Banyumas.

Namun, Sarno pun menyadari bahwa kepekaannya pada durian itu tak bisa menjawab pertanyaan yang selalu muncul di kepalanya, mengapa kita kalah dari Thailand? Ia lantas berusaha mendapatkan jawabnya, antara lain lewat buku-buku pertanian.

”Setelah memperoleh bahan informasi yang cukup, saya yakin okulasi bisa meningkat- kan produktivitas durian,” ucapnya.

Meskipun demikian, ia tak melakukan okulasi hanya pada dua pohon durian yang berbeda jenis. Pada percobaan pertama, Sarno langsung mencoba mengokulasi pohon durian montong oranye dengan 20 jenis durian lokal, seperti sunan, petruk, otong, cinimang, kereng, kuningmas, oneng, bluwuk, dan kumba karna.

Dalam percobaannya itu, ia membagi pohon primer, sekunder, dan tersier. Pohon durian montong oranye dijadikan pohon primer. Tubuh pohon itu dilukai pada beberapa bagian untuk menempelkan 10 tunas pohon durian lokal berkualitas baik, seperti petruk, kuningmas, dan kumba karna, yang menjadi pohon sekunder.

Setelah berselang tiga-empat bulan, okulasi pohon primer dengan sekunder mulai melekat. Sarno lalu mencoba membuat okulasi lagi pada pohon-pohon sekunder, dengan melukai pohon-pohon itu untuk menempelkan pohon durian lokal berkualitas sedang sebagai pohon tersier.

Banyaknya pohon durian yang digunakan untuk okulasi membuat pohon primernya tumbuh menyerupai pohon bakau yang akarnya mencuat dari tanah.

Menurut Sarno, tingkatan pada okulasi itu berguna untuk menjamin ketersediaan makanan yang lebih banyak untuk pohon primer. Adapun fungsi pohon sekunder adalah memengaruhi kualitas buah yang dihasilkan pohon primer.

Empat tahun kemudian atau tepatnya akhir tahun 2000, pohon hasil percobaannya sudah menghasilkan 30-40 buah durian montong oranye yang berbeda dari aslinya. Kulitnya tipis, daging lebih tebal, warna daging buah lebih merah seperti durian kuningmas, rasa lebih puket, dan beralkohol seperti durian petruk. Ukurannya sebesar durian kumba karna dengan berat bisa lebih dari 10 kilogram.


Menjaga erosi tanah

Batang-batang okulasi yang ditempelkan pada pohon primer, kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru SD Negeri Manggungan 1 ini, juga berfungsi untuk menjaga erosi tanah. Oleh karena itu, lebih dari lima tahun ini dia juga giat mengimbau para petani durian di sekitar Kemranjen, yang umumnya bermukim di kawasan perbukitan, untuk menanam pohon durian ”ciptaannya”.

Kini, setiap bulan Sarno tinggal menunggu pembeli dari Banyumas maupun Jakarta untuk mengambil durian dari pohon hasil ”ciptaannya”. Harganya per kilogram sekitar Rp 17.000, sedangkan bobot per buah 6-12 kilogram.

”Beberapa hari lalu saya menjual durian montong oranye seharga Rp 200.000 karena bobotnya sampai 12 kilogram,” ucapnya.

Tak hanya itu, setiap bulan Sarno juga memperoleh pesanan untuk memasok bibit okulasi bhineka bawor-nya ke Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Untuk satu kali pengiriman bisa sampai 200 bibit. Bibit pohon durian itu dijualnya seharga Rp 75.000-Rp 150.000 per pohon, tergantung jumlah tunas pohon durian yang digunakan untuk okulasi.

Tentang nama bhineka bawor untuk durian ”ciptaannya”, kata Sarno, ”bhineka” diambil dari semboyan negeri ini, Bhinneka Tunggal Ika, yang bermakna keragaman budaya seperti keragaman jenis durian lokal di Indonesia. ”Bawor” diambilnya dari salah satu tokoh wayang yang menjadi simbol Kabupaten Banyumas, dengan ciri khas cablaka atau berbicara apa adanya.

Dengan semangat keragaman itu pula, pengurus Paguyuban Petani Durian Unggul Kemranjen ini menamakan duriannya Sarakapita yang merupakan akronim nama dirinya, sang istri, dan nama ketiga putrinya.

”Buah durian ini juga menjadi simbol kebersamaan keluarga kami,” ucapnya.


Kelas transisi

Namun, masih ada masalah yang mengganjal dalam pikiran Sarno, yakni bagaimana mengupayakan pohon durian bisa berbuah di luar musim. Seperti sekarang, petani durian di Kemranjen tak bisa memperoleh panen maksimal karena banyak buah yang rontok pada usia dini akibat curah hujan yang cukup tinggi.

”Untuk tahun depan, saya sedang mempersiapkan formulasi pupuk dan waktu yang tepat untuk memupuk pohon durian agar bisa berbuah sebelum bulan November,” ucapnya berharap.

Kompleksitas pemikiran Sarno tak hanya tecermin pada durian, tetapi juga pilihan lapangan tugasnya sebagai guru. Baginya, tak ada tantangan untuk mengajar siswa kelas tiga sampai lima karena siswa relatif sudah dalam kondisi stabil.

Kelas-kelas transisi bagi siswa merupakan pilihan dia, yakni kelas enam serta kelas satu dan kelas dua. Kelas enam, misalnya, menurut Sarno, merupakan lapangan tugas yang ”tiada akhir” lelahnya bagi guru sebab harus mempersiapkan para siswa sampai matang agar bisa lulus SD. Oleh karena itulah, sejak diangkat sebagai guru tahun 1988 hingga 2004, ia menjadi guru kelas enam.

Baru empat tahun belakangan ini dia pindah menjadi guru kelas satu dan dua. Kedua kelas ini, menurut Sarno, juga memiliki tantangan yang tak kecil karena siswa umumnya mengalami peralihan dari dunia bermain ke dunia belajar.

”Pada garis-garis berisiko inilah saya menemukan kenikmatan berkarya,”
kata Sarno

*****



Sumber: tulisan dan foto diambil dari kompas.com

Kamis, 15 April 2010

TEMPE MENDOAN



Tempe Mendoan adalah sejenis masakan tempe yang terbuat dari tempe yang tipis, dan digoreng dengan tepung sehingga rasanya gurih dan renyah. Secara tradisional di wilayah Banyumas, tempe yang digunakan untuk mendoan adalah jenis tempe bungkus yang lebar tipis, satu atau dua lembar perbungkus. Aakan tetapi tempe mendoan juga dapat dibuat dari tempe biasa yang diiris tipis-tipis namun lebar.

Bahan:

* 300 g tempe, iris lebar tipis 10x15 cm
* 2 batang daun bawang, iris halus
* 100 g tepung beras
* 1 sdm tepung terigu
* 125 ml air
* minyak goreng

Haluskan:

* 2 siung bawang putih
* 1 butir bawang merah
* 1 sdt ketumbar
* ½ sdt merica butiran
* 2 sdt garam

Cara membuat:

* Aduk tepung dengan bumbu halus, daun bawang, dan air hingga rata.
* Celupkan tiap potongan tempe dalam adonan tepung.
* Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga adonan tepung membeku tetapi belum mengeras, matang tetapi tidak kuning atau kering. Angkat, tiriskan.
* Sajikan hangat dengan sambal kecap rawit. Untuk 12 buah.

**********

Variasi lain Resep Tempe Mendoan

Bahan:

* 250 gr tempe, iris tipis lebar 10 x 6 x 1 cm
* 75 gr tepung beras
* 25 gr tepung kanji
* 3 batang kucai, potong ½ cm
* 125 ml air

Haluskan:

* 2 sdt ketumbar
* 1 siung bawang putih
* 1 cm kencur
* garam secukupnya

Cara membuatnya:

* Campur bumbu halus dengan tepung beras dan kanji.
* Aduk rata sambil dituang air sedikit demi sedikit.
* Aduk terus hingga rata dan licin.
* Masukkan kucainya.
* Panaskan minyak banyak di penggorengan.
* Celupkan tempe satu persatu ke dalam adonan tepung.
* Goreng sampai kecoklatan.
* Angkat dan sajikan dengan cabe rawit.

Senin, 12 April 2010

Sroto Banyumas Eling-eling Jalan Casablanca Jakarta

Ada berapa warung sroto Banyumas ya di Jakarta? Seratus lebih kali ya...Entahlah, yang jelas saya belum sempat menghitungnya dan yuk mari kita coba mensensus satu per satu untuk para inyonger semua. Semoga bisa menjadi bahan referensi kalau ingin mencari alternatif makanan yang enak. Saat meluncur di Jalan Casablanca Jakarta, Jum'at (tgl 27 maret 2009), jam di HP menunjukkan jam 2 siang. Cuaca panas menambah rasa lapar yang tak bisa ditahan. Langsung saja saya mampir di Warung sroto Eling-Eling asli Sokaraja Banyumas. Sambil menunggu pesanan satu mangkok sroto campur, 2 mendoan dan jus alpukat, saya jadi teringat tulisan mas Burhan di blognya Rumahide . Katanya salah satu soto terenak di Jakarta ya di Sroto Banyumas Eling-eling di Jalan Casablanca ini. Wah tambah penasaran saja nih pengin mencicipi gimana sih kehebatan rasanya.

Di sana tersedia menu Sroto komplit (ati, ampela, ayam,daging), Sroto istimewa 9ati, ampela, ayam), Sroto campur (daging+ayam), mendoan, dawet ayu (es cendol) dll.
Kata sebagian orang, sroto Banyumas terbilang aneh dan kurang kerjaan. “Soto kok dicemplungin krupuk dan dicampur sambal kacang yang digiling tak halus. Aneh ya..." Tapi kalau lidah sudah kesenggol kuahnya yang sueeedap...tentu satu mangkuk jadi kurang. Anda bisa memadukan sroto ini dengan lontong/ketupat atau dengan nasi putih biasa. Apalagi dipadukan dengan mendoan anget, pokoke rasane...maknyusssss...Kata orang Banyumas...jan nylekamin temenan...

Nah, penasaran dengan rasanya yang katanya maknyuss dan nylekamin??Silahkan kalau lewat Jalan Casablanca mampir di warung sroto ini. Eh ngomong-ngomong, Mbak Laksmi Pamuntjak, penulis buku Jakarta Good Food Dining 2008 menobatkannya sebagai soto Banyumas terenak di Jakarta. Bagaimana dengan penilaian Anda?
Mohon maaf kalau saya tidak memberikan penilaian soal rasa kali ini. Soalnya terus terang waktu itu pas sedang lapar-laparnya dan tentu kalau ditanya soal rasa pasti jawabannya ueeenak tenan. Biar penilaian soal rasa lebih obyektif, Anda yang sudah menikmati srotonya bisa mengisi komentar di bawah ini. Atau kalau menemukan warung sroto banyumas yang nylekamin di kota Anda...bisa ditulis di komentar di bawah ini biar para inyonger yang lain tahu.

Kesuwun, terima kasih.

*****