Rabu, 12 September 2012


R. SOETEDJA PURWODIBROTO

Lagu Di Tepinya Sungai Serayu sangat familiar bagi masyarakat Indonesia. Apa lagi bagi masyarakat Banyumas yang tinggal di daerah aliran sungai Serayu. Sungai yang menjadi inspirasi terciptanya lagu legendaris itu. Dan Banyumas merupakan daerah tumpah darah komponis lagu itu.

Serampung SMA Negeri Purwokerto pada tahun 1960, saya meneruskan kuliah di Akademi Pimpinan Perusahaan milik Departemen Perindustrian Rakyat di Jakarta. Saya menjadi teman sebangku Abdul Latif. pemuda Padang yang belakangan hari menjadi pengusaha dan pemilik departemen store ternama, yang pada waktu itu bernama Sarinah Jaya. Beliau juga sempat menjadi Menteri Tenaga Kerja RI pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Di Jakarta saya in de kost di rumah kakak kandung ibu saya di Kepu Dalam, kawasan yang tak jauh dari Kemayoran. Nama kakak kandung ibu saya, tak lain dan tak bukan adalah Soetedja.

Semasa saya menjalani liburan SMA di rumah Pak De saya di Jakarta, masih terekam jelas di benak saya, rumah beliau menjadi markas seniman senen yang pada waktu itu masih junior. Di antaranya, pelukis Soedjojono, pemusik Syaiful Bahri, Bing Slamet yang pada waktu itu masih remaja, penyanyi seriosa Pranajaya, penyanyi Sam Saimun, si Gembala Sapi Norma Sanger, pemilik perusahaan rekaman piringan hitam Mas Yos, gitaris jazz Jack Lamers yang di kemudian hari lebih dikenal dengan nama Jack Lesmana dan ayahnda pemusik jazz Indra Lesmana, Mang Udel alias Drs. Purnomo yang ke mana-mana selalu membawa ukulele dan masih banyak lagi seniman senen yang berkumpul setiap malam minggu.

Masih pada kesempatan liburan SMA, saya sering diajak menonton penampilan pak de saya bersama para pemusik junior yang sedang dilatih tampil di muka umum. Mereka show di Princen Park, kawasan yang sekarang bernama Lokasari Pecenongan. Juga pernah diajak nonton show-nya di Societet Harmony, sekarang menjadi komplek Sekneg jalan Juanda. Diajak menyaksikan pentas beliau di Istana Negara pada resepsi kenegaraan 17 Agustus 1957 adalah kenangan yang sulit dilupakan. Pada saat itu beliau berkapasitas sebagai pimpinan korp musik Angkatan Udara yang selalu mengisi acara musik pada event resepsi kenegaraan.


Karya-Karya Beliau
Sebenarnya, lagu hasil gubahan beliau cukup banyak. Namun sebagian besar repertoir karya beliau yang tersimpan di RRI Pusat Jakarta musnah, karena dilanda musibah kebakaran pada tahun 1950-an. Maka, banyak gubahan beliau dalam bentuk partitur note balok ikut musnah terbakar.

Beruntung, gitaris Jack Lesmana alias Jack Lamers sempat meminjam beberapa partitur lagu-lagu gubahan beliau untuk direkam. Berkat Jack Lesmana, sekitar 70 lagu sempat terselamatkan. Tapi, ratusan lagu lainnya binasa. Na'asnya, justru partitur lagu-lagu lagendaris itulah yang ikut binasa. Di antaranya lagu-lagu yang populer di Eropa seperti “Als d'Orchide Bluijen” (Ketika Anggrek Berbunga) Lagu tersebut diciptakan di negeri Belanda ketika beliau berjalan-jalan dengan pacar noni belandanya ke pasar lelang bunga. Dan lagu “Waarom Huil Je tot Nona Manies” (Mengapa Kau Menangis) diciptakan ketika beliau harus berpisah dengan pacarnya. Beliau harus pulang ke Indonesia karena telah menyelesaikan studi di konservatori musik Roma Italia.

Masyarakat hanya mengenal sebagian lagu ciptaannya. Di antaranya “Tidurlah Intan” yang sempat menjadi closing song siaran bahasa Indonesia radio Australia. “Hamba Menyanyi,” “Mutiaraku,” “Di Tepinya Sungai Serayu dan “Kopral Jono.”

Lagu “Kopral Jono” digubah secara khusus untuk menyindir keponakannya yang berpangkat kopral tapi sangat play bloy. Sedangkan lagu “Tidurlah Intan” diciptakan untuk meninabobokan buah hatinya.

Masa Kecil Soetedja
Menurut penuturan ibu saya, Soetedja anak keempat dari sembilan bersaudara putra Asisten Wedana Kebumen (kini Camat Baturaden) bernama R. Ibrahim Purwadibrata. Setelah berumur satu tahun, beliau dijadikan anak angkat oleh kakak kandung ayahndanya yang seorang pengusaha besar perkebunan di Purworejo Klampok Banjarnegara, bernama R. Soemandar.

Soetedja kecil gemar memukul-mukul perangkat dapur ibundanya. Bunyi-bunyian yang dihasilkan mungkin terdengar indah di kupingnya, tapi tidak untuk ayahndanya, karena terdengar berisik. Walaupun begitu, beliau sempat menangkap bakat musik Soetedja kecil.

Maka, sewaktu beliau berlayar ke negara-begara Eropa untuk urusan dagang, beliau membelikan biola stadivarius paganini untuk putera kinasihnya. Sejak itu Soetedja kecil tidak lagi menciptakan bunyi-bunyian perkusi dari perangkat dapur milik ibundanya. Pada setiap ada kesempatan, beliau selalu memainkan alat musik gesek hadiah ayahndanya. Di kemudian hari, Soetedja kecil mendapat hadiah instrumen musik berikutnya, yaitu alat musik pencet bernama piano.

Sewaktu mengenyam pendidikan AMS (SMA jaman Belanda) di Bandung beliau in de kost di rumah seorang guru piano berkebangsaan Belanda. Berkat guru piano Belandanya itulah beliau menguasai teknik permainan piano secara sempurna.

Setelah menyelesaikan AMS-nya, R. Soemandar ayah angkat beliau memberi dua pilihan studi di Eropa, yaitu hukum dan kedokteran. Tapi beliau memilih jurusan musik daripada kedokteran dan hukum. Betapa kecewanya sang ayah karena beliau lebih memilih studi musik. Karena keinginan ayahndanya diabaiakan, maka beliau berpura-pura menggertak mengusirnya. Soetedja benar-benar minggat. Beliau ngeger pada keluarga Sultan Hamid di Kutai Borneo atau kini Kalimantan.

Minggatnya Soetedja muda ke Kalimantan membuat ayahndanya ringkih karena keyungyun kepergian anak kinasihnya. Ayahndanya sebenarnya hanya menggertak sambal belaka. Tapi oleh Soetedja diartikan serius.

Setelah berjalan beberapa tahun merantau di Borneo, Soetedja muda dipanggil pulang ke Purworejo Klampok. Dan diijinkan bersekolah di konservatori musik Roma Itali. Sebelum berangkat ke manacanegara, ayahndanya mengajak anak kinasihnya menyusuri daerah sepanjang aliran sungai Serayu dari Klampok sampai Gambarsari. Untuk memamerkan perkebunan serehnya di daerah Kanding dan Kemawi yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Somagede.

Pada saat menyusuri aliran Sungai Serayu itulah, beliau mendapat inspirasi menciptakan lagu legendaris “Di Tepinya Sungai Serayu.”

Soetedja dikenal sebagai pendiri Orkes Studio Jakarta, yang merupakan orkes simphony pertama di Indonesia. Tapi sayang, Orkes Simphony Jakarta ditinggalkan, karena beliau diangkat sebagai Direktur Korp Musik Angkatan Udara. Sedangkan untuk mengisi acara-acara di RRI beliau menggunakan Orkes Melati yang melantunkan irama musik barat yang dikeroncongkan.

Soekarno Agung, Bupati Banyumas pada saat itu merubah nama bekas gedung bioskop Indra menjadi gedung kesenian Soetedja. Sebagai bentuk penghargaan kepada Soetedja yang telah mengharumkan nama Banyumas. Dan sekaligus sebagai balas jasa pada para seniman muda Banyumas di bidang musik. Karena mereka telah berjasa besar menghimpun banyak dana lewat berbagai acara show musik untuk mendampingi para artis ibukota di gedung Isola. Penjualan harga tanda masuknya dipergunakan untuk membangun obyek wisata Baturraden. Maka pada tanggal 14 Maret 1970, resmilah nama Soetedja diabadikan menjadi nama gedung kesenian kebanggan masyarakat Banyumas yang terletak di samping Pasar Manis Purwokerto itu.

Komponis legendaris putra Banyumas itu wafat pada usia yang ke 51 tahun pada tanggal 12 April 1960. Setelah beberapa bulan sebelumnya memimpin rombongan misi kesenian Indonesia ke India. Beliau meninggalkan seorang istri dan sembilan putra. Jasad beliau dimakamkan di pemakaman Karet Jakarta. Untuk mengingatkan bahwa beliau pernah memimpin misi kesenian Indonesia ke India, maka putra bungsunya yang lahir pada saat beliau berada di India diberi nama Krisno Indiarto.

Untuk mengenang jasa beliau yang telah mengharumkan nama Banyumas, sampai tahun 1992 RRI Purwokerto selalu memperingati hari kelahiran beliau. Dengan cara memperdengarkan lagu-lagu ciptaan beliau di radio pada setiap tanggal 15 Oktober.

Kalau beliau masih di tengah-tengah kita, beliau akan mencapai usia 100 tahun pada tanggal 15 Oktokber 2009. Semoga keharuman nama Soetedja menjadi inspirasi kebangkitan seniman Jawa Tengah dan Banyumas pada khususnya.
Purwokerto, 30 Sept. 2009 (Sugeng Wijono).

*****