Senin, 15 November 2010

Memahami sejarah melalui Museum Uang Purbalingga

SIAPA yang tak mengenal uang ? Uang sepertinya sudah merasuki kehidupan manusia. Apalagi dalam dunia modern saat ini. Uang pula seolah-olah sudah menjadi segala-galanya. Semua lini kehidupan yang diburu seolah hanya uang. Uang untuk kehidupan. Dan untuk mencari uangpun, orang melakukan segala perbuatan apa yang bisa dilakukannya. Sebagian orang beranggapan, melalui uang segala sesuatu dapat diraih. Uang bisa menjadikan sesuatu hal, baik dan juga buruk. Hanya beda tipis seperti dua sisi mata uang yang mudah dibolak-balik.

Gedung Museum Uang Purbalingga (foto:yit/BNC)


Terlepas dari itu semua, sejatinya uang bukan sekadar alat tukar, tetapi juga cermin dari puncak-puncak peradaban dari suatu entitas politik dan budaya tertentu yang hidup pada kurun waktu tertentu pula. Dengan demikian, uang sangatlah multifungsi. Ketika cara memperoleh dan menggunakan uang sudah melanggar semua norma, orang pun mengatakan uang bukan segalanya.

Can’t buy me love, kata band legendaris asal Inggris The Beatles. Namun, seperti tersirat dalam keseluruhan lirik lagu tadi, uang mempermudah semua urusan, termasuk urusan bercinta. Ketika peradaban ekonomi sudah memasuki tahap virtual (virtual economy), uang pun menjadi komoditas bisnis.

Ruangan Museum Uang (foto:yit/BNC)


Sejarah Sebuah Bangsa


Sebagaimana disebutkan, berbagai jenis uang juga menjadi cerminan perkembangan peradaban dari bangsa. Dengan membaca perkembangan mata uang, kita dapat menceritakan bagaimana kondisi sebuah bangsa dan seluruh perjalanan peradabannya. Perjalanan sejarah Indonesia pun dapat dilihat pada uang. Kini, kita dapat mempelajari sejarah itu di sebuah gedung yang asri di tengah taman buah Kutasari, Purbalingga.

Adalah Museum Uang Purbalingga yang berlokasi di kompleks wisata Reptil & Insect Park Kutasari. Di tempat ini berbagai mata uang mulai dari jaman kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga mata uang jaman kini tersimpan dengan rapi. Tak hanya itu, koleksi mata uang negara-negara di dunia juga ada disini. Tercatat, ada sedikitnya mata uang 183 negara ada di Museum Uang Purbalingga.


Ide & Gagasan


Siapa yang memiliki ide brilian berdirinya sebuah museum uang yang boleh dibilang paling lengkap di Jateng ini.? Ide pendirian dan koleksi Museum Uang Purbalingga merupakan sumbangan dari keluarga Triyono Budi Sasongko yang juga Bupati Purbalingga dua periode 2000 – 2005 dan 2005 – 2010. Triyono mengaku mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia untuk mendirikan sebuah museum ini. Sejumlah pejabat Bank Indonesia baik dari pusat, maupun dari Purwokerto serta dari Jawa Barat, secara bertahap mengunjunginya sebelum museum resmi dibuka pada 18 Desember 2008.

Para pejabat tersebut dan beberapa kurator mata uang memberikan bimbingan bagaimana merawat sebuah uang agar tetap terjaga dengan baik. Mulai dari hal yang paling kecil, seperti membersihkan mata uang logam jaman VOC yang boleh dibilang sudah kotor dan hitam, untuk disulap menjadi mengkilap, atau paling tidak bisa dibaca.

Bupati Triyono Budi Sasongko mengungkapkan, keberadaan museum Uang Purbalingga diharapkan dapat seiring dan sejalan dalam mendorong perkembangan sektor pariwisata di Purbalingga. Selain sebagai wahana pendidikan bagi masyarakat di samping merupakan wahana rekreasi, Museum Uang Purbalingga juga berfungsi mengumpulkan, menyimpan, dan merawat benda-benda maupun dokumen bersejarah yang saat ini dimiliki khususnya dalam hal mata uang, sehingga menjadi suatu sosok yang mempunyai nilai dan arti penting bagi masyarakat.

“Saya ingin melestarikan benda-benda kuno khususnya mata uang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkap Bupati Triyono.

Triyono menambahkan, misi Museum Uang Purbalingga yakni menjaga benda-benda bersejarah yang bernilai tinggi dari kepunahan. Kemudian sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran tentang perkembangan sejarah dan budaya; dan mendukung daya tarik wisata, utamanya di kawasan wilayah Purbalingga.

Bupati Purbalingga menunjukan salah satu koleksi Musem Uang (foto:yit/BNC)


Koleksi


Tidak berlebihan jika kiranya Museum Uang Purbalingga disebut memiliki koleksi terlengkap. Setidaknya, hal ini diakui oleh sejumlah pejabat Bank Indonesia dari pusat yang telah datang ke tempat ini. Bahkan, pejabat BI pusat tak segan-segan menambahkan sejumlah koleksi mata uang untuk melengkapinya.

Ada banyak ribuan koleksi mata uang di tempat ini. Simak saja, pada koleksi jaman kerajaan, tersimpan pula mata uang di jaman kerajaan Majapahit, Banten, Bali, uang jaman Kerajaan Hindu Budha (800/850 – 1300 Masehi) dan mata uang yang beredar di sebuah perkebunan yang kemudian disebut Uang Perkebunan.

Koleksi mata uang di jaman perdagangan internasional tersimpan mata uang masa perdagangan China (850 – 1.900), dan perdagangan dengan VOC (1602 – 1799). Kemudian jaman Pemerintahan Hindia Belanda (1800 – 1945), pendudukan Perancis (1806 – 1811), pendudukan Inggris (1811 – 1816), jaman pendudukan Jepang (1942 – 1945). Koleksi berikutnya yang ditata secara berurutan juga tersimpan mata uang semasa pemerintahan Soekarno (1945 – 1967), Soeharto (1967 – 1998), BJ Habibie (1998 – 1999), Abdurachman Wahid (1999 – 2001), Megawati Soekarnoputri (2001 – 2004), dan Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009).

Koleksi lainnya, ada mata uang negara-negara di dunia (183 negara), perangko Indonesia sejak tahun 1951 hingga sekarang, perangko-perangko dunia, bendera negara-negara dunia, alat perkantoran kuno (mesin ketik, mesin hitung, brangkas dll), alat komunikasi tempo doeloe (telepon kuno), miniatur perahu layar jaman Majapahit, dan perahu Pinisi Nusantara. Kemudian miniatur prajurit Kraton Yogyakarta.(Prajurit Bugis, Baheng, Nyutro, Ketanggung, Wirobrojo, Jogokaryo, dan prajurit Mantrijero), dan buku-buku tentang Indonesia, dan dunia.

Untuk koleksi mata uang negara-negara di dunia, Museum Uang Purbalingga merupakan yang terlengkap saat ini. Sehingga tidak mengherankan jika Museum Rekor Indonesia (MURI) pimpinan Jaya Suprana memberikan sertifikat MURI untuk Museum Uang Purbalingga.

Selain koleksi mata uang, pengunjung khususnya para pelajar dapat pula menambahk khasanah ilmu pengetahuan dengan hal-hal unik dan menarik yang terpasang dengan rapi di dinding Museum.

Tak hanya itu, berbagai filosofi sebuah kehidupan yang kita alami saat sekarang ini, terpampang pada dinding-ding ruangan museum. (banyumasnews.com/Prayitno)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/09/06/memahami-sejarah-melalui-museum-uang-purbalingga/#comment-2374