Rabu, 21 April 2010

SEPUTAR PATIKRAJA - JADUL

Semakin banyak pertumbuhan onderneming atau perkebunan dan industri serta perdagangan, ditambah lagi pekerjaan administrasi pada kantor-kantor pemerintah kolonial Belanda, maka sangat banyak membutuhkan tenaga yang memiliki kecakapan baca tulis dan hitung. Para sinyo (pemuda) bangsa Belanda jarang yang mau bekerja sebagai karyawan pabrik atau perkebunan. Juga untuk mengurus daerah tingkat desa juga harus dikelola mengenai data kependudukan dan aspek-aspek kehidupan lainnya, yang membutuhkan warga pribumi pula.

Sejalan dengan politik balas budi dalam bidang edukasi atau pendidikan. Maka pemerintah kolonial Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah. Semula mendirikan sekolah rakyat sampai kelas V, dimana di kelas IV dan V diajarkan bahasa Belanda. Di wilayah asistenan Patikraja SR V yang ada baru di Rawalo dan Notog saja. Muridnya baru dari kalangan anak-anak pamong desa dan para priyayi pribumi serta kerabat pamong desa yang mampu. Tamatan kelas V umumnya dipekerjakan atau menjadi pegawai Belanda di tingkat asistenan atau tingkat kabupaten, yang jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan tenaga kerja yang diharapkan. Untuk itulah pemerintah kolonial tfelanda membuka sekolah didesa-desa yang hanya sampai kelas III. Tamatan dari sekolah desa ini dijadikan pegawai desa sebagai carik, tukang ukur dan mandor perkebunan. Sekolah rakyat yang kelas V biasa disebut sekolah angka dua.

Sekolah rakyat kelas III yang berada di desa disebut sekolah desa. Yang ada sekolah desa ialah : Patikraja, Sidabowa, Pegalongan, Kedungwuluh Kidul, Sawangan, Teluk saja. Lain desa belum semuanya ada. Muridnya dicari secara aktif yang dilakukan oleh pamong desa setempat. Umumnya anak-anak desa tidak mau bersekolah, karena segan atau takut kepada orang Belanda dan lagi umumnya membantu pekerjaan orang tua sehari-harinya. Ada yang menggembala ternak, mencari kayu bakar, merumput, mengasuh adik-adiknya sementara orang tuanya bekerja di sawah atau mencari nafkah lainnya.

Karena keuletan para pamong desa dengan cara yang menarik, antara lain segala alat tulis menulis akan diberi misalnya sabak yaitu alat untuk ditulisi dibuat dari batu yang tipis berbingkai selebar 44 x 60 cm, dan grip yaitu alat untuk menulis pengganti pensil dibuat dari batu pula. Kebetulan setiap tahun ajaran baru jatuh pada bulan Syawal sehabis hari raya Idul Fitri tadi. Sehingga anak-anak yang berumur diatas 6 th bisa sekolah dengan berbusana lengkap. Anak laki-laki memakai jas atau baju cina bercelana kolor pendek. Kepalanya dicukur gundul. Dengan motifasi kepala gundul apalagi dahinya mengkilap menandakan bahwa anak/murid tadi anak cerdas atau pandai di kelasnya. Bagi anak wanita mengenakan kain setinggi lutut bagi yang masih kecil dan setinggi mata kaki bagi yang dewasa, berbaju kebaya bagi gadis dewasa dan kebaya kuthung bagi yang masih kecil.


Kenyataannya yang mau sekolah hanya mereka yang mempunyai rasa malu, yaitu mereka yang harus mengenakan baju dan kain.celana. Untuk memudahkan cara mengharuskan anak-anak masuk sekolah. Ada cara unik. Yaitu apabila seorang anak , sudah dapat menggapai sampai ujung daun telinga sebelah kiri dengan melingkarkan tangan kanannya di atas kepala, menandakan bahwa anak tersebut sudah masanya masuk sekolah.
Bagi yang mampu banyak yang melanjutkam sekolahnya ke Purwokerto kebanyakan masuk ke sekolah swasta. Karena sekolah Belanda tidak mudah memasukkan anak-anak dari kalangan rakyat biasa. Setidaknya harus anak-anak pegawai Belanda atau anak Asistenan dan anak para Mantri, yaitu orang pribumi yang bekerja pada Kantor Pemerintah.


Di Purwokerto baru ada sekolah untuk sinyo-sinyo Belanda yaitu HS (sekolah rendah Belanda), MULO setara dengan SMP untuk sinyo-sinyo dan Normal School yaitu Sekolah Guru yang berasal dari SR ditambah 1 tahun lagi. VO (Vervoiles Ondeways) yaitu kursus guru kilat yang menamatkan Guru Bantu (guru Kwikling) dan OVO (diatas VO). Selain itu ada juga sekolah yang didirikan untuk anak-anak perempuan yang naik kelas 4 untuk diberi pelajaran kewanitaan sesuai dengan emansipasi wanita yang dipelopori oleh R.A Kartini, yaitu sekolah kartini. Dari tokoh pendidikan juga menyelenggarakan sekolah swasta untuk menampung minat anak-anak yang tidak dapat diterima pada sekolah Belanda antara lain Arjuna School (SLTP), Taman Dewasa, Mambaul ulum (setara dengan MadrasahTsanawiyah).


Para pendahulu kita yang menuntut ilmu pada sekolah Belanda dan sekolah swasta hampir di setiap desa dalam wilayah Asistenan Patikraja ada tokoh-tokoh, antara lain :

1. DARI KALANGAN PENDIDIK/GURU

Desa Notog :


Bpk. Sukardi Joyowidagdo, pensiun zaman Belanda.
Bpk. Kesruh, gugur pada Perang Kemerdekaan 1948.
Bpk. Arwan, pensiun tahun 1950.
Bpk. Mingan, tokoh Muhammadiyah pension 1960.

Desa Patikraja :

Ibu Sarinah, pensiun tahun 1950.
Bpk Atam, pensiun tahun 1969.
Ibu Rikem, pensiun tahun 1965

Desa Pegalongan :

Bpk. Nilam, pensiun tahun 1946.
Bpk. Rus Atmosuwito, pensiun tahun 1961.
Bpk. Raslam, tokoh politik.
Bpk. Kartam.
Bpk. Wartam.
Bpk. Sahir Wongsomiharjo.

Desa Sokawera :

Bpk. Nursam.

Desa Kedungrandu :

Bpk. Mohamad.
Bpk. Diran, pensiun tahun 1960.
Bpk. Tiswan, pensiun tahun 1959.

Desa Sidabowa :

Bpk. Kaswadi, seangkatan dengan Bpk Sukardi
Bpk. H. Samsi.
Bpk. Diro Sepuh.

Desa Karanganyar :

Bpk. Kiswan, pensiun tahun 1959.

Desa Sawangan :

Bpk Nirkam, pensiun tahun 1949.

SR V dan SR III berada dalam daereh Onder Distrik Patikraja termasuk dalam Distrik Banyumas, di bawah pengawasan School Opsiner (Pengawas Sekolah).



2. DARI KALANGAN PEGAWAI KOLONIAL BELANDA.


Desa Notog :


Bpk. Harjowarsono, Kepala Kantor Pajak Tanah (Landrete).
Bpk. Kastudjan Harjosewoyo, Mantri Ukur Landrete.
Bpk. Sukirwan, Masinis KA Kl. I pada KA SS.
Bpk. Sangid Sastrorejo, Kondektur SDS.
Bpk. Kidam Wiryosumarto, Kondektur SDS.
Bpk. R. Siswowardoyo, Mantri Ukur Landrete.
Bpk. Parman Rejosuwito Breden, Asistenan pensiun tahun 1955.
Bpk. M. Sena Asistenan, Wedana Belanda tahun 1947 - 1950.
Bpk. Wiryoharsono, Klerek Asistenan pensiun tahun 1954.
Bpk. Ronomiharjo, Kepala Pegadaian pensiun tahun 1954.

Desa Patikraja :


Bpk. Tirtadimeja, Pegawai kehutanan (Boswesen).
Bpk. Wiryoatmojo, Carik Desa.
Bpk. Wiryosukarto, Sekater Pegadaian.
Bpk. Salamun, agen Bank BRI

Desa Pegalongan :


Bpk Kartoatmojo, Kondektur SDS.

Desa Kedungrandu :

Bpk. Ranameja, Pengawas Rel Keretapi SDS (Bandsekower)
Bpk. Singawireja, Serdadu Kompeni.
Bpk. Muryana, Opas Pabrik Tebu.

3. DARI KALANGAN POLISI MILITER :


Desa Notog :

Bpk. Kisworo, Eks. Komandan Kodim dan Ketua DPRD Bms.
Bpk. H. Kartosuwarno, Eks Mayor Purn (Juru Potret Istana).
Bpk. Daryo, Eks Lettu, pensiun Dinas PDK Prop. Jateng.
Bpk. Munandar, Peltu Purn. (Saksi sejarah pertempuran 10 November 1945 Sektor Wonokromo Surabaya.)
Bpk. Dirwoto, Kapt. Purn. Kesdam Diponegoro.
Bpk. Talim, Eks Heiho.
Bpk. Ranusumarto, Agen Polisi Purn pensiun tahun 1960

Desa Patikraja :


Bpk. Masngud Suwandi, Veteran RI, Eks. Tentara Heiho.
Bpk. Mayor Purn Suwargo, Eks PETA.
Bpk. Nasan Purn. Polri. Bpk. Supeno, Eks Kadet AL, Purn Polri.
Bpk. Aksan Purn Polri. Bpk. Tejo Suparyo, Lettu Purn.
Bpk. Saman, Eks Heiho/PETA.
Bpk. Sarjo, Angkatan 45 gugur di Tumiyang Desa

Kedungwuluh Kidul :


Bpk. Mohamad Bahrun, Brigjen Purn. Eks. Dan. Div. IV Diponegoro.
Bpk. Mayoor Taram.
Bpk. Tarsam Hadisudamo, Eks Heiho di Birms

Desa Sawangan :

Bpk. Tukiman, Kapolsek Pertama di Patikraja.


Selain nama-nama tokoh tersebut tadi kemungkinan besar masih ada yang belum tercantum :
-Pertama untuk mencari keluarga almarhum kebanyakan berada di luar daerah,
-Kedua mungkin terdapat pada Lampiran Nama Veteran di halaman tersendiri

*****

KESENIAN, DOLANAN DAN OLAHRAGA JAMAN DULU

Dalam bidang kesenian pada zaman kolonial belum masuk budaya kesenian dari luar negri dan daerah lain. Kesenian yang ada adalah kesenian rakyat atau kesenian tradisional Banyumas asIi. Contohnya instrumen gamelan Jawa yang masih sangat sederhana hanya bernada gamelan Laras Slendro yang terdiri dari peking, kendhang dan ketipung, satu gender barung, bonang barung dan bonang penerus, kethuk kenong sepasang serta sebuah kempul dan gong suwukan saja. Lagu atau gendingnya masih sangat terbatas. Misalnya lagu-lagu dolanan anak-anak Banyumas, gending Cebowo, Kulu-kulu, Ricik-ricik, Eling-eling, dan yang agak halus yaitu gending Randa nunut atau Renggong Manis, serta Gungsari Kalibagoran saja.


Beberapa kesenian yang bernafaskan Islam antar lain slawatan dan genjringan. Genjringan sampai sekarang masih bertahan bahkan makin berkembang sebagai lagu-lagu populer dengan masuknya keyboard dan instrumen lainnya. Namun kelestarian Slawatan atau Trebangan sudah jarang dipentaskan.
Slawatan atau Trebangan menggunakan alat musik trebang besar, bedug, serta trebang sedang dan kecil. Iramanya sangat slow, serta syahdu. Syairnya ayat-ayat Al Qur'an dan do'a-do'a. Kesenian trebangan atau slawatan dilaksanakan pada malam hari di mulai sehabis sholat Isya sampai menjelang Subuh. Pada umumnya diadakan pada hari-hari peringatan Agama Islam. Para ulama belum berani berda'wah secara terbuka karena takut kepada Kolonial Belanda.

Peserta semua laki-laki jumlahnya sampai 15 orang. Cara memainkan trebangan bergantian, sedangkan yang lain meramaikan dengan menyair secara bersama. Bila trebangan sudah menjadi, nada-nada alunan suara syair makin meninggi, yang disebut ngelik. Bagi yang mendengarkan dengan rasa kenikmatan, sungguh sangat merasuk ke dalam lubuk hati, terasa sangat mendekatkan antara kita dengan Yang Maha Pencipta terbawa oleh kesungguhan para penyair yang sampai-sampai berkeringat pada wajahnya. Tidak jarang para pemain sampai mengeluarkan air mata karena sangat nikmatnya.
Alat musik trebang ini juga dimanfaatkan oleh fakir miskin, sebagai sarana untuk mengemis ke kampung-kampung yang disebut mbarang kentrung, pengemis ini hanya sendirian saja.


Alat musik lainnya yaitu calung, terdiri dari bahan bambu yang dibentuk berderet dengan ikatan gantungan pada lengkungan bumbu sebagai alasnya. Bernada slensro dari wilah (nada) 1; 2; 3; 4 ; 5; 6; 1. Ada 5 buah peralatan calung; kendang ketipung, gambang barung; gambang penerus; kempul; dan gong bambu (gong bumbung) yang bersuara menggema kalau dihembus dengan mulut.
Pemain putri dari rombongan calung ini disebut lengger. Dia menari dan menyanyi, syairnya berisi pantun-pantun jenaka dan pada umumnya bernada humor-humor percintaan, atau teguran-teguran yang bersifat mendidik.
Selain yang tersebut diatas masih ada kesenian di sebut lengger. Instrumennya terdiri dari bonang barung, bonang penerus yang dibuat dari besi pipih pada tengah-tengahnya, saron peking, demung, kenong dari besi,. pipih pula, gong enggang-enggang juga dari besi pipih berbenjol ditengahnya yang diikatkan pada kotak sebelah atas terdiri dari 2 kotak. Satu kotak berisi gong-gong suwukan satu lempeng, satunya lagi kempul dengan dua lempeng.


Kesenian lengger ini agak halus daripada calung. Biasa dimainkan dalam acara khajatan atau keramaian desa. Orang-orang kaya atau para pegawai Belanda sangat suka dengan lengger ini yang juga disebut tayuban. Bila pentas banyak kaum pria yang berjoget menari berpasangan dengan tandak (penari wanita) secara bergantian. Setiap tayuban tentu diasyikan dengan tarian pasangan ini sebagai kebanggan tersendiri dari para amtenar (pegawai Belanda) tadi.
Untuk pergelaran wayang kulit juga digunakan sebagai media hiburan penduduk desa. Warga yang mampu tak segan-segan "Wayangan" sebagai kebanggaan bila mengadakan khajatan, baik pernikahan, khitanan, mencukur/memotong rambut orokpun diadakan wayangan. Bahkan bila "rnenindik" membuat lubang pada daun telinga anak wanitapun diadakan khajatan dengan wayangan.
Kesenian-kesenian tadi merupakan satu-satunya hiburan bagi masyarakat pedesaan yang pementasannya memang jarang, karena tergantung dari musim panen atau msuim paceklik yang setiap tahum selalu bergantian.


Pertunjukan kuda lumping yang disebut ebeg juga sudah menjadi tontonan tetap dimusim kemarau, sebagai hiburan yang merangsang para pemuda karena akting-aktingnya penuh dengan pertunjukkan tenaga dalam dan kekuatan magic.
Alat musik/kesenian mekanik yang ada baru gramafon yang bagi orang desa disebut Orgel. Piringan hitamnya buatan Belanda dengan iram lagu-lagu Barat, menyusul lagu-lagu keroncong, kemudian dengan berdirinya pabrik piringan hitam Lokananta beredarlah piringan hitam yang bersuara gamelan jawa, bahkan kemudian cerita kethoprak menceritakan damarwulan ataupun Raden Panji Asmara Bangun babad Kediri. Ini hanya dimiliki oleh orang kaya ataupun para Amtenar dan Kepala Desapun bila mampu, karena harganya mahal.

Sebelum masuknya permainan olahraga dari luar negeri, pada zaman ini penduduk pedesaan sudah mempunyai jenis oiahraga tradisional yaitu :

• Olahraga keras : Ujungan semacam adu kekuatan antar perorangan atau warga antar kampung mencari juara pendekar atau orang kuat, dengan cara masing-masing memegang jambuk sebagai alat untuk berkelahi saling mencambuk lawan dari batas dada sampai ke kaki. Dengan akibat saling dendam di antara pemain yang kalah,
maka ujungan ini berubah menjadi perseteruan antar kelompok atau perorangan yang mengakibatkan pertarungan tidak sehat, sering menimbulkan korban dari salah seorang pegulat, sehingga oleh Pemerintah Kolonial Belanda ujungan kemudian dilarang


• Di kalangan remaja dan anak-anak ada adu ketangkasan yang disebut embik-embikan yaitu mereka bergulat satu lawan satu sampai saling menindih lawan dan barang siapa yang sudah merasa kalah harus bersuara menirukan bunyi binatang kambing "embik" tandanya menyerah.

• Ada lagi permainan keras yang disebut binteyan, yaitu saling menendang kaki lawan di daerah tulang kering sekeras-kerasnya, bila kalah harus menyerah secara sportif. Embik-embikan dan binteyan biasa dilakukan dilapangan atau diladang tempat anak-anak menggembalakan ternaknya.

• Dalam olahraga dikenal permainan gandon bagi anak lelaki dan pandean bagi anak wanita. Aturan dan materi permainan gandon adalah sebagai berikut:

a. Pemain terdiri dari 2 atau 3 pasang yang saling bersaing.

b. Alat permainan yang digunakan adalah masing-masing pemain memiliki sebuah batu bulat telur sebesar martil (besi martil untuk lempar martil). Batu ini disebut gaco.

c. Di arena diberi garis batas pelempar dengan jarak ± 3 atau 4 meter berderet ke belakang.batu pipih ± ukuran 25 cm merupakan sasaran pelemparan, sejumlah pasangan yang bermain.

Cara/teknik bermain :

Partai pemain membidikan gaconya ke sasaran batu pasangan dengan cara menggunakan kaki, yaitu gaco ditaruh diatas ujung kaki di atas jari-jari kaki, kemudian dengan melangkah 2 kali diarahkan kesasaran dan dilepas sekuat tenaga agar batu pasangan itu terpental. Andaikata pemain tidak berhasil memidiknya mereka kena hukuman. Hukumannya adalah, gaco pemain yang sial tadi "diandul" dengan cara gaco ditaruh diatas jari-jari kaki, dibawa pergi sesuka hati oleh partai pemasang dengan jalan engklek (kaki satu) melalui rintangan lompat parit, berputar-putar atau memanjat pohon sesuka hatinya. Bila dalam perjalanan andul iti^ gaconya jatuh. berarti partai pemain ganti melakukan perjalanan andul yaitu napak tilas mengikuti arah balik perjalanan engklek andul menirukan dan mengikuti arah sewaktu diandul kembali ke arena gandon, dan harus membidik batu pasangan setelah sampai ke tempat. Kalau ditengah perjalanan gaconya jatuh, mereka dinyatakan kalah dan harus bergantian main.

• Permainan pandean agak berbeda dengan gandon. Yang sama hanya pada waktu kena hukuman yaitu dengan cara andul. Peraturan main pandean adalah sebagai berikut:
Pasangan pemain sama dengan permainan gandon, begitu pula arenanya, deretan pasangan batu sasaran berjejer ke samping.

Cara/teknik permainan:

a. Partai pemain melempar gaconya diarahkan dekat dengan batu pasangan. Kemudian pemain membidik batu pasangan dengan tangan melalui belakang pantat dengan sela-sela kaki setengah jongkok.

b. Bila batu sasaran tidak terpental dan masih roboh di garis pasangan ata» tidak mengena sama sekali, pemain terkena hukuman diandul caranya sama dengan andul dalam permainan gandon.

c. Kalah dan menang sama dengan penentuan pada permainan gandon juga kedua permainan gandon tadi dilakukan oleh para remaja sampai dewasa.
Bagi anak-anak ada lagi permainan siguk, yaitu mengadu batu pipih.

Cara/teknik permainan:


a. Pemain melemparkan batu gaco pipih sebesar kulit jengkol, ke arah batu gaco lawan dengan jarak lempar 3 atau 4 meter, jatuhnya jangan sampai kurang dari 3 telapak kaki dekat dengan gaco lawan.

b. Bila jatuhnya tak melanggar atau masuk lingkaran 3 telapak kaki tadi, pemain mulai mendekatkan ke arah gaco lawan dengan cara menggeser-geser dengan sentuhan ujung kaki sebelah dalam 2 kali hingga akhirnya dekat betul.

c. Kemudian di siguk sekeras-kerasnya dengan ujung jari kaki hingga terpental jauh mendekati garis lemparan .

d. Bila hasil sigukan tadi melampaui garis batas lemparan dinyatakan menang, tetapi sebaliknya jika jatuhnya gaco pemain masuk dalam radius 3 telapak kaki. pemain lawan berhak menghalau gaco tadi dengan menyiguk jauh-jauh agar sukar untuk mendekatkan gaco pemain untuk menuju gaco lawan.

Satu lagi permainan ringan yang biasa dilakukan anak-anak penggembala yaitu permainan gatik. Peralatannya hanya ranting atau bilah kayu pendek ukuran 20 cm dan bilah panjang 5 X panjang bilah gatik (anak gatik), dan lubang sedalam 3 atau 4 cm untuk tempat pemasangan anak gatik.



Cara/teknik permainan:


a. Anak gatik dipasang miring dalam lubang tanah.

b. Kemudian ujung anak gatik dipukul sekeras-kerasnya dengan bilah panjang tadi, sehingga terpelanting dan berputar-putar di udara.

c. Pemain harus dengan cekatan memukul anak gatik yang berputar/melayang tadi.

d. Dari jatuhnya anak gatik tadi diukur dengan bilah yang panjang, hasilnya berapa kali panjang gatik itu.

e. Jumlah ukuran bilah panjang menentukan angka kemenangan/perolehan pemain. & Pada akhir pennainan setiap istirahat, dihitung perolehannya dan bagi yang perolehannya paling banyak itulah sebagai pemenangnya.

Permainan gasing dan gundu (kelereng) sudah dikenal anak-anak, tetapi permainan kelereng hanya dinikmati oleh anak-anak dari mereka yang berduit saja, Di waktu malam had apalagi bila terang bulan, para remaja dan anak-anak juga bermain, umumnya sehabis waktu mengaji. Anak remaja putra-putri bermain gobag dan jethungan.




Permainan gobag memang sangat memeras keringat, karena selain memerlukan kecekatan juga untuk berlari cepat pada jalur/garis batas . Arena gobag biasanya di jalan-jalan kampung atau di tanah lapang. Tempat bermain tadi dibuatkan garis membujursepanjang kira-kira 6 atau 8 meter, garis melintang membagi garis membujur (garis sodor) menjadi 3 atau 4 bagian masing-masing @ 2 meter sebagai tempat bebas pemain.




Teknik permainan:


a. Setiap garis dijaga oleh seorang pemain yang kebetulan sebagai kelompok pemburu pemain lawan.

b. Mereka berada di garis memanjang untuk menghalangi penyeberangan antar petak dari lawan bermain.

c. Tugas penjaga garis membujur ialah SODOR sangat berat karena harus mengintai setiap lawan yang akan melintasi garis sodor harus ditangkap atau disentuh pada jarak 1 lengan dari garis sodor.

d. Lawan dinyatakan menang bila selama dalam menyeberang silang antara tempat bebas, tak ada seorangpun yang tertangkap atau tersentuh pihak lawan (penjaga garis), dan berhasil pindah-pindah tempat bebas dari salah satu ujung awal sampai ujung akhir tempat bebas.


Permainan jethungan adalah dengan cara undian dengan jalan hong-ping-pah atau ping sut (adu buka tutup jari-jari tangan), siapa yang paling kalah dinyatakan sebagai pencari lawan.

Teknik Permainan:

a. Seorang yang kalah undian sebgai pencari, matanya ditutup dan teman yang lain semuanya bersembunyi.

b. Setelah mendengar tanda panggilan, si pencari mulai membuka mata dan berusaha mencari lawan dengan menangkapnya.

c. Si pemain harus menghindar dan bedari menuju tempat yang bertanda tongkat pengaman (istilahnya hong

d. Bila si pemain sampai tertangkap, menggantikan sebagai pemburu, begitu seterusnya.

Olah raga sepak bola sudah dikenal oleh masyarakat desa sejak dulu, tetapi belum diterapkan secara benar/sesuai aturan yang ada, hal ini dikarenakan sarana tanah lapang belum ada di setiap desa kecuali di desa Notog yang kebetulan memakai tanah lapang milik PJKA. Permainan sepak bola di desa-desa menggunakan tanah lapang seadanya dan memakai bola kaki dari ikatan rumput, jerami atau buah jeruk yang dibalut dengan karung atau kain-kain bekas asalkan dapat ditendang dan masih menggunakan kaki telanjang, belum menggunakan sepatu bola, karena baik bola maupun sepatunya belum mampu membelinya.

Pengembangan permainan sepak bola dilakukan oleh para pelajar sekolah lanjutan dari sekolahnya. Para pelopor olah raga sepak bola dari desa Notog adalah : Bp. Siswo dari Kalirajut, Bp. Slamet dibawah asuhan Tuan Eyer. Kemudian berturut-turut terdapat nama-nama: Suwarno, Dirwoto, Daryoto, Sumiyarso, Mangsud Masiarjo, Suparno, dan lam-lain. Dari lain desa ada juga yang datang ke Notog untuk bermain bersama antara lain: Suwargo Patikraja, Sutoyo Sidabowa, Sarwono dari Patikraja. Mereka ini dapat dikatakan sebagai para pendahulu atau pelopor sepak bola yang gigih. Mereka sudah sering bertanding ke luar daerah sampai ke Gombong, Cilacap, Purbalingga, dan Wonosobo.


Bola sepak atau bola kaki jaman sebelumnya menggunakan bahan dari belulang atau kalep bahan sepatu yang dibentuk bulat dengan cara dijahit. Belulang tadi adalah bagian luar. Sedangkan bagian dalam adalah bola karet atau bleter yang mempunyai lubang/buluh untuk memasukkan udara yang dipompa sampai cukup keras, kemudian pada mulut bola luar diikat seperti mengikat tali sepatu. Agar bola tadi tahan air harus dilelet dengan lilin pada setiap jahitannya. Olah raga yang lain belum memasyarakat di jaman ini.

Organisasi masa yang ada baru dari organisasi agama Muhammadiyah dan organisasi pemuda yaitu Pandu HW (Hisbul Waton). Tokoh pendiri Muhammadiyah adalah Bapak Mingan dari Notog. Kedua organisasi ini hanya bergerak dalam usaha pembaharuan agama dan penanaman rasa nasionalisme kepada pemudanya lewat kepanduan saja.

Sumber : http://sismanan.blogspot.com/2010/01/dolanan-olahraga-jadul.html