Jumat, 09 April 2010

Hanya 8 Seni Tradisi Banyumasan Bertahan

oleh: M Burhanudin

Masyarakat Banyumas memiliki puluhan ragam jenis kesenian tradisional. Namun, hanya delapan yang masih akrab dan dimainkan sampai saat ini di masyarakat. Sebagian besar telah punah dan tak dikenal oleh generasi masa kini.

Pegiat kesenian tradisional Banyumas, Yusmanto, Jumat (11/12), mengungkapkan, delapan jenis kesenian tradisonal yang masih banyak dikenal itu adalah begalan, calung, ebeg, lengger, gending banyumasan, wayang kulit banyumasan, karawitan gegreg banyumasan, dan pakeliran wayang kulit.

Delapan jenis kesenian tersebut mempunyai alasan sendiri mengapa masih lebih banyak dikenal dan masih dimainkan. "Sebenarnya masih ada ragam kesenian yang masih dipagelarkan seperti cowongan, tetapi sekadar sebagai pertunjukan, bukan ekspresi budaya banyumasan," kata Yusmanto.

Begalan sampai saat ini masih kerap dimainkan karena bersifat fungsional. Seni ini menjadi basis ritual pada upacara pengantin tradisional.

Calung, ebeg, dan lengger masih bertahan dan kerap dimainkan lebih karena fungsinya sebagai media hiburan di masyarakat. Tiga jenis kesenian ini adaptif dan kerap dipadupadankan dengan kesenian modern seperti musik dangdut, dan campursari.

Untuk gending banyumasan, pakeliran, dan wayang kulit banyumasan masih bertahan karena masih eksisnya wayang kulit banyumasan. Tiga macam seni itu menyatu dalam setiap pertunjukan seni budaya pengaruh budaya jawa wetanan tersebut.

Dari hasil inventarisasi Padepokan Seni Banyubiru, ada 58 ragam kesenian tradisional yang pernah ada di wilayah Banyumas bagian tengah. Diperkirakan masih ada puluhan jenis kesenian tradisonal lainnya yang belum terinventarisasi, terutama dari daerah pegunungan di utara, daerah barat, dan selatan.

"Budaya banyumas itu beragam dan luas cakupannya. Ada budaya daerah pegunungan seperti di Purbalingga dan Banjarnegara bagian utara, ada pula di barat seperti kesenian di Dayeuh Luhur yang terpengaruh Sunda, ada pula di selatan yang terpengaruh budaya pesisir selatan," papar Yusmanto.

Menurut pegiat kesenian tradisonal begalan, Johny Teguh, melestarikan budaya tradisonal banyumasan harus disesuaikan dengan karakter masyarakat saat ini yang telah dipengaruhi budaya metropolis. Namun demikian, upaya penyesuaian pertunjukan budaya tersebut semestinya tak mengubah pakem inti dari seni tradisional tersebut.

"Misalnya, seni begalan ini. Ini adalah seni khas Banyumas. Tapi bagaimana orang tetap mau memakai ritual begalan, itu harus juga sesuai dengan kebutuhan pesta pernikahan masa kini, tanpa harus menghilangkan unsur dan nilai-nilai luhur budayanya," kata dia.

sumber: http://www.kompas.com