Sabtu, 17 April 2010

LEGENDA PATIKRAJA

Patikraja zaman dahulu adalah lokasi penyeberangan perjalanan menuju Pantai Selatan. Hingga di daerah ini diutus seorang tukang seberang bernama Joko Rekso.

Lokasi penyeberangan waktu itu jika di lihat masa sekarang berada di grumbul "Tambangan". Di lokasi ini juga terdapat Air Pethuk Telu atau bisa disebut juga air pertemuan tiga aliran sungai, yaitu Sungai Serayu, Sungai Logawa dan Sungai Rajut.

Konon air pethuk telu diyakini sebagai air keramat guna laku mandi penyucian jiwa. Hingga banyak kalangan dari berbagai kerajaan banyak berdatangan untuk melakukan mandi penyucian jiwa. Dilain pihak lokasi air pethuk telu juga sering digunakan sebagai tempat pelarungan (penghanyutan) abu jenazah. Lokasi ini terkenal di segala penjuru wilayah.

Hingga pada suatu ketika datanglah bencana banjir yang sangat dasyat memporak porakan hampir seluruh wilayah pinggir sungai termasuk daerah yang sekarang di sebut Patikraja. Nasib Joko Rekso sang petugas penyeberangan tak diketahui, sampai saat Tunggul Ametung memerintahkan penggantinya bernama Tunggul Rejo. Sehingga di bantaran sungai Serayu dibangun petilasan untuk mengenang Joko Rekso.
Pada masa tugas Tunggul Rejo di wilayah ini juga dibangun sanggar pembakaran mayat, yang pernah ditemukan petilasan/bekas lantai bangunanya tepatnya 100m arah selatan balai Desa sekarang.

Tahun berganti tahun, masa tugas Tunggul Rejo di wilayah ini, hingga pada suatu saat terjadilah hal yang sangat menakjubkan. Saat itu seorang Raja (entah raja darimana) telah dikramasi, setelah dikumpulkan abu jenazahnya ternyata ada satu gigi sang raja yang masih utuh tak terakar. Takut terjadi kesalahan, maka diulang kembali untuk dibakar. Tapi setelah berulang ulang ternyata tetap saja gigi sang raja utuh tak berubah jadi abu. Berita keganjilan ini menyebar ke seantero jagad dan sampai ke telinga sang adipati Tunggul Ametung di Tumapel. Atas kesepakatan warga dan jadi keputusan sang Adipati maka wilayah ini dinamakan PATIKRAJA.

Patik berarti Gigi, jadi Patikraja adalah Gigi sang Raja.

Demikian kira kira legenda yang saya dapatkan dari ceritera seorang sesepuh Desa Patikraja. Benar tidaknya ceritera tersebut hanya Sang Kuasa yang mengetahui secara pasti kebenarannya.

*****

Patikraja 2009

Patikraja di tahun 2009 ini adalah salah satu Desa di Indonesia di Propinsi Jawa Tengah, tepatnya dibawah pemerintahan Kab. Banyumas, dan merupakan salah satu desa di Kecamatan Patikraja. Letak Desa Patikraja berada kurang lebih 120 KM sebelah selatan Gunung Slamet dan 8 KM sebelah selatan kota Purwokerto. Berdasarkan keadaan geografis, wilayah Patikraja berada diantara dua aliran sungai, yaitu Sungai Serayu dan Sungai Logawa, yang bertemu di ujung barat daya wilayah Patikraja sendiri.

Menurut temuan beberapa penyelidik yang pernah singgah di Desa Patikraja, di perkirakan sekitar tahun 241 SM wilayah Patikraja pada keseluruhan masih berbentuk hamparan air. Dimungkinkan kedua sungai tersebut (Sungai Serayu dan Sungai Logawa ) bertemu arus di Desa Patikraja. Dengan beberapa bukti temuan ; saat penggalian sumur, 15 m di bawah permukaan tanah, struktur tanah Desa Patikraja berupa pasir dan lumpur beserta di temukannya gelondongan kayu jati yang telah lapuk. Sedang untuk lapisan tanah liat cuma mencapai kedalaman 5-7 m,selebihnya berlapis ke bawah berupa cadas,sirtu(pasir batu)jadi di perkirakan kurang lebih 2250 tahun. Proses penumpukan material dengan perkiraan per 1 m proses penumpukan adalah memakan waktu 150 tahun.

Dihitung mundur dari tahun 2009 maka titik keadaan 15 meter di bawah permukaan tanah adalah 15x150tahun=2250 tahun, jadi 2009-2250=-241 atau tahun 241 SM. Diteliti dan diperkirakan berdasarkan struktur tanah mengandung nilai humus/partikel tumbuhan lebih dominan pada kedalaman -8 s/d 0 m. Jika dihitung maka 8x150th=900 th. Jadi antara titik keadaan tersebut tepatnya 2009-900=1109 => pada tahun 1109 keadaan Desa Patikraja telah ditumbuhi pohon besar hingga tumpukan daun membentuk struktur tanah humus, namun masih tercampur material batu dan pasir. Diperkirakan luapan kedua sungai masih mampu merambah seluruh wilayah.

Demikian keadaan secara teoritis wilayah patikraja.

Sumber : http://patikraja-patikraja.blogspot.com/