Rabu, 21 April 2010

Kondisi Sosial Ekonomi Patikraja Jaman Belanda

Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan badan dan kesehatan lingkungan sangat ketinggalan. Angka kelahiran tinggi, sedangkan kematian bayi dan balita juga besar. Banyak keluarga yang beranak sampai 10 bahkan 12 orang, yang bisa berumur panjang hanya 1 atau 2 dan 3 orang saja. Jarak kelahiran sangat pendek sekali, hanya selang satu tahun atau satu setengah tahun. Banyak kawin muda (kawin di bawah umur) banyak lelaki berisitri lebih dari seorang.
Bagi yang mampu taraf ekonominya dan para perangkat desa umumnya anak-anak mereka bisa berumur panjang sampai dewasa dan mempunyai kedudukan yang terhormat di masyarakat karena menjadi pegawai. Rumah-rumah mereka sudah banyak yang memenuhi syarat kesehatan dan konsumsi makanannyapun sudah agak meningkat, tidak saja sayuran dan hasil bumi, tetapi ikan, daging ikan laut yang harganya mahal disamping makanan-makanan kaleng seperti layaknya warga Belanda.
Masyarakat miskin maksimal menyantap makan hanya dengan ikan asin atau gesek/gereh. Itupun pengganti hanya garam dapur dan sayur bening saja setiap makan dan juga lalapan atau urapan daun-daun ketela, daun pepaya, daun kecipir dan daun lembayung. Bagi masyarakat yang mendiami daerah aliran sungai ataupun irigasi umumnya pandai mencari ikan. Ada yang dengan cara mancing, menjala, merogoh di sela-sela bebatuan, nener, nyeser sampai menjaring dengan cara beramai-ramai 4 sampai 5 orang satu jaring. Ada lagi cara mencari ikan secara besar-besaran yangdisebut bududan. Caranya kali di musim kemarau karena alirannya kecil di bendung dengan batu-batuan dan dipadatkan dengan rerumputan/jerami. Bendungan yang dibuat menyerong ke hilir. Pada ujung sebelah hilir bendungan dipasang bubu-bubu besar dari anyaman bambu, ikan-ikan terbawa masuk dan sulit untuk kehiar dari bubu perangkap.
Untuk mencari udang dibuatlah rumpon yaitu tumpukan batu-batu kecil berderet-deret sepanjang sungai di musim kemarau. Rumpon tadi dibiarkan selama 4 atau 5 hari saja.
Jembatan Kali Logawa, Patikraja - Notog

Bila sudah tertimbun tumbuhan lumut baru di buka dengan cara, bubu agak lebar dengan garis tengah 50 cm dipasang di bagian bawah rumpon terlebih dahulu bubu diisi batu-batuan sampai penuh, kemudian baru dipasang miring mwnghadap ke arah hulu. Rumpon dibongkar dari arah hulu pelan-pelan agar udang yang telah masuk ke sela-sela sisa rumpon dan akhirnya masuk kedalam bubu.
Kebutuhan air untuk memasak, mencuci dan mandi masih air alami yaitu air sungai yang masih jernih, air dari sumber mata air, air penampungan pada kolam-kolam tepian desa dari air pegunungan yang meli-mpah. Dalam rumah tangga masih jarang yang memiliki sumur galian. Bila ada keamanannya kurang diperhatikan. Pagar pelindung lubang sumur hanya dibuat dari anyaman bambu atau tumbuh-tumbuhan sejenis perdu. Mereka belum mengenal timba dan kerekan. Yang digunakan untuk mengangkat air dari dalam sumur di sebut senggot yang peralatannya pintalan bambu muda untuk talinya, sebatang bambu yang lurus serta batang pohon sebagai penyangga katrol bambu. Embernya menggunakan beliung, yaitu pelepah daun jambe yang diikat pada dua ujung pangkalnya sepanjang kira-kira 40 cm membentuk cekungan. Pada kedua ikatan diberi kayu atau bambu pegangan, kemudian diikatkan pada ujung tali senggot.
Tempat menampung air menggunakan telompak yang dibuat dari batang kayu lebar 40 cm panjang 75 cm, menyerupai lesung kecil. Telompak selain digunakan untuk penampungan airuntuk mencuci juga digunakan untuk "kungkum" atau merendam diri bagi anak laki-laki bila akan dikhitankan.
Penambang Pasir di Kali Serayu

Alat membawa air dari sumur atau mata air menggunakan lodong yaitu 3 atau 5 ruas bambu yang tengahnya dilubangi. Lodong yang kecil namanya kokok dan tempurung kelapa juga bisa untuk membawa air adapun namanya beruk atau kuthuk. Masyarakat pedesaan belum menggunakan sarana air minum dari seng atau aluminium. Karena selain harganya mahal, bila membeli harus kekota.

Cara berpakaian pada zaman ini masih sangats ederhana. Para wanita setiap harinya hanya mengenakan kutang atau BH lebar untuk sekedar menutupi aurat bagian dada. Pakaian bawah mengenakan kain tenun atau kain batik pasar. Bagi kaum laki-laki hanya menutup aurat menggunakan kain tenun yang disebut LANCING, kemana mereka bepergian selalu lancingan dengan berbaju Cina, karena membelinya kepada pedagang Cina. Biasanya berwarna putih. Istilahnya "baju Kelang". Anak-anak dibawah umur kebanyakan bugil sampai berumur menjelang khitan baru mengenakan celana yang disebut "kathok kodokan" karena celana itu menyerupai bentuk badan katak yang menutupi bagian badan saja dari batas pangkal paha ke atas sampai pada ketiak saja.
Kaum piyayi dan keluarganya sudah agak baik cara berdandan. Wanitanya menggunakan kain batik dan kebaya model kartini. Kaum laki-laki mengenakan bebed yaitu kain batik halus, berjas dan ikat kepala, bisa blangkon ataupun iket atau destar. Bahkan para priyayi masih dilengkapi dengan topi gabus warna putih. Mereka-merekalah yang akhirnya sebagai Pegawai Pemerintah yang siap untuk terjun di bidang politik yang dimotivasi oleh Bung Karno, Ki Hajar Dewantara, Dr. Sutomo, dan Dr. Wahidin Sudiro Husoso. Mereka membuat jaringan pergerakan di bawah tanah, sebagai cikal bakal tumbuhnya Kesadaran dan Semangat Nasional.

Diantara pejuang, dari desa Notog ada yang menjadi Sekretaris Budi Oetomo. Beliau adalah almarhum Penatus Suparno Suryosuprojo, seangkatan dengan almarhum Dokter Angka Purwokerto. Setelah meninggal tenyata almarhum ini mempunyai gelar penghargaan dari pemerintah RI berupa gelar pahlawan "Perintis Kemerdekaan" dan mendapat tunjangan hari tua.
Keterbelakangan pengetahuan kesehatan mengakibatkan timbul penyakit masyarakat. Pertama rumah tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat kesehatan juga karena kebersihan lingkungan yang kurang dimengerti dampaknya. Sebagai contoh. buangan air limbah dapur tidak dibuatkan septi tank atau penampung tertutup. Air limbah dibiarkan menggenang di belakang rumah. Buang hajat cukup di sungai, dan bagi yang jauh dari aliran sungai hanya membuat lubang yang ditutup dengan potongan-potongan bambu. Lubang tempat jongkok selalu terbuka tak ada tutupnya. Ini menjadi sarang lalat dan baunyupun tak sedap.

Bagi yang memelihara ikan ikan dikolam, air kolam digunakan untuk mencuci gerabah, mencuci beras dan sayuran, bahkan oleh para santri digunakan untuk mengambil air wudlujuga. Memang yang biasa memeliahara kola/^dalah para ulama yang mendirikan surau atau masjid, sehingga para santrinya dengan mudah memanfaatkan air kolam ikan untuk bersuci bahkan mandipun ada yang disitu.
Akibat dari keterbelakangan cara berpakaian. hal sanitasi dan kesehatan badan maka banyak penyakit yang di derita masyarakat. Penyakit yang menular di kala itu adalah: malaria yang oleh masyarakat disebut "panas-tis", campak atau cacar yang biasanya di derita oleh anak-anak, kusta atau lepra, gatal-gatal, bisul atau wudun, koreng semacam luka yang terinfeksi dan borok yaitu luka terinfeksi yang membusuk dan melebar lagi berbau pula. Penyakit cangkrang semacam bisul yang bernanah di seluruh jari tangan, di ketiak dan di pangkal paha.

Penderita sakit malaria hanya diobati secara tradisional. Cukup dengan minum air bratawali yang sungguh pahit rasanya, atau makan daun pepaya. Luka karena senjata tajam atau kaena akibat jatuh hanya ditutup dengan lumatan daun petai cina atau daun bandhotan. Luka-luka kecil hanya di balut dengan kulit batang lumbu saja. Bagi penderita penyakit kuli "cukup dibersihkan dengan cara di rendam atau merendam pada air garam, kenudian dioles dengan lumatan beras kencur ditambah buah asam. Kalau dilulurkan kepada si penderita rasanya sangat panas dan pedih.
Penderita penyakit campak hanya dimandikan dengan air cucian daging ayam kemudian dilulur dengan beras kencur saja. Penyakit koreng dan borok hanya diobati dengan ramuan-ramuan daun ketapang dan diberi belerang saja. Dan banyak lagi obat-obat tradisional yang digunakan untuk menyembuhkan beberapa macam penyakit.
Lebih menyedihkan lagi ialah penyakit yang menimpa anak balita, seperti : Typus, Kolera dan Dysentri yang penyebab utamanya adalah makanan dan minuman yang terjangkit kuman dari kotoran-kotoran binatang. Sebagaimana dimaklumi, di caman itu hewan-hewan piaraan sangat banyak sejenisnya seperti : lembu, kerbau, ayam, itik bahkan anjing adapula yang memeliharanya.
Kotoran-kotoran binatang itu berceceran di mana-mana. Di jalan kampung, gang-gang, dan lorong. Cara membuat kandangpun sangat jorok. Umumnya berdekatan dengan rumah kediaman, bahkan ada yang serumah dengan pemiliknya hanya dibatasi dengan pagar pemisah saja. Kandang kuda, lembu atau kerbau yang jumlahnya lebih dari seekor di taruh di depan atau samping rumah.
Penempatan hewan piaraan yang demikian memang beralasan, yaitu soal keamanan. Sering terjadi pencurian hewan ternak di desa. Kotoran binatang itu jelas pembawa penyakit, terutama di musim kering sering terjadi wabah.
Angka kematian ini memang disebabkan oleh faktor kebersihan lingkungan. Tidak jarang kematian bayi selain faktor lingkungan juga karena banyak wanita yang kawin muda yang secara fisik belum siap untuk hamil dan melahirkan. Faktor lain disebabkan kurang pengetahuan para dukun beranak yang masih menggunakan cara tradisional. Bagi dukun beranak yang pandai dan selalu berhasil dalam merawat bayi
dan sang ibu, biasanya terlalu banyak pasien tanggungannya dari kalangan orang mampu, sehingga bagi yang kurang mampu bisanya minta tolong kepada dukun beranak seadanya.
Dari perawatan dukun beranak yang kurang keahliannya ini sering terjadi kecerobohan cara merawat bayi. Misalnya telinga bernanah akibat kemasukan air yang tidak diketahui. Bentuk tulang kaki yang melengkung keluar (o been) dan melengkung ke dalam (x been) adalah akibat bayi yang dibarut (diselimuti kain dengan ketat pada
seluruh badannya) terlalu ketat atau terlalu longgar membalutnya. Mata juling, rabun mata juga diakibatkan penerangan di waktu malam yang tidak normal sewaktu masih bayi masih belum tidur. Bayi sesak nafas akibat adanya asap kulit padi (merang) yang untuk perapian pengusir nyamuk setiap malam. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain tentang kelainan yang terjadi waktu persalinan.
Yang jelas masyarakat di kala itu belum mau berobat ke dokter atau rumah sakit dengan alasan masih ada dukun yang masih mampu mengobati segala penyakit, anehnya lagi mereka takut si suntik (diinjeksi) oleh mantri klinik ataupun di operasi dokter.

Bila suatu daerah atau desa timbul wabah penyakit, baru pemerintah kolonial mengirim petugas kesehatan dari kabupaten. Biasanya yang dikirim adalah : mantri malaria, mantri cacar, mantri kakus. Setiap pengiriman seorang mantri bilamana ada wabah penyakit yang sesuai dengan bidang masing-masing. Pada umumnya bayi lahir jarang yang diinjeksi virus anti cacar.
Untuk mengatasi bahaya paceklik di musim kemarau maka di desa-desa didirikan lumbung padi yang disebut lumbung desa. Bagi setiap penggarap sawah atau kulen diwajibkan menyetorkan sebagian kecil padinya untuk disimpan di lumbung. Bila musim paceklik tiba lumbung-lumbung tadi dibuka untuk dipinjamkan kepada masyarakat yang membutuhkan, dengan aturan bila mengembalikan disertai bunga berupa padi juga sesuai dengan banyak sedikitnya pinjaman padi yang diterima. Setiap setoran dan pembukaan pinjaman selalu diawasi oleh seorang mantri lumbung.
Selain bahan makanan pokok berupa beras. pada zaman ini masyarakat juga mengkonsumsi gaplek, yaitu ubi kayu yang diawetkan dan beras jagung. Karbohidrat dari kedua jenis bahan makanan pokok ini sepadan dengan beras tumbuk,
Memproduksi beras dengan cara ditumbuk mengunakan lesung dan alu, biasanya dikerjakan oleh para wanita bersama-sama. Suara dari bunyi tumbukan padi itu bisa berirama indah sesuai dengan kemampuan para penumbuk padi, suara lesung yang berirama itu disebut kotekan Beras tumbuk banyak terjual di pasaran. Untuk beras giling yang dihasilkan oleh pabrik penggilingan padi biasanya dikirim ke daerah pemasaran lain.
Makanan kecil yang dijajakan dibuat dari hasil ubi warga. Ketela pohon, singkong, pati gelang (diambil dari pohon aren), umbi-umbian, kacang tanah, dan tepung beras. Ada lagi tepung pati sagu dibuat dari sejenis umbi-umbian yang namanya sagu angkrik. Dari ketela pohon dapat dibuat makanan: gethuk. puli. cimplung, gropak, tape. Dari pati gelang dan pati sagu dapat dibuat: ongol-ongol. krupuk, bubur gelang, cendol dawet. Dari tepung beras dapat dibuat: lapis, srabi. ampyang, leper, lemper, cendol dawet dan canthir. Dari kacang kedelai dapat dibuat tempe, tahu, kecap, dan touco. Dari kacang tanah dapat dibuat jipang kacang, enting-enting dan bumbu pecel.
Minuman yang dijajakan: dawet dari tepung beras yang diberi cairan gula kelapa dengan aroma harum daun pandan wangi tanpa air santan. Cam cau yang dibuat dari perasan daun cam cau, tuak yang dibuat dari air tape yang diawetkan atau nira kelapa yang diawetkan pula.

Masyarakat baru mengenal jenis makanan roti dari tapioka yang disebut roti dalia yang bentuknya seperti mahkota bunga dahlia. Roti dari terigu baru roti manis saja. Itupun jarang dibeli oleh masyarakat. Sebab dianggap roti manis adalah makanan orang Belanda. Untuk makanan balita biasa msyarakat menjajakan bubur dari tepung beras yang diberi cairan gula kelapa dengan menggunakan aroma daun pandan wangi, namanya bubur sungsum. Bila memberi makan bayi dan balita diberi makan lumatan nasi lemas dicampur pisang ambon atau hanya buah pisang ambon saja yang dihaluskan, bisa juga diberi tetesan madu asli. Bila balita buang air besar tidak normal dan mencair hanya diobati dengan cara diloloh (diminumi dengan paksa) dengan tumbukan ramuan daun jambu biji ditambah kunyit dan garam sedikit dicampur air.

Sumber : http://sismanan.blogspot.com/2010/01/kondisi-sosial-ekonomi-patikraja-jaman.html