Rabu, 14 April 2010

No Arm … No Finger Photographer

photographer: sofwan.kalipaksi

Rusidah has no arm, neither finger. But, she is a photographer. She live’s at a small town in Central Java: Purworejo. Precisely at Desa Desa Botorejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. She lost her arm while she was 12 years old.
She has a strong commitment to prove her job as a photographer. Her client such as a Head of Residence (Bupati) and his wife. They ask Rusidah to become an official freelancer photographer.

photographer: sofwan.kalipaksi

You can see, Rusidah photograph his son with her BROWN SR-2000. She got the camera from Head of Central Java Province, H. Mardiyanto (now he is an Internal Affairs Minister of Republic Indonesia). Before the BROWN, Rusidah also received many camera from government as a reward for her struggle to became a strong handicapped woman, such as PENTAX K-1000, plus 36 roll film KONICA ASA 100.

photographer: sofwan.kalipaksi

Rusidah still has an obsession to build a small photography studio to serve her clients. But now, after the digital camera era’s she has no one digital photo camera.

RUSIDAH, tak putus asa dengan kecacatan tubuh yang dialaminya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Wanita yang hanya memiliki tangan sebatas lengan atas hingga siku ini, ternyata mampu menekuni profesi sebagai seorang fotografer, sebuah profesi yang sangat memerlukan kelihaian jari jemari tangan yang jelas-jelas tak dimilikinya.Selain menerima panggilan untuk mengabadikan berbagai momen seperti pernikahan dan acara-acara di lingkungan kantor pemerintahan Kabupaten Purworejo, Rusidah juga mengelola studio kecil, yang sebenarnya belum bisa dikatakan studio, di rumahnya di Desa Botorejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.Keteguhan hati Rusidah untuk tak mau menyerah dengan nasib sebenarnya sudah terlihat sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Meskipun cacat, Rusidah bersikeras untuk terus sekolah dan ingin menjadi juru foto.Beberapa kali sudah Rusidah menerima bantuan peralatan fotografi dari pemerintah. Tahun 1995, Rusidah pernah menerima kamera jenis PENTAX K-1000, plus 36 roll film KONICA ASA 100.

Berbekal bantuan stimulan itulah kiprah Rusidah sebagai fotografer dimulai. Rusidah pun mulai sering dipanggil untuk meliput berbagai kegiatan PKK pimpinan isteri Bupati Purworejo tadi.Tahun 2004, Rusidah kembali menerima satu set kamera BROWN SR-2000. Kamera itu bahkan diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto.Rusidah juga sering menerima order dari sekolah-sekolah di sekitar Kecamatan Bayan. Tahun 1996, ia pernah menjadi juru foto kegiatan perkemahan Pramuka SMP 5 di Lapangan Kaliboto. “Sejak itu masyarakat tahu kiprah saya. Apalagi ada koran yang menulis tentang saya,” kenangnya. Jika dihitung-hitung, dari profesinya itu Rusidah bisa mendapat tambahan penghasilan sebesar Rp200 ribu sampai Rp400 ribu sebulan. “Tergantung sedikit banyaknya order,” lanjutnya.

Sekarang ini, masih ada ’secuil’ cita-cita Rusidah yang belum sempat tercapai. “Saya ingin buka studio foto kecil-kecilan di pinggir jalan,” ungkapnya.

***