Jumat, 21 Mei 2010

Pak SARNO "Dokter Kincir" Cilongok

Masih lekat di benak Sarno Ichwani (51), gelapnya malam di kampungnya, Dusun Kali Pondok, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, pada tahun 1980-an. Kalaupun ada terang, hanya nyala lampu minyak atau senthir sebagai penerang 29 rumah di dusun yang berada di lereng barat daya Gunung Slamet kala itu.

Namun, sejak usaha Sarno tak kenal lelah memperkenalkan kincir air sebagai pembangkit listrik sederhana, Dusun Kali Pondok kini pun menyala kala malam tiba. Bahkan, pada saat di banyak daerah—termasuk di Ibu Kota Jakarta—masyarakat dibuat jengkel dengan pemadaman listrik bergilir oleh PLN, listrik di Dusun Kali Pondok tetap menyala 24 jam.

• Lahir: Banyumas, 19 September 1958
• Pendidikan: SD Negeri Karanggondang (sampai kelas IV)
• Istri: Tuminah
• Anak: 3
• Pekerjaan: Petani



Sebagai dusun yang terletak di lereng gunung, Kali Pondok memiliki banyak aliran sungai. Hampir semuanya mengalir di tebing-tebing curam. Bahkan, ada 10 air terjun di sekitar dusun ini yang ketinggiannya rata-rata di atas 10 meter, selain puluhan grojogan sungai. Salah satunya adalah Curug Cipendok yang sekarang menjadi obyek wisata ternama di Banyumas.

Di Desa Karangtengah, khususnya Dusun Kali Pondok, terdapat banyak potensi pengembangan listrik kincir air atau mikrohidro. Saat ini terdapat sekitar 30 kincir air sederhana milik warga, yang menjadi sumber listrik bagi 59 keluarga di kampung yang berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut itu.

Satu kincir air dapat menyuplai 2-4 rumah dengan daya antara 400 watt sampai 900 watt. Kincir-kincir itu kini juga menjadi sumber listrik bagi sejumlah penginapan di obyek wisata Curug Cipendok.

Kestabilan aliran sungai-sungai dari lereng Gunung Slamet sepanjang tahun membuat kincir air selalu berputar. Listrik pun dapat dinikmati warga secara gratis selama 24 jam penuh.

Sebenarnya Dusun Kali Pondok bukan satu-satunya perdusunan di Banyumas, khususnya di lereng Gunung Slamet, yang mengembangkan kincir air sebagai sumber listrik. Di sejumlah dusun di Kecamatan Kedungbanteng dan Baturraden, hal tersebut juga dikembangkan.

Akan tetapi, di Dusun Kali Pondoklah teknologi alternatif sederhana ini masih terus berkembang. Di dusun-dusun lain telah mulai surut seiring mengecilnya debit air sungai dari tahun ke tahun.

Namun, kemudahan itu tak datang dengan sendirinya. Menjaga agar limpahan aliran sungai tetap stabil juga bukan kerja mudah.

Dusun Kali Pondok sebenarnya relatif baru. Dusun yang terletak sekitar 20 kilometer arah barat laut Kota Purwokerto itu baru dihuni tahun 1970-an. Kala itu sebagian besar wilayah dusun ini masih berupa hutan di bawah pemangkuan Perhutani.

”Waktu itu baru ada 20 keluarga. Rumah-rumahnya pun beratap lalang. Jalannya masih setapak dan penerangannya hanya lampu senthir. Jadi, gelap sekali,” tutur Sarno.


Sempat dicibir

Hingga tahun 1987, saat jumlah penghuninya 30 keluarga, keadaan tak banyak berubah. ”Dulu, sebelum ada kincir air, kami pernah mengajukan penyaluran listrik ke PLN. Itu sekitar tahun 1987. Tapi, bertahun-tahun tak pernah direalisasi karena memang lokasi dusun kami di atas lereng dan sulit dijangkau,” kata Sarno, yang dipercaya sebagai ketua RW setempat.

Ketiadaan listrik itu membuat potensi wisata Curug Cipendok di dusun tersebut pun terpendam. Kehidupan masyarakatnya pun juga sangat sederhana, apalagi untuk sampai ke pusat desa terdekat mereka harus berjalan kaki 2 kilometer karena tak adanya angkutan serta sulitnya medan.

Hingga suatu ketika pada tahun 1989 Sarno bertemu dengan temannya, Jono, asal Desa Semaya, Kedungbanteng, yang memperkenalkan teknologi kincir air. Di Semaya, kincir air lebih dahulu dikembangkan sebagai sumber listrik.

Sarno lalu pergi ke Pasar Wage di Purwokerto untuk membeli dinamo bekas motor Honda CB, dua balok magnet, kabel kumparan, tali karet hitam, dan kabel penghantar arus.

”Waktu itu saya belanja habis Rp 100.000. Lalu saya rangkai dengan roda kayu pemutar yang berjari-jari 50 sentimeter dan roda kecil berjari-jari 20 sentimeter,” kata Sarno.

Maka, jadilah kincir air percobaan Sarno, yang sekolah dasar saja tak lulus itu. Kincir air itu ditempatkan di tengah arus hulu Sungai Wadas. Pada percobaan pertama itu Sarno gagal, dia tak mendapatkan arus listrik.

Berhari-hari lamanya Sarno mencoba dan terus mencoba membuat kincir air itu berfungsi. Usahanya ini pada awalnya dicibir tetangganya. Tak ada bekal pendidikan memadai yang dimiliki Sarno. Selain itu, kincir air sebagai sumber listrik dianggap sesuatu yang mustahil bagi warga Dusun Kali Pondok yang hampir semuanya petani itu.

Hingga suatu ketika Sarno berhasil membuktikan, kincir airnya menghasilkan arus listrik. Sejak itu rumahnya menjadi terang oleh listrik.

Satu per satu tetangganya meminta dibuatkan kincir air. Dengan senang hati, Sarno membuatkannya, gratis. Hingga akhirnya kini ada 30 kincir air di desa itu sebagai pembangkit mikrohidro.

Seiring hadirnya listrik, Dusun Kali Pondok pun mulai menggeliat. Investor mulai melirik pengembangan wisata di Curug Cipendok. Jalan beraspal dibuat di dusun ini. Warung-warung dan industri rumah tangga bermunculan.

Setiap ada kerusakan pada kincir air Sarnolah yang pertama dipanggil warga untuk memperbaiki. Dengan senang hati, dia selalu melakukannya, tanpa memungut biaya. Tak heran, para tetangga menyebutnya ”dokter kincir”. ”Yang penting dusun ini tak kekurangan cahaya, saya sudah bahagia,” kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini.


Menjaga lingkungan


Sarno sadar, keberadaan pembangkit listrik mikrohidro di kampungnya sangat bergantung pada aliran sungai-sungai yang bersumber dari hutan di lereng Gunung Slamet. Kerusakan hutan akan membuat sungai-sungai itu surut airnya. Otomatis, malam yang suram bakal kembali terjadi di Kali Pondok.

”Desa-desa lain di lereng Gunung Slamet yang dulu pakai kincir air sebagai listrik banyak yang mulai surut. Debit air sungainya turun karena sebagai hutannya mulai dirusak,” kata bapak tiga anak ini.

Kesadaran itu yang membuat Sarno mengajak warga Dusun Kali Pondok untuk tak lelah turut menjaga kelestarian hutan di lereng Gunung Slamet, khususnya di atas dusun ini.

Sarno sering kali mengajak warga sekitarnya untuk ikut menanami kembali lahan yang telah digunakan untuk bercocok tanam dengan tanaman keras. Dengan cara itu, air tetap tersimpan di bumi Kali Pondok.

Satu harapan Sarno adalah adanya perhatian pemerintah untuk pengembangan teknologi yang lebih baik bagi pengembangan listrik mikrohidro di sekitar Kali Pondok. Dia yakin, dengan potensi berlimpah, tak hanya Kali Pondok yang dapat bersinar terang, tetapi juga listrik bertenaga air itu pun akan dapat menerangi satu kecamatan di Cilongok, bahkan Banyumas bagian barat.

*****


Sumber: www.kompas.com