Senin, 10 Mei 2010

Sugeng Wiyono, Kolektor Foto Banyumas Tempo Dulu

LAKI-LAKI itu telah berumur 67 tahun. Tubuhnya tinggi kurus, rambut dan kumisnya memutih semua. Rambut dibiarkan memanjang sebahu. Kacamata tebal selalu melekat di wajahnya. Pakaiannya sederhana tetapi rapi. Ke mana-mana dia naik sepeda dan membawa sebuah tas. Hampir tak ada yang menarik untuk diceritakan dari pria tersebut.

Setelah berbincang-bincang, baru diketahui pria bernama Sugeng Wiyono itu menyimpan harta yang tak ternilai harganya bagi Banyumas. Ayah enam anak dan kakek 12 cucu itu menyimpan foto-foto sejarah daerah tersebut.
''Saya memiliki 120 helai foto khusus Banyumas dan 400-an helai foto Jakarta tempo dulu,'' tuturnya saat datang ke Perwakilan Suara Merdeka Purwokerto, kemarin.


Koleksi tertua yang dia miliki dibuat pada 1843, yaitu foto pembukaan Jalan Banyumas Buntu (sekitar 12 km). Foto ini ada dua buah, yang satu gambar pamong praja dan para pekerja tengah beristirahat dengan latar belakang tanaman yang baru ditebang.

Foto lain, orang berdiri di atas tonggak kayu, juga dengan latar belakang hutan yang baru dibabat. Foto tersebut pemberian R Soedirman, Asisten Wedana Cimanggu (kini masuk Cilacap) pada 1951.


Busung Lapar

Koleksi lain adalah foto bersama para pejabat tempo dulu di gedung Karesidenan Banyumas (sekarang untuk sekolah menengah). Dalam foto itu, tampak kerabat Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, Gubernur Jenderal Belanda (Sugeng lupa namanya), tujuh bupati di Karesidenan Banyumas (Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Karanganyar dan Wonosobo), dan para pejabat lain.

Foto dibuat pada 1921, dalam rangka pemberian tanda jasa kepada ke-tujuh bupati yang berhasil membangun saluran irigasi. Dengan saluran tersebut, masyarakat bisa bercocok tanam sehingga busung lapar yang terjadi saat itu bisa diatasi.

Warga Jalan Gunung Slamet XI/44, Perumahan Purwosari, Baturraden, itu mendapatkan foto bersama tersebut di tempat rombengan (barang bekas) di Pasar Senen, Jakarta pada 1964. Saat itu dia jalan-jalan mencari benda kuno dan menemukan foto tersebut. Setelah diteliti, dalam teks Babad Banyumas tulisan RA Wiriatmadja (25 OKtober 1898) tertulis Gedung Karesidenan Banyumas dibangun pada 1843.

Dia juga memiliki foto kepindahan Pendapa Sipanji dari Banyumas ke Purwokerto pada 7 Januari 1937. Koleksi foto prosesi pemindahan itu ada 12 helai, mulai dari pemberangkatan di Banyumas sampai saat masuk ke pendapa di Purwokerto. Foto-foto itu dia peroleh dari Ibu Wedana Gembul (Mas Cilik) pada 1978.

Ada pula foto Bung Karno saat masih menjadi mahasiswa ITB tengah melakukan pengukuran tanah dengan sebuah alat. Kegiatan itu dalam rangka pembangunan jembatan Sungai Serayu di Desa Cindaga, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas (sekitar 16 km selatan Purwokerto). Bangunan itu dirancang Ir Ruseno.


Jembatan KA

Foto pembangunan jembatan kereta api (KA) di Desa Gambarsari, Kecamatan Kebasen, Banyumas (1892-1893). Bangunan itu adalah jembatan konstruksi pertama di Asia. Pembangunannya dari kedua dua tepi sungai lalu bertemu di tengah. Peresmian dihadiri para insinyur dari Asia.

Foto saya unduh dari www.KITLV.com


Sugeng juga menyimpan foto seniman musik keroncong Banyumas, yaitu R Soetedja (15 Oktober 1909 - 12 April 1960). Jika di Solo ada Gesang yang mencipta lagu ''Bengawan Solo'', di Banyumas ada R Soetejda yang mencipta lagu ''Di Tepinya Sungai Serayu''.

R. Soetedja Poerwodibroto genap 1 abad (15 Oktober 1909 - 15 Oktober 2009). Beliau komponis asal Purwokerto terkenal di Negeri Belanda. Sebagai salah seorang tokoh pendiri RRI Purwokerto. Nama kebesarannya diabadikan dengan gedung Kesenian Suteja Purwokerto.

Foto saya ambil dari "Wall Photo"-nya Eyang Nardi di Facebook, nuwun 1000 Eyang... ;)


Nama seniman itu diabadikan pada gedung kesenian di Jalan Gatot Soebroto. ''R Soetedja memiliki biola Stradivarious Paganini buatan Sewdia 1834 dan sekarang disimpan anaknya.''

Koleksi foto lainnya, seperti situasi pameran di alun-alun Purwokerto pada 1953 dan Gedung Issola lama (sekarang pertokoan Matahari yang mangkrak). ''Foto-foto lain mungkin tak menyangkut sejarah pemerintahan Banyumas tetapi berkaitan dengan sejarah budaya daerah ini,'' ungkapnya.


Foto saya unduh dari www.KITLV.com


Walau tak menyangkut sejarah pemerintahan, koleksi foto itu sangat bermanfaat. Ketika membuat film sejarah, sutradara yang ingin mengetahui pakaian orang pada zaman itu seperti apa, bagaimana motif batik yang dipakai pria dan wanita serta motif batik rakyat kebanyakan saat itu, dapat memanfaatkan foto koleksi Sugeng tersebut.

Dia sudah mendokumentasikan koleksinya itu dalam bentuk VCD. Saat ini dia ingin membuat buku. Pria itu berharap, dokumen yang dimiliki bisa dipakai sebagai bahan untuk mengajarkan budaya Banyumas kepada para siswa. ''Sejarah Banyumas hendaknya menjadi muatan lokal agar generasi muda tahu sejarah di lingkungannya,'' harap dia.

Andai Sugeng tergiur uang, mungkin foto-foto yang sangat berharga itu kini telah menjadi koleksi Museum Leiden, Belanda. Pada 1974, saat masih bekerja di bidang pariwisata di Baturraden, dia bertemu warga negara Belanda yang mempelajari kehidupan binatang kadal. ''Saat itu, foto-foto saya mau dibeli untuk diserahkan ke Museum Leiden tetapi saya ndak mau.'' (Budi Hartono-16j)


Sumber tulisan: http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/18/ban04.htm

*****