Senin, 17 Mei 2010

SEJARAH KOTA PURWOKERTO

HISTORY OF PURWOKERTO TOWN

Ditulis oleh: Sugeng Priyadi
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Jl Raya Dukuh Waluh, PO BOX 202,
Telp. (0281) 636751, 634429 Fax. (0281) 637239


ABSTRACT


This study aims at studying the origins of the word “Purwokerto,” presently used as the name of a town in Central Java. The data-collecting methods were document analysis and interview. The collected data were analyzed by employing the historical method that comprised four steps, namely heuristic, verification, interpretation, and historiography. The result of the study showed that the pronunciation of “Purwokerto” should be consistent with the Sanskrit pronunciation system, namely “Purwakerta.” The town was closely related to the legend of Kartisara, the name of Pasir Kertawibawa used as the capital of Pasir, the tomb of Mbah Karta in Astana Dhuwur Cemetery, and legendary kingdom of Purwacarita. Historically, Purwokerto belonged to the territory of Pasir kingdom (Ancient Galuh) which might be mentioned in the Chinese gazette of the T’ang Dynasty. The modern Purwokerto emerged in 1832
when the capital of Ajibarang regency suffered from a heavy damage following a big hurricane and moved to the village of Peguwon. It was in this area where Purwokerto was built, an area known as Wirasaba, which was adjacent to Pasirluhur.

Kata Kunci: masa kuna, legenda, ibukota, and kabupaten.


PENDAHULUAN

Bacaan yang tepat untuk nama kota Purwokerto adalah Purwakerta. Purwokerto adalah bacaan berdasarkan bahasa Jawa baku yang disebut bahasa Jawa Yogya-Solo. Hal itu juga sama bagi Jogjakarta yang seharusnya dibaca Jogjakerta dan Surakerta untuk Surakarta. Bentuk kerta lebih kuna daripada karta karena lebih dekat dengan kata Sanskerta yang sudah dirujuk menjadi bahasa Jawa Kuna, kota, yang berarti dilaksanakan, dibuat, diselenggarakan, sedang berkembang, ulung, dan sempurna (Zoetmulder & Robson, 2000a: 517) atau telah selesai dikerjakan, baik, benar, aman, dan sentosa (Mardiwarsito, 1979: 291), sedangkan kata purwa berasal dari bahasa Jawa Kuna yang juga diambil dari kata Sanskerta, yang berarti permulaan, depan, bagian depan, timur, yang terlebih dahulu, terkemuka, pertama, lebih dahulu, dahulu, pada masa yang lalu, atau pada zaman dahulu (Zoetmulder & Robson, 2000b:887), atau lebih dahulu, permulaan, timur, atau depan (Mardiwarsito, 1979: 450).

Tampaknya, pengertian itu belum mengalami pergeseran dalam bahasa Jawa Baru seperti tercantum pada kamus Winter & Ranggawarsita (1988: 221) yang diartikan dengan kata wiwit, wiwitan, wétan, kina, atau wiwitan, sing dhisik dhéwé, kuna, ing kuna mula, wétan (Widada dkk., 2006: 645). Berbeda dengan kata kºta yang telah mengalami pergeseran dalam bahasa Jawa Baru menjadi karta yang berarti rahajéng, pengirid, angsal, tutup, prigel, pakantuk, rengga (Winter & Ranggawarsita, 1988: 79), atau tentrem, sarwa tata, ora rusuh, kerta (Widada dkk., 2006: 342). Dengan demikian, Purwokerto berasal dari Purwakerta yang memiliki arti disusun pada waktu permulaan. Memang agak aneh kiranya orang Banyumas menamakan kota itu dengan Purwokerto. Penamaan Purwokerto merupakan kecelakaan dan keterpaksaan sejarah karena bacaan Purwakerta atau Purwakarta dapat dikacaukan dengan sebuah kota di Jawa Barat sehingga jika mengikuti Jogjakarta dan Surakarta menjadi tidak mungkin. Begitu pula dengan Purwakerta.

Tumpang tindih nama yang mirip seperti itu juga sama pada kasus Purbalingga. Purbalingga sebenarnya dari Prabhalingga yang berarti sinar lingga karena di Purbalingga banyak ditemukan lambang Siwaistis berupa lingga. Nama Prabhalingga sering dibaca sama dengan Probolinggo di Jawa Timur sehingga akhirnya diganti
Purbalingga dengan diiringi legenda tokoh Purbasena dan Linggasena. Kedua nama
tokoh itu diambil sebagai cikal-bakal nama kota tersebut.

Legenda juga mewarnai asal-mula kota Purwokerto yang terkait dengan tokoh pendatang yang bernama Kiai Kartisara pada masa terjadinya Gégér Pacina di Kartasura. Kartisara di dalam legenda tersebut mengusulkan nama Purwakerta. Suatu nama yang tentu sangat dekat dengan nama tokoh legendaris tersebut. Legenda tersebut memperkuat tokoh lain, yaitu putra Kartisara, yang bernama Kendang Gumulung, yang memiliki perguron. Kata perguron ditafsirkan secara berangsurangsur berubah menjadi Peguwon (Koderi, 1991: 89). Tafsir legenda tadi tampaknya kurang memahami bahwa di Banyumas terdapat kerajaan bawahan Majapahit, yaitu Paguwan atau Peguwon, suatu nama yang bergeser dari ucapan Paguhan. Paguwon dalam teks-teks Babad Banyumas disebut kerajaan atau kadipaten Wirasaba.

Kemungkinan lain adalah nama Purwakerta diambil dari nama peninggalan sejarah di Arcawinangun, kecamatan Purwokerto Timur. Di situ terdapat gugusan batu yang diberi nama Makam Astana Dhuwur Mbah Karta (Atmodikoesoemo 1988: 76). Gugusan batu itu merupakan reruntuhan bangunan candi yang batu-batunya dimanfaatkan untuk pembangunan bendungan pada Sungai Pelus. Penduduk setempat menyebut bangunan itu sebagai warisan kerajaan Pasirluhur. Batu-batu gong itu disinyalisasikan sebagai bagian atas candi seperti pada candi Prambanan. Kata karta pada Mbah Karta dan karti pada nama Kiai Kartisara berasal dari bahasa Sanskerta kºta di atas yang mempunyai arti yang sama dengan kerta (Widada dkk., 2006:342).

Selain itu, Atmodikoesoemo (1988: 98) juga menyatakan bahwa Purwakerta berasal dari perpaduan nama ibu kota Pasir, yaitu Pasir Kertawibawa dan nama kerajaan legendaris di tepi Sungai Serayu, Purwacarita. Di sini, kiranya mengacu kepada kebesaran kerajaan Pasirluhur seperti kasus Mbah Karta.
Menurut cerita tutur, kota lama Purwakerta terletak di sebelah utara Pasar Wage. Tempat kediaman bupati berada di bangunan kelenteng sekarang, sedangkan Pasar Wage adalah alun-alunnya. Sementara itu, di sebelah barat alun-alun terdapat masjid dan kauman lama (Atmodikoesoemo, 1988: 98).

Cerita tutur yang mendekati kepastian muncul ketika ibu kota Kabupaten Ajibarang dipindahkan ke desa Paguwon pada tahun 1832 karena Ajibarang mengalami bencana angin topan selama 40 hari 40 malam (Atmodikoesoemo 1988:98). Paguwon sekarang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas. Bagi orang perdesaan Banyumas di sebelah selatan Serayu, kata Purwakerta akrab dibaca Puraketa, Praketa, atau Prakerta. Penyebutan Prakerta cukup mengejutkan karena kata tersebut menunjukkan nama suatu bahasa yang berlawanan dengan Sanskerta. Di India terdapat bahasa Sanskerta sebagai bahasa suci para brahmana yang berpengaruh terhadap bahasa Jawa Kuna (Zoetmulder, 1983: 10 – 20), sedangkan Prakerta adalah bahasa yang dipakai oleh masyarakat kebanyakan yang dianggap kasar, suatu kebetulan belaka, sebagaimana keberadaan bahasa Jawa dialek Banyumasan.


METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang terdiri dari empat langkah, yaitu:

(1) heuristik,
(2) kritik (verifikasi),
(3) interpretasi (penafsiran), dan
(4) historiografi (penulisan sejarah)

(Notosusanto, 1978: 35 – 43: bdk. Gottschalk, 1983: 34; dan Kuntowijoyo, 1995: 89 – 105)
. Langkah heuristik (pengumpulan sumber) sudah dilakukan pada penelitian filologi dengan mengumpulkan naskahnaskah yang berasal dari lokal Banyumas dan sekitarnya. Selain itu, naskah-naskah yang telah tersimpan pada koleksi-koleksi perpustakaan juga dilakukan dengan cara menelusuri katalog-katalog yang sudah diterbitkan. Begitu pula dengan langkah kritik yang terdiri dari kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern telah dilakukan ketika peneliti mendeskripsikan naskah, sedangkan kritik intern dilakukan ketika
peneliti melaksanakan kritik teks dengan membandingkan seluruh teks, baik Babad
Pasir maupun Babad Banyumas yang telah terjangkau. Dengan demikian, telah didapatkan fakta yang berupa fakta mental atau kejiwaan (mentifact) yang dikandung teks-teks Banyumas tersebut. Karena tujuan penelitian ini berusaha untuk menghasilkan sistem nilai budaya lokal Banyumas (sejarah ide-ide), maka kritik teks lebih dipertajam sehingga interpretasi terhadap fakta mental yang dihasilkan pada langkah yang ketiga ini lebih maksimal.

Tujuan penelitian ini berkisar pada sejarah kota Purwakerta. Oleh karena itu, pada langkah interpretasi terhadap fenomena sejarahnya, khususnya mentifact diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang latar belakang sosial-budaya masyarakat Banyumas karena karya historiografi tradisional sering cenderung mengaburkan dua macam realitas sejarah, yaitu realitas yang objektif terjadi dan realitas yang riil dalam diri. Yang pertama adalah fakta yang merupakan pengalaman yang aktual, sedangkan yang kedua adalah fakta yang berupa penghayatan kultural kolektif oleh masyarakat pendukung atau pewaris karya babad tersebut (Abdullah, 1985: 22 – 23).

Penghayatan kultural kolektif menjadi penting manakala peneliti berusaha memahami makna pada teks-teks lama karena setiap peristiwa itu selalu dimaknai oleh masyarakat sebagai penghargaan kepada nenek moyangnya sehingga terjalin menjadi pandangan dunia yang utuh (Abdullah, 1985: 24). Pemaknaan terhadap suatu peristiwa itulah yang dimengerti dan dipahami oleh masyarakat sebagai suatu realitas yang baru sehingga bisa terjadi perubahan bentuk realitas (metamorfose) pada peristiwa-peristiwa, nilai-nilai, dan tokoh-tokoh (bdk. Van Peursen, 1990:58).

Di sini bisa terjadi proses personifikasi, yaitu perubahan dari ide, nilai, dan
norma menjadi tokoh historis (Abdullah, 1985: 26) atau penokohan seperti yang
terjadi pada karya sastra, atau sebaliknya terjadi depersonifikasi dari tokoh sejarah
menjadi ide, nilai, dan norma. Perubahan bentuk yang pertama tersebut dimaksudkan
untuk melestarikan nilai-nilai yang berlaku pada periode tertentu untuk periode
berikutnya dengan cara mengkultuskan individu yang disebutkan sebagai tokoh.

Namun, pada periode selanjutnya bisa saja nilai-nilai yang diakui sangat berarti dalam hidup itu mengalami pergeseran. Perubahan bentuk yang kedua ditujukan untuk
meneruskan prestasi manusia masa lampau untuk kalangan manusia masa yang akan datang. Namun, di sini diusahakan untuk dihindari gejala kultus individu terhadap
tokoh yang dinilaikan itu. Selanjutnya, hasil interpretasi tersebut disajikan pada
langkah terakhir dalam bentuk karya sejarah (historiografi).


HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada awal Juni 2001, W.S. Rendra menghubungi penulis untuk mempertanyakan keberadaan riwayat kota Purwokerto yang menurutnya aneh jika tidak menjadi salah satu pusat kekuasaan politik pada masa lampau. Anggapan Rendra ada benarnya karena di sebelah barat kota Purwokerto pada zaman Hindu Buddha dan Islam dikenal ada kerajaan Pasirluhur sebagaimana dikisahkan dalam teks Babad Pasir yang ditulis di Pasir Wetan dan telah dipublikasikan oleh J. Knebel (1900).

Teks Babad Pasir menjelaskan bahwa kerajaan Pasirluhur adalah kerajaan yang merdeka. Artinya, Pasirluhur bukan daerah bawahan, baik Majapahit maupun Pajajaran. Berbeda dengan Kadipaten Wirasaba yang berkedudukan sebagai kerajaan bawahan atau daerah Majapahit. Teks-teks tembang Babad Pasir melegitimasikan kerajaan Pasirluhur yang
dikuasai oleh keturunan Arya Bangah yang berasal dari Galuh. Arya Bangah adalah
cikal-bakal raja-raja Pasirluhur. Silsilah Arya Bangah memang tidak dicantumkan
dalam teks Babad Pasir. Namun, silsilah Pasir Wetan dan teks Babadipun Dusun
Perdikan Gumelem mencantumkan raja-raja Pasirluhur yang juga diklaim sebagai raja-raja Galuh.


Tabel 1.

Silsilah Awal Pasirluhur


No. / Silsilah Pasir Wetan / Babadipun Dusun Perdikan Gumelem

1. / Aria Panukar / Arya Bangah = Panular
2. / Dewa Rangka Agung / Dewa Gung
3. / Dewa Manda Rangka / Agung Dewa
4. / Dewa Cirung Rangka / Carang Rahang
5. / Dewa Cirung Gandul / Hami Daha
6. / Kandha Daha Kandha / Daha
7. / Ciptarasa / Ciptarasa

(Sumber: Priyadi, 2007: 117).


Tokoh Arya Bangah hingga Kandha Daha adalah raja-raja Pasirluhur yang disebut juga raja-raja Galuh (lihat Tabel 1) karena asal-mula tokoh cikal-bakal memang berasal dari Galuh, yaitu kerajaan yang didirikan oleh Wertikandayun setelah runtuhnya Tarumanegara. Informasi itu dituturkan oleh kitab Sunda Kuna, Carita Parahiyangan. Tokoh Arya Bangah yang bertempur dengan Siyung Wanara adalah tokoh-tokoh babad yang berasal dari tokoh sejarah seperti yang tercantum dalam Carita Parahiyangan, Hariang Banga dan Sang Manarah (Atja & Saleh
Danasasmita, 1981: 43)
. Hariang Banga adalah anak dari Rahyang Tamperan atau Rakai Panaraban dengan Pangrenyep. Rakai Panaraban adalah anak Sanjaya (Raja Mataram Kuna). Jadi, Hariang Banga adalah cucu Sanjaya. Manarah adalah anak Permanadikusuma, cucu Wijayakusuma, buyut Purbasora. Purbasora adalah uwak Sanjaya. Perang antara Banga dan Manarah merupakan perang besar sesama saudara yang dapat didamaikan oleh Demunawan (adik Purbasora). Kedua belah pihak yang bertikai kawin dengan cicit atau buyut Demunawan. Manarah kawin dengan Kencana Wangi, sedangkan Banga kawin dengan Kencana Sari. Selama 20 tahun, Banga menjadi raja bawahan Manarah dan 7 tahun sebagai raja merdeka (raja Sunda). Banga bergelar Prabu Krtabhuwana Yasawiguna Haji Mulya (739 – 766 M). Beliau wafat pada tahun 784 M dalam usia 61 tahun. Gelar Banga di atas terdapat unsur kºta dan yasa yang searti dengan kerta. Dengan demikian, Banga
berkuasa pada masa sesudah Sanjaya dan Rakai Panaraban. Rakai Panaraban menurut Prasasti Wanua Tengah III (908 M) berkuasa pada tahun 706 – 725 Saka atau 784 – 803 M (Atmosudiro dkk., 2001: 4; bdk. Darmosoetopo, 2003: 29), sedangkan menurut Carita Parahiyangan pada tahun 732 – 739 M (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 50). Perbedaan kesaksian antara Carita Parahiyangan dengan Prasasti Wanua Tengah III memerlukan penelitian lanjutan di masa yang akan datang.

Sementara itu, berita dari Dinasti T’ang menyebutkan bahwa antara tahun 627 dan 649, utusan Ho-ling dan utusan dari suatu kerajaan yang berada di sebelah baratnya, yaitu T’o-p’o-teng menghadap kaisar Cina. Van der Meulen (1988: 79) menafsirkan bahwa kerajaan itu diterjemahkan menjadi Purwokerto (yang disusun di permulaan). T’o-p’o-teng menurutnya merupakan bacaan dari Tata Weteng yang searti dengan Purwokerto. Dalam rangka memperkuat argumentasinya, Van der Meulen menyebutkan adanya toponim Metenggeng dan Bobotsari, yang juga searti dengan Tata Weteng.
Ho-ling pada masa itu yang berkuasa menurut Tabel 2 mestinya raja sebelum ayah Kertikeyasingha (632 – 649 M) untuk menunjuk tahun 627, sedangkan untuk tahun 649 dapat bertepatan dengan masa kekuasaan sang ayah atau Prabu Kertikeyasingha sendiri (649 – 674 M). Kertikeyasingha adalah suami Dewi Sima (674 – 695 M).

Dugaan T’o-p’o-teng sama dengan Pasirluhur yang selama ini ditafsirkan perlu ditinjau lagi. Berarti ada kerajaan lain, yaitu Galuh Purba (Sempakwaja-Purbasora) atau Galuh Baru (Mandiminyak-Senna)? Van der Meulen (1988: 79) berpendapat bahwa Galuh Purba berkuasa atas Purwokerto yang berada di sebelah barat Holing (Bagelen). Pendapat Van der Meulen dapat dilihat dari adanya tiruan topografi Galuh di sekitar Pasirluhur. Ada kemungkinan bahwa Pasirluhur sudah ada sebelum Arya Bangah atau Hariang Banga berkuasa. Atau dapat ditafsirkan bahwa ada dua periode awal Purwokerto, yaitu (1) periode T’o-p’o-teng dan (2) periode Pasirluhur. Periode yang pertama bersamaan dengan keberadaan Ho-ling, sedangkan periode kedua bertepatan dengan masa Hindu Buddha di Jawa.


Tabel 2.

Raja-Raja Ho-ling



No. / Periode / Lama / Nama dan Gelar / Keterangan

1. / 554-570 Ç = 632-649 M / 16 / Ayah Prabu Kertikeyasingha

2. / 570-596 Ç = 649-674 M / 26 / Prabu Kertikeyasingha Mertua Mandiminyak

3. / 596-617 Ç = 674-695 M / 21 / Dewi Sima = Sri Maharani Mahisasuramardini Satyaputikeswara Istri Prabu Kertikeyasingha

4. / 617-664 Ç = 695-742 M / 47 / Rakryan Narayana = Prabu Iswara Kesawalingga Jagatnala Buwanatala

5. / 664-682 Ç = 742-760 M / 18 / Rakyan Dewasingha = Prabu Iswaralingga Jagatnata / 676 Ç pindah ke Jawa Timur (Warugasik) di Kadatwan Linggapura. Mertua Sanjaya

6. / 682-711 Ç = 760-789 M / 29 / Rakryan Limwa = Prabu Gajayana Linggajagatna

(Sumber: Ayatrohaedi & Atja, 1991: 80 – 81).

Pada periode Hindu Buddha di Jawa, Purwokerto menceritakan hegemoni Pasirluhur atas wilayah yang jelas, yakni sebelah utara Sungai Serayu. Pada masa Adipati Kandha Daha, Pasirluhur bersekutu dengan 25 kerajaan kecil di sekitar DAS Serayu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, serta pesisir selatan Jawa Tengah. Salah satunya adalah Adipati Mersi. Adipati Mersi mempunyai rivalitas dengan Adipati Kabakan yang dilestarikan pada cerita tutur masyarakat Arcawinangun. Kabakan tampaknya menunjukkan wilayah yang dikuasai oleh Sang Baka. Dalam perkelahian, Adipati Mersi terbunuh dan dibuang ke saluran air bawah tanah yang terbuat dari batu. Masyarakat Arcawinangun yang sudah melihat saluran itu memberikan kesaksian yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan bahwa diatas saluran itu dipahatkan huruf Jawa Kuna, tapi ada pula yang mengatakan huruf Arab yang dituliskan. Jasad Adipati Mersi muncul terapung-apung di bale kambang (sekarang lapangan Mersi). Memang saluran itu muncul di Mersi setelah berkelak-kelok di Arcawinangun. Rupanya, Sang Baka juga membuat sungai baru ke arah barat bagi Sungai Pelus, tapi sungai itu batal direalisasikan dan masyarakat menyebut sungai itu Kali Bakal (calon sungai). Penamaan itu tampaknya rancu, mestinya Kali Baka atau Sungai Baka. Kasus pemindahan aliran Sungai Pelus sama pada kasus pembangunan candi Prambanan. Apa yang disebut dengan Makam Astana Dhuwur Mbah Karta adalah reruntuhan candi yang tidak terpelihara. Anehnya, orang Belanda yang membangun bendungan itu malah memanfaatkan batu-batu candi tersebut.

Catatan mengenai reruntuhan candi tersebut tidak dicantumkan dalam artikel yang
ditulis oleh Van Dapperen (1932). Agaknya penulis Belanda tersebut belum mengobservasi situs-situs bagian bawah aliran Sungai Pelus. Di samping, Astana
Dhuwur, juga ada Astana Rawen sebagai pemujaan dewa matahari (Suryya). Di Arcawinangun, ada pantangan pertunjukan wayang kulit dengan lakon Parikesit, lakon pasca-perang Baratayuda. Hubungan Arcawinangun dengan Mersi diposisikan dalam cerita itu. Mersi menurut cerita tutur disebut sebagai tempat tinggal maharesi, Durna. Aswatama dari Mersi mencoba membunuh Parikesit, tetapi ia sendiri yang terbunuh dan jasadnya dibuang ke dalam saluran air bawah tanah seperti dinyatakan oleh cerita tutur versi lain. Reruntuhan candi di Arcawinangun selain dihubungkan dengan Adipati Kabakan dan cerita wayang Parikesit, juga direlasikan dengan cerita Kamandaka seperti yang dituturkan teks Babad Pasir. Namun, kiranya reruntuhan candi itu berasal dari masa yang tidak terlalu jauh setelah Prambanan. Tokoh Baka sering dihubungkan dengan perebutan kekuasaan antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa. Tokoh Baka juga dekat sekali dengan kisah legenda candi Prambanan.

Keberadaan Pasirluhur menurut teks Babad Pasir merupakan sejarah panjang dari masa Hariang Banga (dari zaman Mataram Kuna) hingga Banyak Belanak yang berkuasa pada masa Demak. Pasirluhur adalah kerajaan merdeka yang menggalang kesatuan konsentris dengan 25 negeri, tetapi lebih menonjolkan relasinya dengan Pajajaran. Pajajaran diperhitungkan sebagai kekuatan yang terdekat dengan Pasirluhur, selain Majapahit. Teks Babad Pasir menggambarkan ada tiga kekuatan di Pulau Jawa, yaitu Pajajaran (di arah barat), Pasirluhur (di tengah), dan Majapahit (di timur). Pada masa Majapahit, di Banyumas muncul kekuatan lain, yaitu Wirasaba, sebagai kerajaan daerah bawahan Majapahit. Wirasaba identik dengan Paguhan yang secara berangsur-angsur berubah menjadi Paguwon atau Peguwon. Desa Paguwon sebagai sisa-sisa kadipaten Wirasaba yang sekarang terletak di kota Purwokerto yang dipilih untuk menggantikan ibu kota Kabupaten Ajibarang.

Awal-mula berdirinya Kabupaten Ajibarang ketika Perang Diponegoro selesai, Banyumas sebagai daerah mancanegara kilen diambil alih oleh Pemerintah Belanda dan dibentuk Karesidenan Banyumas. Di Banyumas, ada dua pejabat wedana bupati, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Wafatnya Kangjeng Raden Adipati Mertadiredja I atau Bratadiningrat pada tanggal 23 September 1830 (6 Rabingulakir 1758 Je) (Soedarmadji, 1991:48) yang menjadikan Tumenggung Sokaraja, Bratadimedja diangkat sebagai penggantinya dengan gelar nunggak semi Mertadiredja II. Ketika pembentukan Karesidenan Banyumas, Kasepuhan dan Kanoman dihapuskan.

Gubernur Jenderal Johannes Graaf van den Bosch membuat surat keputusan (berupa rencana pembentukan Karesidenan, afdeeling, dan kabupaten di Karesidenan Banyumas) tertanggal 18 Desember 1830 yang hanya menyebut empat kabupaten, yaitu Banyumas (Banjoemas), Ajibarang (Adji-Baran), Dayeuhluhur (Daijoe-Loehoer), dan Purbalingga (Probolingo). Namun, dalam Resolutie van den 22 Agustus 1831, No.1 telah diangkat 5 orang pejabat bupati di Karesidenan Banyumas, yakni:

(1) Ngabehi Cakranegara dari Purwokerto diangkat menjadi bupati Banyumas,

(2) Raden Tumenggung Mertadiredja II, Wedana Bupati Kanoman Banyumas diangkat menjadi Bupati Ajibarang,

(3) Ngabehi Dipayuda dari Ngayah diangkat menjadi Bupati Banjarnegara,

(4) Tumenggung Prawiranegara tetap di Dayeuhluhur, dan

(5) Tumenggung Dipakusuma tetap di Purbalingga. Kelima pejabat di atas semuanya memakai gelar raden tumenggung (Priyadi, 2004: 159).

Tabel 3 yang menunjukkan karier Kangjeng Kalibogor, yaitu tokoh bupati pertama yang dimakamkan di Kalibogor, yaitu Kangjeng Pangeran Arya Mertadiredja II, yang wafat pada tanggal 20 September 1853 (Soedarmadji, 1991: 51) adalah tokoh yang mendirikan kota Purwokerto.


Tabel 3.

Karier Kangjeng Kalibogor


No. / Nama Jabatan / Nama Pejabat / Awal Jabatan

1. / Mantri Anom / Kraton Surakarta / Mas Wirjanadpada

2. / Ngabehi Sokaraja / Raden Ngabehi Sumadiredja / 13 Mei 1815

3. / Ngabehi Sokaraja / Ngabehi Bratadimedja / 26 Juli 1825

4. / Tumenggung Sokaraja / Tumenggung Bratadimedja / 21 Juni 1830

5. / Wedana / Bupati Banyumas Kanoman / Raden Tumenggung Mertadiredja II / 21 Nopember 1830

6. / Bupati Ajibarang / Raden Adipati Mertadiredja II / 22 Agustus 1831

7. / Bupati Purwokerto / Raden Adipati Mertadiredja II / 6 Oktober 1832

(Sumber : Soedarmadji, 1991: 46 – 51).


Raden Adipati Mertadiredja II berdasarkan Resolutie No. 1 tertanggal 22 Agustus 1831 menjabat bupati Ajibarang yang secara legenda menggantikan Tumenggung Jayasinga dengan wilayah meliputi distrik Purwokerto, Ajibarang, Jatilawang, dan Jambu (Atmodikoesoemo, 1988: 85). Jayasinga terkenal juga dengan nama Singadipa. Tokoh ini adalah salah seorang pemimpin Perang Jawa yang berasal dari Ajibarang. Menurut kepercayaan masyarakat Ajibarang, munculnya angin topan itu disebabkan oleh Raden Adipati Mertadiredja II mengambil putri Singadipa menjadi anak angkat. Singadipa adalah orang Banyumas yang menjadi anak buah Pangeran Diponegoro yang sangat anti-Belanda. Bupati Ajibarang pada waktu itu adalah bawahan Belanda sehingga Singadipa yang sedang menyamar tidak mengizinkan maksud Raden Adipati Mertadiredja II. Angin topan yang diceritakan secara tutur berlangsung 40 hari 40 malam menyebabkan kerusakan yang parah sehingga ibu kota dipindahkan ke desa Peguwon.

Perpindahan ke Purwokerto tercatat oleh Pangeran Mertadiredja III pada tanggal 6 Oktober 1832 (Soedarmadji, 1981: 5 & 1991: 51). Jadi, kabupaten Ajibarang hanya berlangsung dari tanggal 22 Agustus 1831 hingga 6 Oktober 1832. Jadi, hanya 1 tahun 1 bulan 15 hari. Perpindahan ke Purwokerto menjadikan Raden Adipati Mertadiredja II disebut sebagai pendiri kota Purwokerto dan tanggal 6 Oktober 1832 adalah hari jadi kabupaten atau kota Purwokerto sebagai pusat politik baru. Nama Kabupaten Ajibarang diganti dengan nama Kabupaten Purwokerto. Tabel 4 menunjukkan para bupati yang pernah
menjabat di Purwokerto sebelum dihapuskan pada tanggal 1 Januari 1936.

Penghapusan Kabupaten Purwokerto pada tanggal 1 Januari 1936 dan digabung dengan Kabupaten Banyumas, terdapat dua ibu kota kabupaten, yakni Banyumas dan Purwokerto. Pada waktu itu, Banyumas adalah kota terbesar di karesidenan Banyumas. Banyumas sebelum Belanda mengambil alih adalah ibu kota mancanegara kilen dengan ukuran luas alun-alun yang berbeda dengan kabupaten lainnya. Kabupaten Purwokerto adalah kabupaten kecil. Bupati Banyumas pada waktu itu adalah Sudjiman Mertadiredja Gandasubrata, bukan Kangjeng Pangeran Arya Gandasubrata seperti disebut oleh Brotodiredjo & Ngatidjo Darmosuwondo (1969: 83) pada buku karya bersama mereka. Ibu kota karesidenan dan kabupaten Banyumas dipindahkan ke Purwokerto pada tanggal 26 Pebruari 1936. Pendapa Si Panji dipindahkan ke Purwokerto pada bulan Januari 1937, sedangkan Raden Tumenggung Sudjiman Mertadiredja Gandasubrata pindah ke Purwokerto pada tanggal 5 Maret 1937 (Soedarmadji, 1981: 6). Dipindahkannya Pendapa Si Panji disebabkan oleh perkiraan bahwa pendapa kabupaten Purwokerto akan roboh karena banyak tiang kayunya yang keropos, sebaliknya Pendapa Si Panji yang usianya jauh lebih tua ketika dibongkar tidak ada bagian yang rusak (Gandasubrata, 1952: 28).

Mengapa Sudjiman lebih memilih Purwokerto sebagai ibu kota kabupaten Banyumas?


Menurut Sudjiman, kota Purwokerto lebih strategis dan dapat berkembang seiring dibukanya jalan kereta api. Namun, alasan yang subjektif adalah:


Tabel 4.

Para Pejabat Bupati Purwokerto



No. / Periode / Nama Pejabat Bupati / Keterangan

1. / 1832 – 1853 / Kangjeng Pangeran Arya Mertadiredja II / Putra Mertadiredja I, wedana bupati Kanoman Banyumas.

2. / 1853 – 1860 / Raden Tumenggung Djojodiredjo / Putra Ngabehi Kertodiredjo,
Menantu Mertadiredja II.

3. / 1860 – 1879 / Raden Adipati Mertadiredja III / Pensiun dengan Gelar Kangjeng
Pangeran Arya, Pindah ke Banyumas.

4. / 1879 – 1882 /Raden Tumenggung Tjokrosaputro / Adik Tumenggung Tjokronegoro II,
mantan bupati Banyumas.

5. / 1882 – 1885 / Lowong Tidak ada bupati.

6. / 1885 – 1905 / Raden Mas Tumenggung Tjokrokusumo / Putra Tumenggung Tjokronegoro II

7. / 1905 – 1920 / Raden Tumenggung Tjokronegoro III / Adik Tumenggung Tjokrosaputro

8. / 1920 – 1924 / Lowong Tidak ada bupati.

9. / 1924 – 1936 / Raden Tumenggung Tjokroadisurjo / Putra Raden Tjokronegoro, bupati
Ponorogo

10. / 1-1-1936 / Kabupaten Purwokerto dihapus / Masuk Kabupaten Banyumas.

(Sumber: Oemarmadi & Koesnadi, 1964: 38).


Sudjiman terlalu mencintai kota Purwokerto seperti kakeknya karena kota itu didirikan oleh kakek buyutnya, Kangjeng Pangeran Mertadiredja II. Kefanatikan Sudjiman terhadap Purwokerto menyebabkan dua orang anaknya diberi nama Adjito, mantan Kepala Pengadilan Negeri Semarang (akronim Ajibarang-Purwokerto) dan Purwoto, mantan Ketua Mahkamah Agung RI (akronim dari Purwokerto).


SIMPULAN


Bacaan yang tepat untuk nama kota Purwokerto adalah Purwakerta. Bacaan Purwokerto adalah bacaan yang memakai bahasa Jawa Yogya-Solo sebagai acuan. Orang-orang Banyumas sendiri menyebut Purwokerto dengan bacaan Puraketa, Praketa, atau Prakerta.

Tanggal 6 Oktober 1832 adalah tanggal bersejarah karena sejak itu,muncul kabupaten Purwokerto setelah kepindahannya dari Ajibarang. Kota Purwokerto dibangun di desa Paguwon atau Peguwon yang diduga merupakan wilayah Kadipaten Wirasaba atau bagian dari daerah kerajaan Paguhan, yaitu suatu kerajaan di bawah Majapahit. Raden Adipati Mertadiredja II adalah perintis atau
pendiri kota Purwokerto sehingga Purwokerto menjadi ibu kota kabupaten Puwokerto setelah kepindahannya dari Ajibarang. Mertadiredja II (pensiun gelar Kangjeng Pangeran) adalah bupati pertama yang dimakamkan di Kalibogor sehingga beliau disebut Kangjeng Kalibogor. Pada tanggal 1 Januari 1936, kabupaten Purwokerto dihapus dan wilayahnya digabungkan dengan kabupaten Banyumas.

Tanggal 26 Pebruari 1936, ibu kota kabupaten dan karesidenan dipindah ke Purwokerto.


*****


DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Taufik. 1985. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Atja & Saleh Danasasmita. 1981. Carita Parahiyangan (Transkripsi, Terjemahan, dan Catatan). Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Atmodikoesoemo, Suyadi. 1988. Babad Banyumas dan Sekitarnya. Purwokerto: tanpa penerbit.

Ayatrohaedi & Atja. 1991. Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara Parwa 2 Sargah 4. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Brotodiredjo & Ngatidjo Darmosuwondo. 1969. Inti Silsilah dan Sedjarah Banjumas. Bogor: tanpa penerbit.

Darmosoetopo, Riboet. 2003. Sima dan Bangunan Keagamaan di Jawa Abad IX-X TU. Jogjakarta: Prana Pena.

Gottschalk, Louis. 1983. Mengerti Sejarah. Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI-Press.

Knebel, J. 1900. “Babad Pasir, Volgens een Banjoemaasch Handscrift, met Vertalingen,” Verhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, deel LI: 1-155.

Koderi, M. 1991. Banyumas Wisata dan Budaya. Purwokerto: Metro Jaya. Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 9, No. 1, Februari 118 uari 2008: 106-118

Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Mardiwarsito, L. 1979. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Ende: Nusa Indah.

Notosusanto, Nugroho. 1978. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer. Jakarta: Idayu.

Oemarmadi & Koesnadi Poerbosewojo. 1964. Babad Banjumas. Djakarta: Amin Sujitno Djojosudarmo.

Priyadi, Sugeng. 2004. “Pemekaran Banyumas dalam Perspektif Sejarah,” dalam Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 5, No.2, edisi Agustus. Surakarta: Lembaga Penelitian, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Soedarmadji. 1981. “Kabupaten Banyumas,” Buku Peringatan Sadranan, edisi 11 Ruwah 1913 atau 14 Juni 1981. Purwokerto: Yayasan Pesarean Dawuhan.

Soedarmadji. 1991. “Kangjeng Kalibogor,” Buku Peringatan Sadranan, edisi 23 Ruwah 1923 atau 10 Maret 1991. Purwokerto: Yayasan Pesarean Dawuhan.

Van Dapperen, J. W. 1932. “Plaatsen van Vereering op de Zuidhelling van den Slamat Tusschen de Rivieren Peloes en Logawa,” Djawa.

Van der Meulen, W.J. 1988. Indonesia di Ambang Sejarah. Yogyakarta: Kanisius.

Van Peursen, C. A. 1990. Fakta, Nilai, Peristiwa. Tentang Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Etika. Jakarta: Gramedia.

Widada dkk., 2006. Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta: Kanisius.

Winter, C. F. & Ranggawarsita. 1988. Kamus Kawi-Jawa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Zoetmulder, P. J. 1983. Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Penerjemah Dick Hartoko. Jakarta: Djambatan.

Zoetmulder, P. J. & S. O. Robson. 2000a. Kamus Jawa Kuna-Indonesia 1 (A-0). Penerjemah Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zoetmulder, P. J. & S. O. Robson. 2000b. Kamus Jawa Kuna-Indonesia 2 (P-Y). Penerjemah Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


*****