Minggu, 22 Agustus 2010

Banyumas: Mitos dan Lahan Basah Sastra

Menyaksikan sederetan daftar ragam bentuk kebudayaan ketika pawai dan kirab budaya di Banyumas beberapa hari lalu, pertanyaan saya yang muncul adalah betulkah kota ini menjadi ’’lahan basah’’ budaya dan sastra? Atau, apakah ini menunjukkan gejala bahwa memang ada kebangkitan kaum budaya di Banyumas?

Untuk pertanyaan kedua tentu tidak akan saya bahas, karena berbagai hal saya merasa tidak mampu secara tuntas menggambarkannya. Tapi secara kasat mata kita tentu mafhum bahwa budaya Banyumasan yang secara periodik dicipta, dibangun dan lama kelamaan di hayati sebagai hasrat hidup masyarakatnya. Oleh karena budaya Banyumasan lahir dari berbagai dialog antar pandangan hidup menjadikannya seperti anatomi budaya yang terus berkembang secara organis. Artinya bentuk kebudayaan itu tidaklah hadir secara given tapi lewat proses panjang yang tambal sulam.

Menurut Koencaraningrat (1984), Banyumas merupakan wilayah marginal. Maknanya mungkin kurang lebih menganggap bahwa wilayah ini berada di luar poros budaya jawa (Jogja dan Solo). Tapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa budaya banyumasan sebenarnya memiliki akar yang sama yaitu budaya Jawa Tua. Budaya yang di kembangkan dari cultur Jawa tua itu kemudian berinteraksi dengan berbagai agama seperti Hindu, Budha dan Islam. Inilah yang menjadikannya memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan wilayah lain di Jawa Tengah. Kita bisa lihat kesemuanya dalam berbagai seni pertunjukkan, music dan tari antara lain; Wayang kulit Gagrag Banyumas, Begalan, Calung, Kenthongan, Salawatan Jawa, Bongkel, Lengger, Sintren, Aksimuda, Anggukaplang atau daeng, Buncis dan Ebeg.

Pikiran penulis melayang ke akhir abad XV, ke wilayah vostenlanden (daerah kerajaan) yang didirikan oleh R. Djoko Kahiman (1582) lengkap dengan segenap mitos dan perangkap sejarahnya. Berdasarkan data sudah ada 30 Bupati yang memimpin Banyumas, tentu sederetan panjang nama itu tak mengherankan sebab kota tua ini memang sudah sangat dini tumbuh. Dan garis fikir untuk mengambil mata rantai hari jadi kabupaten merunut pada babad (folklore) R. Djoko Kahiman yang usianya ratusan tahun itu dalam kacamata budaya tentu sangat potensial. Ini artinya masyarakat memiliki ingatan kolektif panjang tentang asal – usul dan pandangan masa lampau. Berbeda misalnya dengan kabupaten yang berusia puluhan tahun. Mitos lama yang ada pun menjadi kabur atau mungkin hanya menjadi bacaaan yang sifatnya arus kecil. Ambil perbandingan dengan Kabupaten Kebumen, kini folklore tentang Joko Sangkrib seringkali hanya menjadi wacana pinggiran bagi sedikit warganya.

Kesemuanya sebenarnya merupakan “ladang emas” bagi kaum budayawannya termasuk sastrawan. Artinya kekayaan budaya yang melimpah ruah dalam seni pertunjukkan ataupun ingatan kolektif dan imajinatif itu memiliki kesanggupan untuk diolah dan dieksplorasi menjadi karya sastra kelas dunia.

Penulis ingat bahwa bahkan Nietzche dalam menuangkan gagasan filsafatnya tentang Will to Power berangkat dari sebuah mitologi dari bangsa Persia. Tokoh yang diangkat pun tak tanggung tanggung seorang arif bijak yang bernama Zaratustra. Jadilah novel itu betul – betul luar biasa karena masih dikaji walaupun diterbitkan seraus tahun lebih. Hal ini bsa jadi karena kemampuan pengarangnya mengangkat ingatan masa lampau dan mengawinkannya dengan gagasan filosofis yang genial.


Potensi Sastra Banyumasan

Namun tentu kesemua gambaran tadi hanya menyediakan bahan mentah saja. Pada akhirnya semua toh kembali pada hasrat, kemampuan dan kemauan untuk menciptakan jenis karya yang betul – betul menampilkan eross dan semangat hidup masyarakat Banyumas. Hanya saja dengan menguatnya semangat lokalitas dalam bersastra menurut saya hasilnya akan sangat estetik. Dalam bahasa antropologi, Banyumas memiliki nilai magik yang mampu menumbuhkan romantika antropologia. Keunikan bahasa, budaya dan pandangan hidup itulah yang membuat hal yang berwarna Banyumas akan menarik bagi orang luar.

Hanya saja memang kajian tentang Banyumas dalam eksplorasi budaya belum segempita di Yogya, Bali, ataupun Solo. Untuk itulah estetika budaya Banyumasan menurut hemat saya perlu dikaji lebih giat oleh kaum sastrawannya agar mampu duduk sama – sama populer dalam konteks khazanah budaya. Dalam pandangan saya tulisan – tulisan Ahmad Tohari bisa jadi semacam rintisan untuk membingkai kultur Banyumas di tataran internasional. Sehingga vitalitas, harmoni dan cablaka nya orang Banyumas bukan hanya sebagai kesahajaan dan keterbukaan masyarakatnya dalam ruang dekorasi komunikasi belaka tapi ke depan hadir dalam menginspirasi untuk memperkaya kebijakan kehidupan yang dituangkan dalam bentuk – bentuk yang lebih estetik. Semoga//


Sabit Banani, Bergiat di Nyalaterang Institute,
Menyelesaikan Kuliahnya di UNSOED Purwokerto
Dimuat di Kolom Esai Radar Banyumas : 13 – 04 -2010


*****


http://nyalaterang.wordpress.com/2010/04/30/banyumas-mitos-dan-lahan-basah-sastra/