Senin, 02 Agustus 2010

SITUS BONOKELING, Banyumas

Situs Bonokeling

Situs Bonokeling terletak di Grumbul Pekuncen, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, kurang lebih 2 km arah selatan pada jalur jalan raya antara Margasana dan Jatilawang. Kalau dari Kota Purwokerto kurang lebih 20 km. Komplek Situs Bonkeling terdiri dari sebuah makam tua yang diperkirakan makam Bonokeling seorang penyebar Islam awal di Banyumas khususnya di wilayah Jatilawang dan sekitarnya, serta bangunan-bangunan yang bernuansa tradisional yang didiami oleh sebagian komunitas pendukung adat tradisi yang terkait dengan situs tersebut. Keberadaan makam dan komplek situs yang bernuansa sangat tradisional tersebut sudah ada sejak awal penyebaran Islam di Banyumas ( abad 15 Masehi ).

Hal tersebut dapat dikaji dari tata cara upacara tradisional yang menggunakan do'a do'a cara Islam namun masih sepotong-sepotong dan belum sempurna.

Bonokeling adalah tokoh penyebar Islam di Wilayah Jatilawang yang memadukan Islam dengan unsur kejawen yang sangat kuat. Rupanya ajaran yang diberikan oleh Bonokeling belum sempurna , namun Bonokeling keburu meninggal dunia. Oleh pengikutnya Bonokeling dimakamkan ditempat / kawasan itu yang dihuni oleh para pengikutnya secara turun temurrun. Mereka membangun komunitas dengan berbasis pada ajaran leluhurnya.

Di kawasan itu berdiri sebuah kompleks menyerupai bangunan pusat perkantoran Jawa klasik. Inilah rumah dinas bagi para pemimpin aliran kepercayaan Bonokeling yang disebut bedogol. Rumah tempat tinggal di namai Balai Badung, sementara tempat menggelar pertemuan di namai Balai Malang. Rumah ini memiliki balai-balai yang lapang, dilengkapi tempat duduk dari bambu. Disinilah biasa digelar beragam pertemuan dan ritual kepercayaan.

Ribuan umat Islam Kejawen (perpaduan ajaran Islam dan ajaran asli Jawa) setiap tahunnya menggelar dua ritual utama dikompleks ini. Ritual unggah-unggahan mereka gelar selama tujuh hari berturut-turut sebelum memasuki bulan puasa. Sebaliknya, upacara perlon turunan mereka adakan setelah mereka menyelesaikan masa 30 hari puasa. Ibadah Puasa merupakan salah satu dari lima perintah Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Para umat berjalan kaki dari kediaman masing-masing, menuju rumah pemimpin wilayah dan lantas bersama-sama menuju Kompleks Makam Bonokeling. Kaum laki-laki memanggul ternak seperti kambing dan hasil bumi, sementara kaum perempuan membawa bakul berisi beras, lauk pauk dan jajan pasar. Sepanjang jalan, semua anggota kelompok harus berjalan berjajar, diupayakan tanpa alas kaki dan tak boleh saling mendahului. Prosesi ini menjadi bagian dari laku prihatin untuk persiapan upacara pensucian diri selama masa puncak ritual Unggah-unggahan.

Perjalanan dipimpin pemuka umat yang dinamai bedogol wilayah. Mirip kuota ibadah haji, masing-masing wilayah setiap tahunnya sudah diberi kuota jumlah anggota yang boleh mengikuti upacara. Sebabnya lokasi hanya mampu menampung sekitar lima ribu orang. Khusus untuk mereka yang datang dari kota besar berjarak lebih dari seratus kilometer, seperti dari Jakarta dan Bandung, diperbolehkan naik kendaraan. Mereka sebelumnya meminta izin bedogol wilayah.

Para bedogol wilayah dari berbagai kota dipimpin oleh lima bedogol utama. Hanya pemuka umat paling utama, terdiri dari lima bedogol, yang berhak tinggal dan diberi semacam rumah dinas di Kompleks Makam Bonokeling. Rumah dinas para bedogol disebut Balai Malang sedangkan rumah utama untuk menggelar pertemuan di namai Rumah Bandung. Sejak ratusan tahun silam, rumah model limasan dan joglo itu hanya mengalami pemugaran. Alas rumah masih tetap berupa tanah.

Lima bedogol merupakan lambang kebaikan tokoh pewayangan Pandawa. Saat ini (2009), bedogol utama dipimpin oleh Kyai Kunci Mejasari yang disepadankan dengan tokoh pewayangan Yudhistira. Bedogol selanjutnya berturut-turut adalah Wiryapada (Werkudara), Wangsapada (Janaka), Nayaleksana (Nekula) dan Padadiwirya (Sadewa).

*****

Sumber Berita : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas

http://www.banyumaskab.go.id