Sabtu, 14 Agustus 2010

Zona kuliner Cia-Cia Cilacap dan keunikan kuliner Barlingmascakeb

Janji Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Yayah Sobriyah menghadirkan zona kuliner di Cilacap benar-benar terwujud. Mengambil moment Gebyar Pedagang Kaki Lima (PKL), masih terkait dengan peringatan hari jadi Kabupaten Cilacap, pada Sabtu (27/03) lalu, sebuah kawasan yang disebut sebagai zona kuliner (culinary zone) meramaikan Cilacap di malam hari.

Zona kuliner ini mengambil lokasi di Jalan Jendral Sudirman, tepatnya antara Jalan Katamso hingga Jalan S Parman depan lapangan eks Batalyon. Sebuah lapangan eks asrama tentara infantry yang menjadi lokasi ‘evakuasi’ pedagang kaki lima yang semula berjualan di alun-alun.

Seperti janjinya, zona kuliner ini hanya digelar pada setiap Sabtu malam dan Minggu malam serta hari libur. Seperti pada Sabtu malam lalu, dibuka sebuah wahana baru untuk masyarakat Cilacap dalam mengisi hari hari liburnya, khususnya di malam hari. Wahana baru itu dinamakan “Cia Cia” (apakah berasal dari bahasa Tionghoa: cia = makan?).

Maka antara pertigaan Jl. Katamso (depan Bank Danamon) sampai pertigaan Jl. S Parman (Pos CPM), mulai pukul lima sore, disediakan gerai-gerai makanan yang dikelola oleh Pemkab Cilacap. Kerja sama dijalin dengan pihak-pihak swasta maupun BUMN. Terlihat mencolok di situ logo-logo bank BUMN (BRI), lalu ada pabrik semen di Cilacap (HOLCIM), dan perusahaan rokok.

Para pedagang tinggal menyiapkan dagangannya, karena lay out dan posisi telah ditentukan panitia. Makanan yang disediakan bisa dikatakan sudah jamak: bakso, soto, mie, nasi rames, seafood, sop, gudeg dan sebagainya. Juga snack, gorengan, kue serta minuman. Tak lupa, sambil makan para pengunjung ditemani dengan iringan musik keroncong.

Keunikan kuliner, adakah?

Dalam pengamatan BanyumasNews.com, penataan pedagang kaki lima khususnya pedagang makanan telah lebih dulu dilakukan oleh Pemkab Purbalingga. Kalau kita melewati alun-alun siang hari, akan sangat berbeda kalau kita lewat sore/malam hari. Selain di alun-alun ada juga sebuah jalan yang kalau malam hari ramai menjadi zona kuliner. Banjarnegara dan Kebumen pun masih menjadikan alun-alun sebagai pusat keramaian kuliner malam hari.

Kabarnya, Purwokerto pun tidak mau kalah. Sumber di Dinas Pariwisata mengungkapkan sedang dirancang sebuah zona kuliner untuk meramaikan Purwokerto di malam hari. Sebenarnya saat ini pun tersedia banyak gerai maupun tenda pedagang makanan yang buka malam hari. Jl. Raga Semangsang adalah salah satu contoh, yang merupakan lokasi pemindahan pedagang eks alun-alun. Kemudian jalur menuju kampus Unsoed adalah pusat makanan yang tidak terbilang jumlahnya.


Namun, lokasi yang khusus di-setting untuk culinary zone oleh Pemkab memang belum ada. Jadi, mari kita tunggu zona kuliner di Purwokerto. Kira-kira dimana ya? Di Jl. S Parman-kah? (antara perempatan Srimaya ke selatan), atau di Taman Kota eks terminal lama?

Berlomba-lomba menunjukkan keunikan ‘malam’ di antara kota-kota di Barlingmascakeb tentu menarik. Namun, adakah yang benar-benar khas dan menjadi ikon kuliner di tiap kota? Atau nyaris seragam: nasi goreng, mie godog, nasi rames, gudeg (ini dari Jogja ‘kan), gorengan, mendoan, bakso, soto? Tentu sah-sah saja menampilkan menu seperti itu, karena memang popular. Namun akan lebih baik kalau masing-masing ada keunikan. (BNC/maskurmambangblog.wordpress.com/puh)

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2010/03/29/zona-kuliner-cia-cia-cilacap-dan-keunikan-kuliner-barlingmascakeb/