Sabtu, 14 Agustus 2010

Wisata kuliner Dawet Ayu Banjarnegara

MINUMAN DAWET tentu tak asing bagi warga Banyumas dan sekitarnya. Apalagi bagi warga Banjarnegara. Rasanya yang segar danlegit membuat kita sering kangen untuk kembali meminumnya. Apalagi jika untuk berbuka puasa. Pas rasanya.....


Minumah khas Banjarnegara dawet ayu sejatinya memili prospek bagus untuk dikembangkan menjadi wisata kuliner. Dalam ajang pameran dan promosi di Pusat Rekreasi Promosi dan Pembangunan Jawa Tengah di Semarang belum lama ini bisa omset Rp 1,5 juta hingga Rp 1,8 juta per hari. Jumlah ini terpaut tinggi dengan kuliner khas Banjarnegara lainnya.

Hanya saja, kata Kordinator promosi produk kerajinan dan UMKM Banjarnegara Teguh Wiranto, untuk pengembangan potensi kuliner masih terkendala legalitas merek.”Kita pernah mengusulkan agar dawet ayu memiliki legalitas merek. Namun belum diijinkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Penyebabnya sifat dawet ayu yang tidak tahan lama. Namun melihat minat warga luar daerah yang cukup tinggi terhadap kuliner ini, diharapkan menjadi rujukan untuk pengembangan potensi tersebut dari sisi yang lain,” ungkap Teguh Wiranto.

Teguh Wiranto mengatakan pameran tersebut digelar selama 26 hari. Sepanjang pameran berlangsung produk khas Banjarnegara ini tidak pernah mengalami penurunan omset yang drastis. Rata-rata penjualan di atas 500 gelas per hari. Jika dihitung harga per gelasnya Rp 3.000 maka pemasukan rata-rata sekitar Rp 1,5 juta per hari.

Ia mengatakan tujuan dari pameran ini adalah promosi. Meski demikian melihat antusias pengunjung pameran untuk menikmati makanan khas Banjarnegara ini, kedepan bakal menjadi bahan masukan bagiDisperindagkop untuk pengembangan potensi kuliner tersebut.

Beberapa produk khas Banjarnegara yang turut dipromosikan antara lain, kerajinan Bambu Mandiraja, beberapa makanan ringan dari Bara Snack, batik Gumelem dan keramik Klampok. Untuk kerajinan bambu dan makanan ringan total omset sekitar Rp 4,8 juta. Sedangkan untuk batik gumelem dari enam yang di pamerkan laku tiga. ”Untuk keramik sendiri omset pastinya belum diketahui. Karena di kelola oleh pengrajin. Namun untuk Batik, keramik dan kerajinan bambu tujuan utamanya hanya mempromosikan produk tersebut,” katanya.

*****


Sumber: http://banyumasnews.com/2009/08/24/wisata-kuliner-dawet-ayu-banjarnegara/