Sabtu, 21 Agustus 2010

Melongok perajin batik tulis Banyumasan di Cilongok

CILONGOK boleh bangga tidak hanya karena dikenal sebagai pusat penghasil gula kelapa di Banyumas. Di bidang pelestarian seni batik tulis pun tak bisa dianggap sepele. Karena ada salah seorang warganya yang begitu loyal dan penuh pengabdian dalam upaya pelestarian seni batik tulis.


Melalui ketelatenan dan daya kreasi yang melekat dalam diri Hj Karinah (86) sehingga Cilongok memiliki aset langka dalam urusan pelestarian seni batik khususnya di wilayah Banyumas bagian Barat ini. Melalui kekayaan daya ciptanya, Hj Karinah merupakan sosok yang memiliki pengabdian tanpa pamrih dalam bereasi di bidang seni batik tulis.

Meski paling banter sebulan Hj Karinah baru dapat menyelesaikan sepotong kain batik, namun karyanya memiliki keunggulan dari bermacam sisi. Karena membatik sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh dengan pengalaman. Baik pengalaman dari perhelatan antar zaman maupun pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan formal sejak jaman penjajahan Belanda.

Hj KArinah tengah membatik (foto:ham/BNC)

“Saya mulai membatik sejak masih gadis cilik,” kata Hj Karinah kepada banyumasnews.com saat ditemui di kediamannya di Desa Bantuanten Kecamatan Cilongok, Sabtu (26/9).

Dituturkan nenek dari 28 cucu dan 8 buyut ini, sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia, dirinya sudah belajar membatik. Pada tahun 1934 Karinah lulus Sekolah Rakyat (SR) tiga tahun kemudian melanjutkan ke Sekolah Kartini di Ajibarang dan lulus tahun 1936.

Salah satu jenis batik yang tengah digarap (foto:ham/BNC)

Ketika di sekolah Kartini itulah Karinah medapatkan bermacam pelajaran kerajinan tangan, seperti menjahit, menyulam, menenun hingga membatik. Para pengajarnya dari berbagai daerah seperti Cirebon, Jogjakarta, Cilacap sedangkan guru tenun berasal dari Bali.

Setamat sekolah Kartini, dia melanjutkan sekolah pertanian di Purworejo. Sebelum akhirnya dijemput oleh orangtuanya untuk menikah, Karinah sempat mengikuti kursus kebidanan.

Batik Tulis Banyumas

Selama masa penjajahan Jepang, Hj Karinah tidak membuat batik, karena ketika itu memang kondisi bangsa pada umumnya sedang dalam kondisi melarat. Kemudian mulai membatik secara serius, ketika Hj Karinah menetap di Desa Batuanten pada tahun 1942.

Saat itu, dirinya tergugah setelah menyaksikan kondisi masyarakat setempat yang pengetahuannya serba terbatas. Demikian juga dalam hal berpakaian. Perempuan pergi ke pasar dengan tanpa busana, kecuali hanya mengenakan kemben itu hal biasa. Kemudian melalui kegiatan semacam perkumpulan wanita Hj Karinah mencoba menularkan ilmunya di bidang membatik kepada ibu-ibu di desa tersebut.

Batik Tulis Banyumas

Namun, menurut Hj Karinah, banyak para ibu yang mengundurkan diri untuk belajar membatik. Alasannya terlalu telaten dan makan waktu lama. Maklum, masyarakat setempat terbiasa dengan pekerjaannya berupa mengolah gula kelapa yang dapat diolah dalam waktu cukup singkat, lalu bisa dijual dan dapat uang. Sedangkan membatik minimal sebulan baru dapat selembar kain jarit.

Batik Tulis Banyumas

Menurut istri dari H Nurdin Kamal Mustafa, bermacam batik baik itu batik Solo, batik Jogya maupun batik Banyumas, secara garis besar sama. Adapun yang membedakan dari ketiganya adalah Sogan-nya. Misalnya Sogan Solo warnanya kuning kecoklatan, sedangkan Sogan Jogjakarta dominan warna coklat sementara Sogan Banyumasan berwarna putih. Adapun motif batik itu sendiri jenisnya lebih dari seratus.

Proses membatik sendiri memerlukan ketekunan, ketelatenan, kehati-hatian, cermat, imajinatif dan memiliki daya tahan yang tinggi. Bagaimana tidak? Sebelum dibatik, mori yang akan diajdikan emdia batik itu sendiri harus diproses sedemikian rupa agar ketika dilukis melemnya tidak kalis. Begitu selama membatik itu ada beberapa tahapan. Setiap tahapan membutuhkan waktu tersendiri yang cukup lama.

Batik Tulis Banyumas

Dari mori yang sudah siap dibatik, terlebih dulu digarisi, baik garis miring atau garis lurus sesuai dengan corak yang dikehendaki. Tahapan awal dilanjutkan dengan Diwedel, lalu dibatik lagi kemudian Dibironi, dibatik lagi baru Disoga.

Bermacam corak batik hasil karya Hj Karinah seperti batik Kembang Asem, batik Parang Kesuma, batik Parang Lunglungan, batik Kawung, dan masih banyak lagi.

Batik Tulis Banyumas

Selain sering mengikuti pameran baik di Desa, Kecamatan dan tempat lain, batik tulis asli karya Hj Karinah juga pernah dipesan oleh warga Australia. Selain pernah mendapatkan bantuan seperangkat alat membatik seperti canting dengan bermacam fungsi juga bahan baku seperti malam dan kain mori dari Disperindagkop Kabupaten Banyumas.

Sedangkan upaya pelestarian seni batik bagi para generasi penerus yang telah dilakukan seperti melalui kegiatan kursus mebatik bagi Ibu PKK Kecamatan Cilongok, PKK Desa Batuanten, maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah formal sepertidi SMP Muhammadiyah Cilongok di bawah asuhan Ibu Endang Yuwana, di SMP Terbuka, serta melalui kelompok kegiatan ibu-ibu lainnya.

Batik Tulis Banyumas

Dengan demikian, ketika batik Banyumas menjadi bagian dari eksistensi keberagaman batik Indonesia, maka kinerja dan pengabdian Hj Karinah di bidang pelestarian batik, perannya tidak bsia diabaikan begitu saja.(Hamidin Krazan)

Anda berminat? silakan kunjungi => http://www.infobisnispurwokerto.com/tag/batik-tulis/

Atau silakan hubungi: Bpk. Wisnu Pram 0281 577 9329 / 0818 0845 8583)


*****



Sumber: http://banyumasnews.com/2009/09/29/melongok-perajin-batik-tulis-banyumasan-di-cilongok/